
Apalagi ditambah Qian yang seolah memnyalurkan semua kasih sayang yang dimilikinya kepada Vio.
"Tetapi aku bingung dengan semuanya. Haruskah aku bersyukur karna suamiku menyayangiku? Atau aku harus bersedih karna suamiku masih menjalin hubungan dengan wanita lain?" Batin Vio berkecambuk.
Qian menghentikan laju mobilnya kala menyadari bahwa sang istri tengah menangis.
Ia segera melepas sabuk pengamannya dan milik sang istri.
Ia segera merengkuh tubuh mungil Vio kedalam dekapan hangat nya. Tangis Vio semakin menjadi kala Qian memeluknya.
Entah kenapa Vio menjadi cengeng seperti ini
"Menangislah sampai kau puas. Setelah ini jangan pernah menangis lagi"
"Aku janji, setelah ini kita akan hidup bahagia"
Vio mendongak
"Beneran?" Tanyanya
Qian mengangguk meng iyakan
"Kau berjanji akan memutuskan hubunganmu dengan kekasihmu itu?" Tanya Vio sekali lagi.
"Iya, aku janji. 2 hari lagi dia akan kembali ke negara ini dan aku pasti akan mengakhiri semuanya"
Qian melepaskan pelukannya dari sang istri kala merasa tangis Vio sudah reda.
"Sudah mendingan?"
Vio mengangguk mengiyakan sambil tersenyum malu malu.
Batinnya merutuki dirinya yang sangat cengeng seperti tadi.
__ADS_1
Qian pun melanjutkan laju mobilnya menuju hotel tempat mereka menginap.
Tampak Vio menyandarkan kepalanya di pundak sang suami yang sedang duduk bersandar diranjang sambil memainkan handphone nya.
"Mas, boleh aku minta 'itu?"
Qian mengerutkan keningnya
"Maksudnya?" Tanya Qian dengan mata masih fokus dengan handphone nya.
"Itu lohh"
Qian tampak berfikir sejenak,
Bibirnya tersungging senyum saat paham maksud sang istri. Ia meletakan ponselnya diatas nakas.
"Apasih, aku nggak paham" Qian berpura pura bodoh.
"Ini lho" ucap Vio sambil memegang 'kepemilikan sang suami dari balik boxernya.
"Ya ayo lah" jawab Vio mulai terpancing.
"Emm, besok aja deh. Aku lagi capek banget soalnya" Qian beralasan.
"Ya udah kalau gitu aku aja yang jadi pemimpinnya" Vio mencoba bernegosiasi.
"Tapi kan tetep aja capek" jawab Qian lalu segera merebahkan tubuhnya dan pura pura memejamkan mata.
"Massss ihh" Vio mengguncang bahu sang suami.
"...." Tidak ada respon dari Qian.
Vio memberenggut kesal
__ADS_1
Ia ikut merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut dengan kasar dan tidur dengan membelakangi sang suami.
Diam diam Qian membuka sedikit matanya melirik sang istri.
1 detik
2 detik
Rasa 'ingin Vio semakin besar saja. Ia membalik tubuhnya menghadap sang suami.
Tangannya bergerak menyusuri dada bidang sang suami.
Qian mati matian menahan hasratnya yang kian naik.
Vio menjadi kesal sendiri. Dengan segala inisiatifnya ia membuang selimut yang menutupi tubuh sang suami.
Tangannya mulai nakal melepas boxer milik sang suami dan satu kain lagi yang tersisa.
Vio kaget melihat pedang milik sang suami yang sudah siap tempur.
"Mass bangun, jangan pura pura tidur deh" kesal Vio.
Vio sendiri yang sudah tidak sabaran pun melepas semua pakaiannya dan memulai aksinya.
Qian membuka matanya saat merasakan sang istri benar benar sudah bertingkah konyol.
Merekapun menikmati malam itu
Beberapa hari kemudian,
Vio dan Qian kembali ke kota.
Kini setelah 2 bulan Mereka menikah, baik Qian dan Vio sudah saling menerima satu sama lain dan bersikap layaknya pasangan pada umumnya.
__ADS_1
Malam hari, dimeja makan
"Qian, Vio, minggu depan mami sama papi mau ngadain pesta dirumah ini" mami Ara membuka pembicaraan.