Cinta Tuan Muda Arogan

Cinta Tuan Muda Arogan
Sebenarnya Apa Maumu?!


__ADS_3

"loh, kamu nggak beli tas juga nak?" tanya papa Andre yang baru saja ikut menimbrung.


"hehehe, enggak pa" jawab Kia cengengesan.


"ya sekali kali beli lah nak, buat apa Andy kerja keras kalo bukan buat nyenengin kamu sama anak kalian. iya kan An?" pandangan ayah Andre beralih menatap sang putra.


"iya pa"


"hehehe, kapan kapan aja deh pa. lagian juga mending uangnya disimpen buat biaya persiapan lahiran nanti" ucap Kia yang membuat ayah Andre menggeleng gelengkan kepalanya dengan pemikiran sang menantu yang masih saja memikirkan biaya persalinan padahal jelas jelas Kia tau harta milik suaminya tak akan habis 7 turunan.


wkwk


Kia pun segera kembali ke kamar dan segera menyandarkan dirinya disofa kamar.


"capek?" tanya Andy.


"lumayan" jawab Kia sembari mengusap perut buncitnya.


"kenapa tadi kau tidak membeli tas seperti mama?" tanya Andy pada sang istri.


"enggak ah, harganya mahal mahal. sayang banget uangnya, mending ditabung" jawab Kia enteng.


"kan aku udah ngasih kamu blackcard, ngapain mikirin harga?"

__ADS_1


"ya tetep aja. harga barang di store itu mahal mahal. buat beli tas kaya yang biasa aku pakai juga bisa dapet satu troly" canda Kia sambil terkekeh.


"kamu itu istriku, memang sepantasnya kamu memakai barang branded. apa kata orang nanti kalau mereka melihat tasmu hanya berharga ratusan ribu saja"


"huh, istri?" Kia sedikit tertawa hambar.


"waktu kita tidak banyak, hanya tersisa beberapa bulan saja. bukankah terlalu berlebihan jika kau membelikan sesuatu barang mahal untuk calon Mantan Istrimu ini?" Kia menekankan kata katanya.


Andy menaikan dagu Kia dengan telunjuknya hingga wajah sang istri mendongak menatapnya.


"kenapa kau berkata seperti itu?"


"loh, memangnya apa yang salah dari ucapanku?" tanya Kia balik.


"lalu sampai kapan kita akan terus menunda untuk membahas ini semua? sampai anak ini lahir? sampai pacarmu mendesakmu untuk menikahinya? hah?" Kia menaikan nada bicaranya.


"tutup mulutmu nyonya Kiana!" bentak Andy balik karna tak suka istrinya membentaknya.


"kenapa aku harus menutup mulutku? bukankah benar pernikahan kita ini hanya karna rasa tanggung jawab!"


"Diam!" bentak Andy keras membuat Kia langsung menutup mulutnya.


Andy menetralkan nafasnya yang memburu karna emosi.

__ADS_1


"maaf sudah membentakmu" Andy membawa tubuh Kia kedalam pelukannya.


hati Kia tercabik cabik, ia bimbang dengan sikap suaminya yang seolah tak ingin melepasnya namun terkadang juga suaminya bersikap kasar seolah melempar Kia agar menjauh darinya.


Andy melepaskan pelukannya dan melihat wajah sang istri yang sudah bersimbah air mata.


"kenapa malah menangis?"


"sebenarnya apa maumu Andy, kadang kau bersikap seolah kita akan bersama selamanya. tapi terkadang kau juga bersikap seolah aku adalah musuhmu"


"apa maksudmu?"


"apakah tidak ada sedikitpun cinta untukku dihatimu? apakah tidak ada setitik pun tempatku dihatimu?" tanya Kia to the point.


"Kia,," Andy menekankan kata katanya.


"jawablah An, aku memerlukan jawabanmu. jawabanmu hari ini akan menentukan langkah apa yang akan ku ambil setelah ini"


"sudahlah, jangan bahas ini lagi. lebih baik kau istirahat, aku mau keruang kerja dulu" Andy mengalihkan pembicaraan lalu segera keluar dari kamar.


sepeninggal Andy, Kia tersenyum miris.


"diammu adalah jawaban yang sesuangguhnya. maafkan ke egoisan bunda nak. sepertinya kalian memang harus berpisah" ucap Kia mengusap perut buncitnya.

__ADS_1


saat berdiri dari duduknya tiba tiba Kia merasakan kepalanya pusing dan terasa berputar.


__ADS_2