
Asisten Andy hanya diam. Dalam hatinya mengumpat habis habisan istri tuannya itu.
"Eh nggak usah malah bikin repot nanti" jawab Kia sungkan.
"Nggak papa kan asisten Andy?" Tanya Vio pada asisten suaminya itu.
"Tidak masalah nona"
"Eh, nggak usah repot repot. Nih taksi online pesenan aku juga udah dateng" kilah Kia kala melihat ada raut wajah tidak rela diwajah tampan asisten Andy. Padahal sebenarnya ia belum memesan taksi online.
"Oh ya udah kalau gitu"
"Okey, aku pamit dulu ya. Byee" Kia meninggalkan rumah megah itu.
Ia baru saja memesan taksi online untuk dirinya.
15 menit ia menunggu akhirnya taksi online pesanannya datang.
....
Malam hari dikamar Qian dan Vio,,
"Mas, kamu ngapain?" Tanya Vio saat melihat sang suami yang duduk disofa kamar dengan mata fokus dengan laptopnya.
"Aku lagi ngerjain dokumen kantor"
"Buruan tidur yuk mas, aku udah capek banget" keluh Vio.
" Kamu tidur duluan aja, nanti kalau aku udah selesai nanti aku susul"
"Tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak kamu peluk mas" rengek Vio sambil berjalan lalu duduk tepat disamping Qian.
"Bentar 15 menit lagi, tanggung banget ini"
__ADS_1
"Ya udah deh" pasrah Vio.
Ia menyenderkan kepalanya dipundak sang suami.
Tangannya bergerak mengusap usap perut rata nya itu.
Entah kenapa, kantuknya sudah tak tertahan lagi. Perlahan Vio memejamkan matanya.
15 menit berlalu,
Qian bernafas lega saat pekerjaannya telah selesai.
Ia melihat ke pundaknya yang sedang disenderi kepala sang istri.
Qian kaget melihat Vio yang sudah tertidur pulas disampingnya.
Ia segera mematikan laptopnya lalu segera mengangkat sang istri dan memindahkannya ke ranjang.
Pagi hari
Qian lebih dulu bangun dari tidurnya. Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tok
Tok
Tok
Belum selesai acara mandi Qian namun sudah diganggu dengan suara ketukan pintu.
"Mas bukak mas cepet" teriak Vio dari luar kamar mandi.
Qian pun segera memakai handuknya dan membukakan pintu.
__ADS_1
Belum sempat Qian bertanya, Vio lebih dulu menerobos masuk dan segera memuntahkan cairan bening di washtafel kamar mandi.
Qian yang melihat istrinya muntah muntah pun memijat pelan tengkuk sang istri.
"Udah mendingan?" Tanya Qian pada Vio yang sudah menyelesaikan muntahannya.
Vio mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Ya udah hari ini kamu istirahat aja, nggak usah ke kantor" saran Qian.
"Nggak mau massss, aku pengen ke kantor"
"Ya tapi kan kamu mual mual gini"
"Aku udah nggak papa kok mas, aku ke kantor ya" pinta Vio merengek.
Huhh
Qian menghembuskan napasnya pelan. Istrinya ini memang sangat keras kepala.
"Kamu inget kan kalau kamu lagi hamil. Aku nggak mau nanti kamu kecapekan. Aku takut kalo terjadi sesuatu sama kamu juga anak kita. Kamu paham kan maksud aku?" Qian memberi pengertian sang istri.
"Tapi aku pengen ikut ke kantor" rengek Vio mulai meneteskan air matanya.
"Hari ini aja kamu nggak ke kantor, lihat nih wajah kamu pucet gini" Qian mengusap air mata yang menganak sungai dipipi sang istri.
"Ya udah deh aku nggak ke kantor hari ini, tapi janji kamu nggak boleh macem macem" pinta Vio.
"Iyaa, lagipula aku juga mau macem macem gimana"
"Ya siapa tau aja kamu....."
"Sttt" Qian meletakan telunjuknya di bibir sang istri.
__ADS_1