
"Makasih mas" ucapnya tulus.
Vio melepaskan pelukan itu
"Jangan sering sering seperti ini mas" cicit Vio lirih.
"Memangnya kenapa?"
"Kau taukan, diantara kita hanya aku yang mencintai. Aku tak mau perasaanku terlampau jauh. Hingga pada akhirnya aku tak bisa bangkit saat kau meninggalkanku" cicit Vio sambil menahan air matanya.
Qian menatap dalam manik mata sang istri
"Apa sebegitu besarkan cintamu padaku?" Tanya Qian.
Vio tersenyum getir
"Kau pasti tau sebesar apa cintaku tanpa harus aku jabarkan" jawab Vio pada sang suami yang seakan akan meremehkan cintanya.
"Bisakah kau mengajariku agar aku bisa membalas rasamu dengan sepadan?" Tanya Qian menatap manik sang istri.
"Maksudmu mas?" Tanya Vio bingung.
"Aku tak tau entah rasa seperti apa yang ada dihatiku untukmu, yang jelas aku slalu ingin berada didekatmu, aku ingin selalu melindungimu dan yang pasti hadirmu seakan membuatku lupa bahwa aku masih memiliki seorang kekasih" ucap Qian tulus.
__ADS_1
Hati Vio tersentuh mendengar pernyataan sang suami
"Apakah dengan itu kau menyimpulkan bahwa kau telah mencintaiku?"
Qian mengangguk
"Aku yakin bahwa ini cinta" jawab Qian yakin
"Jangan terlalu terburu buru mas, aku tak mau hanya dijadikan pelampiasan obsesimu. Jika kau benar benar mencintaiku, maka lepaskan kekasihmu itu"
Qian terdiam
"Kau diam? Hanya sebatas itukah cinta yang kau katakan tadi?" Vio tersenyum getir.
"Tidak apa, mantapkan dulu hatimu. Setelah itu baru kau putuskan apa keputusanmu. Tetap bersamaku atau meninggalkanku" Vio menepuk nepuk lengan Qian.
"Buruan duduk sini mas" ucap Vio yang membuat Qian tersadar dari lamunannya.
"I iya" entah kenapa perkataan Vio tadi membuat hati Qian tak nyaman.
"Jangan terlalu difikirkan, biarkan semuanya mengalir. Apapun keputusanmu nanti aku akan menerimanya dengan lapang dada" ucap Vio seakan menjawab semua kebimbangan dihati Qian.
"Secepatnya aku akan menyelesaikan urusanku dengan Sella (kekasih Qian)"
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu mas, aku hanya butuh sebuah bukti" jawab Vio yang membuat suasana ruangan itu semakin dingin.
Mereka berdua pun menghabiskan makanan itu dalam hening. Makan malam yang sudah dirancang sedemikian rupa ternyata tak sesuai dengan realita yang ada. Semuanya nampak mencekam, aura dingin dari 2 anak manusia itu saling memancar memecah keheningan.
Setelah selesai, Vio dan Qian pun memasuki mobil.
"Mas" panggil Vio pada sang suami yang masih fokus mengendarai mobil.
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku hamil?" Entah kenapa pertanyaan itu tiba tiba keluar dari mulut Vio.
"Memangnya apalagi yang harus aku lakukan?" Tanya Qian.
"Maksudku apa kau akan menerima anak kita nanti?"
"Apakah aku lelaki yang seburuk itu dimatamu?"
"Emm" Vio berfikir sejenak.
"Semenjak aku mengucapkan ijab qobul dihadapan papa, sejak itulah aku memutuskan untuk memilikimu seutuhnya, menjadikanmu menjadi tanggung jawabku yang akan kupikul seumur hidupku. Aku memang bukan orang baik, tapi dengan bersamamu aku akan merubah diriku sedikit demi sedikit menjadi lebih baik" ucapan Qian kali ini membuat hati Vio sedikit tersentuh.
Vio segera menatap keluar jendela kala ia merasa matanya sudah panas tanda akan keluar air mata.
Tess
__ADS_1
Ia mengingat semua momen indahnya bersama sang suami. sejak pernikahannya dengan Qian, Vio memang merasakan hidupnya semakin damai.
Apalagi ditambah Wian yang seolah memnyalurkan semua kasih sayang yang dimilikinya kepada Vio.