Cinta Tuan Muda Arogan

Cinta Tuan Muda Arogan
Gombalan Qian


__ADS_3

"Kamu keganggu karna aku nggak penting kan buat kamu? Maaf aku bisanya cuma ganggu kamu" Vio masih berucap dengan nada ketus.


"Enggak, bukan gitu yang, tapi tadi emang lagi ada proyek besar yang aku kerjain" Qian mencoba memberi pengertian.


"Terserah"


"Udahan ya marahnya" Qian langsung memeluk sang istri ke dekapannya.


Para maid yang ada disana pun paham dan segera pergi dari dapur.


Qian merasa bajunya basah pertanda bahwa snag istri sedang menangis.


Ia melepas pelukan itu dan menangkup pipi sang istri.


Cup


Satu kecupan manis mendarat dibibir Vio


"Kok malah nangis sih, kan aku udah minta maaf" ucap Qian sembari menghapus air mata Vio dengan ibu jari nya.


"Kamu sih bikin aku sedih" ucap Vio disela tangisnya.


"Udah ya nangisnya, kan aku udah minta maaf"


Vio mengangguk meng iya kan. Ia segera mengusap sisa sisa air matanya yang menetes.


"Senyum dong" goda Qian.

__ADS_1


Bughh


Vio malah menghadiah i sang suami dengan pukulan di dadanya.


"Aduh aduh sayang, sakitt" Qian berakting.


"Hah? Mana yang sakit?" Vio mengusap usap dada sang suami.


"Disini, tapi tadi pas liat kamu nangis" gombal Qian sambil menunjuk tepat di letak hati nya.


"Cih gombal" kesal Vio sambil senyum malu malu.


"Nah gitu dong senyum"


"Eh kamu jam segini kok pulang sih mas?" Tanya Vio heran.


"Abisnya tadi kamu ditelpon nggak diangkat ya aku langsung pulang"


"Ya nanti kalau kamu ngambeknya lama nanti aku nggak dapet jatah" ingin sekali Qian mengeluarkan kata kata itu. Namun hanya ditahannya di dalam hati saja.


"Kamu ngapain kedapur?" Tanya Qian basa basi lagi.


"Emm ini anak kamu lagi pengen banget dibuatin martabak manis" ucap Vio sambil mengusap perut ratanya.


"Oh, ya udah kamu nonton tv sana gih, biar dikerjain sama maid"


"Iya mas" mereka berdua pun berjalan menuju ruang tengah.

__ADS_1


Sesampainya diruang tengah, Qian dikejutkan dengan papi Rifqi yang sedang menonton tv.


"Loh kok papi pulang?" Tanya Qian.


Papi Rifqi juga kaget melihat keberadaan sang putra.


"Nana pulanggg!!!" Belum sempat papi Rifqi menjawab namun sudah dikejutkan dengan suara sang anak perempuan Nana.


"Loh kok papi sama kakak tumben udah pulang?" Tanya Nana kaget.


Pasalnya setaunya 2 laki laki itu adalah seorabg pekerja keras dan disiplin. Terlihat aneh saja menurutnya jika sang papi dan kakak pulang di jam yang tak semestinya.


"Kalau papi sih pulang cepet karna ada urusan" jawab papi Rifqi santai. Padahal ia pulang cepat karna sangat merindukan sang istri.


"Kalau kakak tadi ada urusan penting banget malahan"


"Kok kakak sama papi bisa kompak gitu sih. Urusan apa emangnya?"


"Kepo!!" Entah kebetulan atau apa, papi Rifqi dan Qian menjawab bersamaan.


"Cih, sok sok an main rahasia rahasiaan" cibir Nana.


"Bocil sono cepet ganti baju, bau asem tuh kamu" ucap Qian mengusir sang adik.


"Apa sih, orang Nana wangi gini kok dibilang asem" sanggah Nana.


"Ada apa ini kok pada debat?" Tanya Mami Ara yang baru saja datang karna tadi ia ke kamar mandi.

__ADS_1


"Tuh mi, kak Qian ngatain Nana bau asem. Padahal Nana wangi gini dibilang asem" adu Nana.


"Ya udah, nggak usah dengerin omongan kakak kamu. Buruan ganti baju sana gih abis tu kita makan siang" Mami Ara memberi pengertian sang putri.


__ADS_2