
"Kita mandi bareng" ucap Qian tanpa basa basi.
"Hah yang bener aja" kesal Vio.
"Ya bener lah Vio"
Qian segera mencium bibir istrinya,
Mereka pun melakukannya di bathup.
Setelah selesai, Qian menggendong istrinya yang sudah terkulai lemas setelah ia gempur berkali kali.
Ia segera membantu sang istri memakai pakaiannya.
"Turun yuk, udah waktunya makan malam" ajak Qian.
Vio mengangguk, ia bangun dari pembaringannya.
Ia menggandeng tangan sang suami saat menuruni tangga.
Qian sempat tersentak dengan kelakuan sang istri, namun ia membiarkannya.
"Telat lagi datengnya?" Tanya papi Rifqi.
Pasalnya anggota keluarga yang lain sudah menghabiskan makanannya masing masing.
__ADS_1
"Tadi ketiduran pi" jawab Qian santai.
Papi Rifqi paham kemana arah pembicaraan sang anak.
"Hm, kalian boleh melakukannya tapi jangan pernah sampai lupa waktu. Kasian Vio" ucap Mami Ara.
"Vio nggak papa kok mi" jawab Vio
"Yakin?" Vio mengangguk.
"Ya udah, buruan makan gih"
Vio pun segera mengambilkan makanan untuk sang suami.
Setelah selesai makan, Vio dan Qian kembali ke kamarnya.
"Benarkah?" Tanya Qian yang membuat Vio mengangguk.
"Baiklah, besok sepulang kerja kita langsung kesana" Qian memutuskan.
Pagi hari,
Seperti biasa, kedua insan itu langsung bersiap siap untuk berangkat kerja.
Vio juga sudah membawa baju gantinya dan juga suaminya.
__ADS_1
"Mi, nanti malem Qian mau makan malam dirumah papa Rico sekalian nginep karna Vino resmi diangkat menjadi CEO"
Mami Ara mengangguk mengerti,
Setelah selesai sarapan, Vio dan Qian pun berangkat ke kantor.
Sesampainya kantor, Qian dan Vio menuju ruang kerja nya masing masing.
Jam makan siang
"Pengumuman, panggilan untuk Viona Adira dan Kiana maharani Dewi untuk datang keruang meeting karna akan diadakan meeting dadakan" suara dari pengeras suara yang berada dipojokan ruangan.
Vio dan Kia, keduanya berlari lari menuju ruang meeting.
"Kita akan mendapat investor besar dari perusahaan asing, tapi mereka meminta sebuah produk dengan model dan kualitas yang lebih bagus dari produk kita sebelumnya" ucap asisten Andy membuka rapat itu.
Para peserta meeting pun berdiskusi tentang produk baru yang akan mereka buat.
"Bagaimana pendapat anda nona Vio?" Tanya asisten Andy formal.
"Emm sebenarnya saya kurang setuju. Sepertinya tehnik pemasarannya masih kurang menarik perhatian para konsumen. Apalagi saat ini belanja online sedang menjadi trend. Bagaimana jika perusahaan kita juga membuka lapak online agar para karyawan seperti saya bisa membeli produk itu dengan mudah tanpa harus mengeluarkan waktu untuk berbelanja" Vio memberi usul.
"Bagaimana pendapat anda nona Kiana?"
"Emm sebenarnya saya setuju dengan saran nona Vio, selain efisien waktu juga efisien untuk keuangan kita karna tak perlu membayar pajak. Tapi bukankah sebaiknya kita juga melakukan penjualan ofline seperri distribusi ke mall mall maupun minimarket. Karna kan tidak semua orang bisa menggunakan cara online. Seperti beberapa orang tua bahkan beberapa remaja yang tak memiliki aplikasi maupun nomor rekening. Selain itu agar produk kita lebih tersebar luas, sehingga para konsumen lebih mudah menemukan produk kita. Oh ya, satu usulan lagi. Lebih baik kita mengendorse produk kita pada influencer yang sedang viral yang membuat nama produk kita semakin melambung tinggi"
__ADS_1
Asisten Andy mengangguk mengerti,