
Matanya tak sengaja menatap seseorang yang begitu ia kenal sedang berjalan masuk ke toko jam tangan.
"Vino?" Gumamnya pelan.
Cepat cepat ia membayar belanjaannya lalu segera keluar dari mall itu.
Ia segera menyetop taksi.
Sesampainya di kost an kecil miliknya ia sedikit bisa bernapas lega.
"Huhh untung saja dia tak melihatku" gumam Sella.
"Maafin momy ya nak, tapi momy tidak ada pilihan lain selain ini" ucap Sella mengusap perut buncitnya.
Drttt
Drttt
Bunyi ponsel Sella
"Hallo, apa kau bisa menjalankan misi di alamat X?"
"Kau gila?! Aku sedang hamil!! Lagi pula aku sudah lama keluar dari mafia itu!" Kesal Sella pada seseorang.
"Kau yakin tak tergiur dengan misi ini? Jika berhasil aku akan memberimu 300 juta"
"Tidak terimakasih atas tawaranmu" ucap Sella menutup panggilan telepon itu.
"Apa dia sudah gila? Dia tau aku sedang hamil malah menawariku hal seperti itu" gerutu Sella.
Ia sudah tak mau lagi bergabung di dunia gelap itu. Walau ia hanya membunuh orang orang yang berbuat jahat dan misinya hanya mnyelamatkan tapi tetap saja itu membahayakan dirinya dan juga tentunya anaknya.
Ia sadar ternyata imbasnya bukan hanya pada dirinya saja. Ia tak mau orang terdekatnya tersakiti karna ulahnya.
Pagi hari, seperti biasa Sella menjalani rutinitasnya yakni bekerja.
Qian dan Vio telah mendapat informasi tentang orang yang diluhatnya semalam di mall.
__ADS_1
" Ja jadi dia benar kak Sella?" Vio kaget.
Vio langsung meminta Qian mengantarnya ke perusahaan sang kakak.
Tok tok tok
Vio mngetuk pintu ruang kerja Vino.
"Masuk"
"Bang Vino"
"Vio, tumben kalian kesini?" Tanya Vino melihat Vio dan Qian datang ke perusahaannya.
"Aku ada info tentang kak Sella bang" ucap Vio.
"Sella?" Vino mengangkat sebelah alisnya.
"Jangan pernah bahas dia lagi" lanjutnya.
"Kurasa tidak ada hal yang penting tentangnya"
Qian hanya menatap datar kakak beradik itu.
"Kak Sella hamil"
Deggg
Vino sedikit tersentak, namun ia segera menetralkan ekspresinya.
"Lalu?" Tanya Vino.
"Ish kau ini kak, dia hamil anakmu!" Kesal Vio.
"Darimana kau tau?"
"Kemarin malam aku melihatnya di mall dengan perut buncitnya. Lalu aku meminta mas Qian untuk menyelidikinya ternyata benar dia sedang mengandung"
__ADS_1
"Bisa saja dia bukan anakku"
Plakk
Vio memukul lengan kakaknya
"Cih, pengecut tidak mengakui anaknya sendiri" sinis Qian.
"Dimana dia sekarang?" Vino tak menggubris ejekan Qian.
"Sekarang dia bekerja di perusahaan S"
Vino mengangguk mengerti.
Ia melirik sang keponakan yang anteng di strollernya.
Ia mengangkat baby Arsen dari strollernya.
"Ayo main sama uncle"
"Baiklah, aku harus segera kembali ke perusahaan" ucap Qian.
"Kau disinilah dulu dengan Arsen, nanti aku akan mengantarmu pulang" ucap Vino pada sang adik.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan dulu" Qian keluar dari ruangan itu meninggalkan anak dan istrinya.
Siang hari,
Vino melajukan kendaraannya ke perusahaan S setelah mengantar sang adik dan keponakannya pulang.
Ia ingin memastikan dengan apa yang dikatakan sang adik.
"Ada yang bisa saya bantu tuan Vino?" Tanya reseptionist disana yang sangat mengenal Vino karna Vino juga menjalin kerjasama dengan perusahaan itu.
"Apa disini ada karyawan bernama Arsella Wijaya?" Vino to the point.
"Sebentar saya check dulu tuan" reseptionist itu mencari di komputernya.
__ADS_1