
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Terserah apapun pendapatmu tentangku. Sekarang istirahatlah" Vino membawa istrinya itu kedalam dekapan hangatnya.
Tak dapat dipungkiri, rasa cinta sudah mulai tumbuh diantara mereka.
Hanya saja ego masing masing yang sama besar membuat mereka mengabaikan hal itu. Padahal hal itu juga termasuk salah satu pondasi kuat didalam sebuah rumah tangga.
Merekapun terlelap dan tenggelam dalam pikiran masing masing.
Pagi hari,,
Sella lebih dulu terbangun dari tidurnya.
Ia menatap wajah tampan suaminya yang masih terlelap.
Ia mengusap rahang kokoh pria tampan itu.
Pikirannya berkecambuk, akalnya menyuruhnya untuk pergi jauh meninggalkan Vino. Namun hatinya menyuruhnya tetap tinggal bersama dan membangun semuanya dari nol kembali.
Ia beranjak dari ranjangnya,
Ia turun ke lantai bawah, tepatnya di dapur.
Ia melihat mama Diana memasak dibantu para pelayan. Ia sempat kagum. Seorang nyonya besar memasak? Pikirnya.
"Loh, Sella? Kamu ngapain berdiri disitu?" Mama Diana menghampiri menantunya itu dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.
"Kamu duduk disini aja, jangan capek capek" ucap mama Diana.
Beliau sendiri pun enggan menyebut Sella hamil sebelum Sella ataupun anaknya mengatakan dengan sendirinya. Ia takut malah membuat tambah rumit urusan anak dan menantunya.
__ADS_1
"Nggak papa ma, Sella pengen ikut bantuin masak. Sella kan nggak tau makanan kesukaan suami Sella" jawabnya. Ia tak mungkin menyebut suaminya hanya dengan nama tanpa embel embel 'mas', 'kak' atau apalah itu didepan sang mertua.
"Vino tuh makanan kesukaannya sederhana banget. Cuma sayur sup aja"
"Oh, "Sella ber oh ria.
"Terus ini mama mau masak apa?" Tanya Sella sambil berjalan mendekat ke dapur itu.
"Oh ini mama cuma mau masak nasi goreng sama goreng telur aja sih"
"Tapi kok pake batu kayak gini?" Sella bingung melihat lempengan batu berbebtuk piring.
"Oh ini namanya cobek buat ngulek bumbu. Soalnya menurut mama lebih sedep gini masakannya dibanding blender"
"Sella boleh bantuin nggak ma?"
"Eh ngga usah, nanti kamu capek"
Sella pun langsung mulai mengulek bumbu itu.
"Bener diginiin kan ma?" Tanya Sekka memastikan.
"Iya, bener gitu"
Sekarang sangat terlihat aura emak emak yang dimiliki Sella.
Seorang wanita hamil besar memakai daster rumahan dan sedang mengulek bumbu dengan satu tangan sedangkan tangan satunya berada dipinggangnya.
"Udah halus ma" ucap Sella ketika menyelesaikan masakannya.
__ADS_1
"Oh ya udah kamu duduk istirahat dulu"
Sella pun menurut, membawa 2 bayi sekaligus diperutnya membuatnya sangat cepat lelah.
Setelah dirasa cukup Sella kembali ke kamarnya
"Sella ke kamar dulu ya ma, bangunin suami Sella"
"Iya, naik lift saja. Jangan naik tangga!" Mama Diana memperingati.
"Iya ma" Sella berjalan menuju lift.
Sesampainya dikamar Sella segera membangunkan sang suami.
"Vino, bangun"
"Hmm, iya sebentar, 5 menit lagi"
"Vin, bangun udah siang ini" kesal Sella.
Dengan malas Vino membuka matanya.
"Buruan mandi gih, airnya udah aku siapin"
Vino mengerjapkan matanya berkali kali menyadarkan apa yang baru saja diucapkan oleh sang istri.
"Ini beneran Sella?" Tanya nya sekenanya.
"Ya iyalah kamu kira siapa?!" Kesal Sella.
__ADS_1
"Tumben banget, biasanya...."
"Biasanya apa? Kemarin nyuruh aku berubah, ini pas aku berubah malah ditumbenin" sungut Sella kesal.