
"Aaa bodo lah, sumpah kesel banget" Sella menghentak hentakkan kakinya kelantai.
Dengan penuh amarah dan kekecewaannya Sella keluar dari kantor Vino.
Sella segera menyetop taksi karna tadi ia menyuruh sopir untuk pulang lebih dulu.
"Sell, kamu kenapa? Aku bisa jelasin dulu alesan aku" ternyata Vino mengikutinya.
Sella segera masuk ke taksi, namun tangannya dicekal oleh suaminya.
"Lepasin nggak!!"
"Nggak sebelum kamu dengerin penjelasan aku"
Sella menghempas lengan kekar pria itu.
"Terserah!! Puas kamu sekarang!!" Sella langsung memasuki mobil itu.
Ia merasa kecewa dengan suaminya yang dengan se enak jidatnya menbuatnya tak lagi bekerja disana.
5 bulan Sella bergabung dengan perusahaan itu sampai akhirnya ia bisa dipindah ke kantor pusat dan mendapatkan posisi dan gaji yang lumayan.
Tujuan Sella kini adalah Villa di pinggiran kota. Villa itu adalah milik papi Rifqi. Sella sudah meminta izin untuk tinggal di Villa itu semalaman.
Ia berjalan memasuki Villa yang mewah dengan pemandangan yang enak dipandang serta udara yang sejuk.
Ia segera mencari kamar disana dan segera mengistirahatkan tubuhnya.
Bahkan Sella menolak makanan yang ditawarkan oleh para pelayan disana.
__ADS_1
Sella menghela napas sambil menatap langit langit kamar.
Menurutnya Vino terlalu gegabah dalam mengambil keputusan tanpa bertanya dahulu apa penyebab ia mempertahankan pekerjaan itu.
Tak terasa matahari sudah menghilang. Kini hanya tersisa gelapnya malam.
Sella sedang berada di balkon ditemani segelas susu kehamilannya.
Ia menyesap sedikit demi sedikit susu itu sambil menikmati suara jangkrik yang saling bersahutan membelah kesunyian.
Mbremmmm
Terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan Villa itu.
Sella sudah menduganya. Pasti itu adalah suaminya.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar terbuka. Nampaklah Vino dengan wajah kusutnya.
Ia berjalan tanpa kata sepatahpun. Ia langsung merebahkan tubuhnya diranjang dan menutup dirinya dengan selimut tanpa menyambut ataupun mengucap sepatah kata pun.
Huhh
Vino menghela napasnya melihat sang istri yang sangat terlihat menghindarinya.
Pagi hari Vino lebih dulu bangun. Ia segera membersihkan dirinya. Kebetulan hari ini weekend jadi ia tak berangkat ke kantor.
Sayup sayup Sella mendengar suara gemericik air.
Ceklekk
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka. Vino menatap ke arah sang istri yang sedang memainkan ponselnya.
Ia mendekat ke arah Sella niat ingin menjelaskan alasannya.
"Aku ingin menjel..."
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan" potong Sella lalu beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada dimeja makan.
"Sell, aku tidak bermaksud..."
"Apapun alasanmu kamu tidak berhak memutuskan apa yg ada dihidupku tanpa bertanya dahulu" potong Sella kesekian kalinya.
Ia berlalu memasuki kamarnya. Ia segera mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar kamar.
"Sel, kamu mau kemana?" Tanya Vino.
"Apakah diriku ini terlihat penting?" Sinis Sella keluar dari Villa itu.
Vino segera menarik Sella dan memasukannya di mobilnya.
Sella tidak memberontak sama sekali.
Mobil pun melaju ke kediaman Vino.
Sella masih tetap diam, ia berjalan memasuki mansion ia hanya menyapa dengan senyuman pada mama Diana dan papa Rico yang sedang duduk diteras rumah.
Kedua mertua itupun sadar dengan perubahan sikap sang menantu. Mereka tau pasti ada yang tidak beres diantara Sella dan Vino.
__ADS_1
Sella mengusap perut buncitnya itu.
"Maafin mom ya belum bisa kasih yang terbaik buat kalian" ucapnya pada kedua anaknya.