
"Biasanya apa? Kemarin nyuruh aku berubah, ini pas aku berubah malah ditumbenin" sungut Sella kesal.
"Oke oke, udah dong masak pagi pagi udah marah marah sih"
"Biarin, kamu sih bikin orang kesel aja. Cepet sana mandi ngapain masih tiduran" kesal Sella.
Setelah Vino selesai mandi, kini giliran Sella yang mandi bersiap akan bekerja.
"Sell, pasangin dasinya" teriak Vino dari luar walk in closet karna saat ini Sella berada didalamnya.
"Iya bentar"
Ceklekk
Sella membuka pintu itu
"Apa sih, teriak teriak nggak jelas" gerutunya sambil memasang dasi milik Vino.
"Loh kamu mau kemana?" Tanya Vino melihat Sella memakai setelan kerja.
"Ya kerja lah, mau ngapain lagi"
"Nggak! Mulai hari ini kamu nggak boleh kerja" tolak Vino mentah mentah.
"Terserah apa katamu, aku tetap akan bekerja" kekeh Sella.
__ADS_1
"Ya sudah lihat saja nanti apa yang akan kulakukan" ancam Vino.
"Lakukan saja apa maumu. Aku tidak peduli" ucap Sella melanjutkan dandanannya.
Sella yakin perusahaan tempatnya saat ini bekerja tidak akan semudah itu memecatnya atas mandat Vino karna mengingat banyak progres baik semenjak ia berada di perusahaan itu.
"Loh kamu mau kemana nak?" Tanya mama Diana melihat menantunya memakai setelan kerjanya.
"Sella mau kerja ma"
"Tapi bukankah lebih baik kau istirahat saja? Lihatlah perutmu sudah sangat besar. Pasti kau gampang lelah kan?" Mama Diana seolah mengerti.
" Tapi Sella ingin sekali bekerja ma, sayang sekali Sella pindah ke perusahaan itu baru beberapa minggu yang lalu" Sella beralasan.
"Ya sudahlah, yang penting jangan terlalu capek"
Mama Diana dapat melihat dengan jelas perbedaan menantunya. Dulu Sella selalu berwajah datar. Bahkan sama sekali tak pernah mau mengobrol dengan mama Diana.
Sella bahkan cenderung tidak ikhlas mengambilkan makanan untuk suaminya. Namun saat ini sudah berbeda. Mama Diana hanya mampu melihat tatapan teduh dari mata Sella.
"Ayo aku antar" ajak Vino.
"Tidak usah, aku bisa menggunakan taksi"
"Jika kau tidak mau ku antarkan maka kau akan diantarkan supir. Hanya itu pilihanmu"
__ADS_1
"Okey okey, aku berangkat dengan sopir. Lagi pula kantor kita berlawanan arah kan" Sella beralasan.
Vino mengangguk mengerti. Ia sudah mengatakan pada supir yang akan mengantar Sella agar menunggu wanita itu. Karna dengan rencananya dapat dipastikan Sella akan pulang cepat.
Sesampainya diperusahaan tempatnya bekerja, Sella dibuat kaget dengan pemecatan dirinya yang tiba tiba. Pikirannya langsung menuduh suaminya sebagai dalang ini semua.
Dengan bersungut sungut Sella keluar dari perusahaan itu. Ia melihat pak sopir dan mobil masih berada di depan perusahaan.
"Pasti dia merencanakan semuanya" geram Sella.
"Pak, antar aku ke kantor suami ku pak" ucap Sella pada pak supir.
Setelah sampai, Sella membuka pintu ruangan Vino dengan kasar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
brakk
"Vino!!" Teriaknya menggelegar memenuhi ruangan itu membuat sang empu menutup telinganya.
"Kamu kenapa sih teriak teriak nggak jelas gitu. Ini kan kantor" gerutu Vino.
Sella langsung mendekat ke arah meja kerja suaminya.
"Kamu!!!" Sella menunjuk tepat diwajah Vino yang membuat Vino memundurkan kursinya.
"Hustt, turunin dulu ini tangannya" Vino menyingkirkan jari Sella dari wajahnya.
__ADS_1
"Aaa bodo lah, sumpah kesel banget" Sella menghentak hentakkan kakinya kelantai.