
"Kamu lupa kalau hari ini kamu nikah?"
Mendengar kata 'nikah' membuat Vio langsung membuka matanya.
Ia langsung berlari ke kamar mandi yang membuat sang mama geleng geleng kepala dengan tingkahnya.
Vio pun segera didandani oleh Mua yang sudah dipilihkan sang mama.
Pastinya Mua itu sangat profesional dalam merias.
Nampak ia di sanggul dan dirias dengan tema solo putri.
Ia nampak begitu elegan dengan kebaya putih yang melekat ditubuhnya.
Setelah selesai dirias, bang Vino dipanggil oleh sang mama.
Sama seperti saat lamaran dulu, bang Vino menggendong adiknya dari lantai 3 dengan melewati tangga.
Vino bahkan menggandong adiknya sampai halaman rumah karna acara diadakan secara outdoor dihalaman rumah.
(Karna depan rumah Vio ada tangga sebelum masuk rumah, jadi Vio nggak bisa turun tangga karna terlalu curam. Alhasil Vino lah yang menggendong sang adik.
Para tamu undangan dibuat terkesiap kala melihat kakak sang mempelai menggendong sang mempelai wanita melewati tangga.
Vino menuruhkan tubuh mungil sang adik tepat di dekat kursi ijab qobul.
"Makasih bang" ucap Vio.
__ADS_1
Vino mengangguk, ia melihat mata sang adik yang sedikit berkaca kaca.
"Udah mau nikah masak nangis sih" Ucap Vino mengusap pundak sang adik.
"Udah gih duduk, calon suamimu udah deg deg an. Nanti kalau kelamaan dia jadi lupa namamu buat ijab qobul" goda sang kakak.
Vio pun segera duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Kedua mempelai siap?" Tanya penghulu.
"Siap" jawab keduanya kompak yang membuat papi Rifqi, papa Rico dan bang Vino tersenyum.
Papa Rico langsung menjabat tangan Qian.
"Ananda Arqian Yulandres bin Rifqi Yulandres, saya nikahkan dan kawinkan dengan anak saya Viona Adira binti Rico Adira dengan mas kawin seperangkat alat sholat, perhiasan 30 gram, dan uang tunai 500 juta rupiah dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sahhh"
"Alhamdulillah"
Sang penghulu pun memimpin doa.
Vio segera mencium tangan sang suami sedangkan Qian mencium dahi wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Pasangan pengantin itu saling memasangkan cincin dan juga menandatangani berkas berkasnya.
__ADS_1
Mereka berdua berfoto bersama memamerkan cincin pernikahan dan buku nikahnya.
Vio memeluk tubuh sang mama
"Makasih ma udah besarin Vio sampai Vio menjadi seperti sekarang"
Vio beralih memeluk sang papa
"Makasih pa udah didik Vio dan sayang sama Vio"
Papa Rico mengangguk
"Berbahagialah dengan suamimu nak"
Kini Vio memeluk tubuh sang kakak.
Ia membenamkan wajahnya dalam dalam ke dalam dada bidang sang kakak.
Air matanya pecah saat memeluk sang kakak.
Sedari kecil ia memang dekat dengan sang kakak. Setiap sang mama menemani papanya keluar kota, hanya kakaknya lah yang selalu perhatian padanya.
Kakaknya bagaikan pahlawan untuknya karna selalu ada untuk Vio. Vio hanya mampu mencurahkan isi hatinya dengan sang kakak. Seringkali Vino menghajar orang orang yang berbuat buruk pada sang adik.
"Makasih abang selalu ada buat Vio selama ini. Vio sayang sama abang" tangisnya.
"Iya abang juga sayang sama Vio. Sekarang Vio udah nikah, jadi Vio harus nurut sama suami Vio. Dan satu lagi, walaupun kamu udah nikah kalau ada masalah ngomong sama abang. Kita cari jalan keluarnya bersama sama" ucap Vino.
__ADS_1