
"Ngomong apa? Ngomong aja, aku sama mas Qian siap dengerin kok. Siapa tau kita juga punya solusi"
Mereka semua pun duduk dikursi disana.
"Emm sebenernya aku sama asisten Andy udah menikah sebelum kejadian malam itu" ucap Kia.
"Hah?! Gimana bisa?!" Vio kaget.
Kia pun menceritakan rentetan peristiwa yang sebenarnya pada sang sahabat.
"Ja jadi kalian sudah sah menikah?"
Kia mengangguk tanda membenarkan ucapan Vio.
"Oh astaga,, jika masalahnya seperti ini kau tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan cara membuat keadaan seakan akan anak yang dikandungmu anak Aldo"
"Satu hal yang perlu kau tau Kia, dengan membuat keadaan seperti ini justru kau akan semakin menjauhkan anakmu dari ayahnya. Bukankah saat kelahirannya nanti harus ada andil Andy untuk dokumen dokumen anakmu. Dan satu lagi, jangan memperumit keadaan dengan dalih untuk menjauhkan dirimu dari Andy" Qian membuka suara.
"Benar kata suamiku Ki, bagaimanapun asisten Andy harus tau bahwa anak yang kau kandung itu anaknya. Untuk masalah kau tidak mau bersamanya itu masih bisa dibicarakan lagi anatara kalian berdua pribadi. Mungkin kau bisa membuat perjanjian untuk bercerai setelah melahirkan jika kau benar benar tidak bisa bersamanya lagi. Tapi kau harus tau bahwa perceraian memiliki dampak buruk bukan hanya padamu, tapi juga dengan anakmu" Vio menasehati.
"Baiklah, aku akan memikirkannya lagi" Kia pasrah.
Malam harinya...
Tepat pukul 1 dini hari
Dirumah Vino,
"Sayang, bangun" Sella membangunkan sang suami.
"Hmm iya" Vino masih tetap memejamkan matanya.
"Sayang, bangun"
__ADS_1
Vino mengerjapkan matanya bangun
"Ada apa yang?" Vino memeluk tubuh istrinya itu.
"Perut aku sakit yang" ucap Sella tiba tiba.
Vino langsung melepaskan pelukan itu.
"Hah? Kenapa emangnya kok bisa sakit?"
"Kayaknya mau lahiran deh yang"
"Hah? " Vino langsung terbengong.
"Terus aku harus gimana?" Vino bingung.
"Ya bawa aku ke rumah sakit yang"
"Oke oke, bentar" Vino melesat ke walk in closet dan segera mengganti bajunya.
"Ganti baju dulu ya yang" Vino menyerahkan sebuah dres pada sang istri.
Sella bangun dari ranjang hendak mengganti baju di walk in closet.
"Mau kemana? Ganti disini aja"
"Tapi..."
"Kenapa? Malu? Aku aja udah sering ngerasain yang, masak masih malu sih" Vini berucap vulgar.
"Ish kamu kalo ngomong mesum banget"
Sella pun segera mengganti bajunya.
__ADS_1
Vino menyiapkan beberapa baju ganti untuk Sella yang belum Sella siapkan sebelumnya.
"Udah yuk langsung kerumah sakit aja"
"Iya"
"Aku gendong ya?" Tawar Vino.
"Nggak usah yang, aku masih kuat jalan"
Merekapun berjalan ke ruang tengah
"Kalian mau kemana?" Tanya mama Diana yang sehabis dari dapur untuk mengambil minuman.
"Mau kerumah sakit ma, kayaknya Sella mau lahiran deh. Soalnya perut Sella sakit" jawab Sella.
"Tadi keluar flek belum?" Tanya mama Diana.
"Iya ma, tadi juga udah keluar flek"
"Oh itu bener mau lahiran. Tunggu 5 menit, mama sama papa ikut"
Mama Diana berlari menuju kamarnya dan segera membangunkan sang suami.
5 menit kemudian papa Rico dan mama Diana sudah siap berangkat ke rumah sakit bersama Sella dan Vino.
Sesampainya dirumah sakit,,
Sella langsung ditangani oleh dokter kandungan Sella.
Beberapa jam kemudian,,
Jam menunjukan pukul 6 pagi,,
__ADS_1
Perut Sella bertambah mulas sejak tadi.
"Sayang, sakitt" keluh Sella pada sang suami saat kembali merasakan kontraksi.