
Sella langsung membuka tali penyekap anak anak yang diculik dan membawanya pergi melewati pintu belakang agar para anak anak tak melihat darah berceceran di pintu depan.
Sella pun membawa anak anak itu ke panti asuhan tempatnya dirawat dulu.
" Kakak, tangan kakak terluka" seorang bocah melihat lengan Sellla mengeluarkan darah.
"Tidak apa apa, ini hanya sedikit lecet" ucap Sella.
"Adik adik baik baik disini ya, kakak pamit pulang" pamit Sella.
"Terimakasih kak" ucap para anak anak itu tulus sambil memeluk Sella.
Hal inilah yang disukai Sella. Ia tau dunia mafia sangat kejam dan dapat membahayakan dirinya sendiri. Namun semua itu terbayarkan kala melihat anak anak itu memeluknya dengan bahagia.
Sesampainya di mansion pun Sella mengendap ngendap masuk ke kamarnya.
"Darimana kau!" Suara barinton Vino mengagetkan Sella.
Sella mengusap dadanya menetralkan rasa kagetnya.
"Bukan urusanmu!" Sinis Sella sambil meninggalkan Vino.
Vino mencengkram pergelangan tangan Sella.
"Bau darah, kau habis membunuh orang?" Tanya Vino yang sebenarnya sudah tau apa yang istrinya lakukan diluaran sana.
"Kau terlalu mencampuri hidupku tuan Vino adira" ucap Sella menghempas tangan Vino.
Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dua bulan kemudian,,
__ADS_1
malam hari, tepat pukul 10 malam.
Sella terbangun dari tidurnya. entah kenapa ia sangat ingin makan nasi goreng pinggir jalan.
ia melihat ke arah samping. bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat suaminya tertidur pulas.
Sella segera mengambil dompet dan hpnya karna ia akan mencari makanan malam ini juga.
tak lupa ia juga ngambil jaket di walk in closet untuk menghalau udara dingin menusuk masuk ke kulitnya.
"mau kemana kau?!" suara dingin sesorang mengejutkan Sella.
"bukan urusanmu!" ketusnya sambil berjalan meninggalkan Vino.
srett
Vino langsung menarik dan mencengkram lengan wanita cantik itu.
"katakan dengan jujur mau kemana kau?!"
"Arsella Wijaya!!" Vino mulai menaikan suaranya.
"aku ingin nasi goreng pinggir jalan" ucap Sella menghempaskan lengan kekar itu.
"tidak usah keluar, besok saja" ucap Vino tak terbantah.
"terserah apa katamu. urusi saja urusanmu sendiri. jangan ikut campur urusanku"
"apa kau lupa bahwa kau istriku?!"
"cihh, istri?? sepertinya lebih cocok pemuas nafsu" sinis Sella dengan tawa hambarnya.
__ADS_1
"kau!!" Vino menuding tepat diwajah Sella.
"sudahlah, aku sedang malas berdebat" Sella meninggalkan Vino.
dengan cepat Vino mengambil kunci motornya dan segera menyusul sang istri.
"ayo!" ajak Vino sambil menarik pergelangan Sella.
"tidak usah, tidak perlu juga. jangan sok simpati padaku" ketus Sella balik.
"terserah, jika kau mau keluar, kau hanya bisa bersamaku. jika kau tidak mau, kembakilah ke kamar" ucap Vino tak terbantahkan.
"dasar manusia egois!" umpat Sella.
"aku memang egois dan kau harus terbiasa" jawab Vino enteng.
pagi harinya,,
Seperti biasa Sella tetap menjalankan kewajibannya dengan menyiapkan segala kebutuhan Vino.
Saat memasang dasi
"Kau tau tujuanku menikahimu?" Tanya Vino.
"Tidak tahu dan tidak penting juga untukku" jawab Sella santai.
"cih kau mau melawanku?" Vino mencengkram dagu Sella.
"Le pas kan" ucap Sella terbata bata.
Ia menghempas lengan kokoh Vino dari dagunya.
__ADS_1
"Singkirkan tangan busukmu itu dari diriku!!" Sella berteriak.
Vino hanya diam melihat ekspresi Sella yang terlihat berbeda. Sepertinya Sella lebih pemarah dari biasanya.