
"Mungkin ini semua terlalu cepat jika dikatakan 'cinta' namun nyatanya hatiku selalu mengatakan bahwa ini memang 'cinta'. Satu hal yang perlu kau tau, semua hal yang berada di dekatku dan membuatku nyaman, maka aku akan mengikatnya selamanya bersamaku. Aku yakin kau pasti paham dengan hal itu"
"Ja jadi kau benar benar mencintaiku?"
"Tidakkah kau melihat segala kasih sayangku? Lalu kalau kau pikir, apa aku dengan mudahnya menikahimu secara tiba tiba tanpa pertimbangan apapun sebelumnya bahkan mengikatmu dengan menjadikanmu ibu dari anak anakku?"
Sella kembali memeluk tubuh tegap itu.
"Terimakasih" ucap Sella tulus.
2 minggu kemudian,
Vino mengadakan acar mitoni untuk sang istri
Dikediaman Yulandres
"Masss bantuin aku sini!!" Teriak Vio pada sang suami yang masih berada di walk in closet.
"Gimana? Bantu apa?"
"Ini, pakein baju buat arsen dulu. Aku belum selesai dandannya" ucap Vio dengan beberapa roll di rambutnya.
"Terus bajunya yang mana?" Tanya Qian.
"Itu, ada di dalem lemari. Warna putih"
"Oh okey"
"Arsen diem disini dulu ya, papa mau ambil baju kamu dulu" ucapnya pada sang anak.
__ADS_1
"Pa pa pa" celoteh bayi gembul yang menginjak usia 4 bulan itu.
Belum sempat meninggalkan sang putra, baby Arsen lebih dulu menangis.
"Hmmm kenapa malah nangis sih anak ganteng papa?, Sini papa gendong. Cup cup cup" Qian mengangkat sang putra yang masih berbalut handuk lembut itu.
Qian melangkahkan kakinya menuju walk in closet sambil menggendong baby Arsen sambil mencari baju yang dimaksud Vio.
Aura keBapack an Qian sangat terlihat disini.
"Sayang, mana bajunya? Nggak ada dilemari" teriak Qian.
"Ada di dalem lemari itu, coba cari lagi"
"Nggak ada yang, beneran deh"
Vio mendengus kesal
Ia melangkahkan kakinya ke walk in closet menyusul Qian.
"Ini apa?" Vio menyerahkan baju yang ia maksut.
"Eh, kok ada? Tadi beneran nggak ada"
"Makannya kalo nyari baju itu pake perasaan mas" kesal Vio.
"Sini biar Arsen aku aja yang makein baju" Vio mengambil baby Arsen dari gendongan papanya.
Huaaaaaa
__ADS_1
Baby Arsen seketika langsung menangis saat berada digendongan Vio.
"Loh kok malah nangis sih, kan sama mama"
"Pa pa pa" ucapan Baby Arsen seakan memberikan sinyal bahwa bayi tampan itu hanya ingin berada digendongan papa nya.
"Oh maunya sama papa? Ya udah sini sama papa" Qian mengambil kembali Arsen dari gendongan Vio.
"Ya udah biar Arsen aku aja yang makein baju, kamu lanjut dandan sana gih"
"Ya udah deh" Vio pun melanjutkan dandannya sedangkan Qian langsung memakaikan baju untuk sang putra.
Mereka memang sengaja tidak menggunakan jasa baby sitter karna mereka ingin melihat dan mengawasi perkembangan sang putra.
"Udah selesai belum dandannya?" Tanya Qian setelah 30 menit berlalu.
"Bentar, ini tinggal pake lipstik doang"
"Hmm kebiasaan" gumam Qian.
"Mama kalo dandan lama banget ya"ucapnya pada sang putra.
"Ma ma ma"
"Iya, mama kamu itu. Dari belum ada kamu sampe kamu udah gemes gini mama kamu dandannya masih tetep aja lama" adunya pada snag putra.
"Udah yuk berangkat" ucap Vio yang sudah rapi.
"Nih, Arsen sama mama dulu ya kan papa nyetir mobil" ucap Qian hendak menyerahkan sang putra ke Vio.
__ADS_1
Wajah bayi itu mulai berubah menandakan akan menangis.