
Sesampainya di depan Vio, Sella langsung bersimpuh dihadapan wanita hamil itu.
"Eh, kamu kenapa kak?" Vio kaget melihat kakak iparnya yang bersimpuh dihadapannya.
Para keluarga pun juga terkejut dengan apa yang dilakukan Sella.
"Maafkan atas semua perbuatan burukku padamu, aku sangat menyesali semuanya. Apa kau bersedia memaafkanku?" Sella berucap dengan tulus.
Dengan susah payah Vio memegang pundak Sella dan mengajaknya berdiri.
"Kau ini berkata apa sih kak? Aku sudah memaafkanmu dari dulu" jawab Vio tulus.
Seketika air mata Sella luruh diwajah cantiknya.
Vino yang melihat apa yang dilakukan istrinya pun juga sempat kaget.
"Ternyata dia benar benar melakukannya" batin Vino.
"Terimakasih" ucap Sella tulus.
Ia segera mendekat ke arah suaminya.
"Sekarang aku menagih janjimu Vino" lirihnya menunduk tak berani menatap wajah datar suaminya itu.
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang" ucap Vino yang membuat semua keluarga kaget.
"Apa maksudmu Vino?" Tanya papa Rico.
__ADS_1
"Sella memintaku untuk melepasnya" jawab Vino santai.
"Tapi kenap...."
"Maafin Sella pa, Sella menyerah. Sella ingin bebas" ucap Sella memberi pengertian pada sang mertua.
"Bagaimana dengan surat cerainya?" Tanya Sella memberanikan diri menatap suaminya.
"Kalian jangan gegabah mengambil keputusan, pikirkan baik baik" papi Rifqi mengingatkan.
"Vino sudah memikirkan semuanya om"
"Untuk surat cerai aku tak akan memberikannya. Bukankah aku hanya mengatakan akan melepaskanmu bukan menceraikanmu"
"Apa maksudmu?!!" Sella mulai emosi karna merasa tertipu.
"Kurasa kau cukup pandai untuk membedakannya" Vino berucap santai.
Ia segera kembali turun ke lantai bawah. Ia sama sekali tak membawa satu pun baju yang diberikan Vino padanya kecuali yang ia pakai saat ini.
Ia segera berpamitan dengan semua keluarga.
"Maafin Sella udah bikin mami sama papi repot" Sella menyalami mami Ara dan papi Rifqi.
"Maafin Sella ma pa, nggak bisa bertahan dan udah mempermalukan keluarga Adira" ucap Sella sambil memeluk mama Diana.
"Maafin aku, karna aku sempat berniat mencelakai Vio dan anak kalian" Ucapnya pada Qian dan Vio.
__ADS_1
Kini tatapannya tertuju pada sang suami,
"Maafin aku Vin, mungkin aku terlalu egois. Tapi kurasa ini yang terbaik untuk kita" ucapnya pada suaminya.
"Hemm" Vino berucap singkat.
Sella ingin melepas cincin yang melekat dijari manisnya.
"Jangan lepaskan cincin itu sampai aku benar benar menceraikanmu secara resmi" suara Vino menghentikan tangan Sella.
"Boleh aku memelukmu terakhir kali?" Entah kenapa pertanyaan itu lolos dari mulut Sella.
Ia sangat ingin dipeluk suaminya itu meskipun terakhir kali.
otaknya menolak, tapi entah dorongan dari mana Sella ingin memeluk erat bahkan menghirup aroma tubuh seseorang yang selalu terngiang dihidupnya 2 bulan terakhir ini.
"Boleh" jawab Vino singkat.
Sella pun memeluk tubuh tegap suaminya itu. Ia bahkan menghirup dalam dalam aroma tubuh suaminya itu.
Rasa tidak rela menyeruak muncul dihatinya. Tapi ia tak boleh kembali pada Vino. Banyak hal buruk yang akan terjadi jika keduanya kembali bersama.
Vino hanya bisa mengusap punggung istri yang akan meninggalkannya itu.
Hatinya berdesir saat Sella memeluknya. 2 bulan bersama membuatnya terbiasa akan kehadiran wanita itu dihidupnya.
Sella melapaskan pelukan itu
__ADS_1
"Aku pamit" pamitnya mencium punggung tangan sang suami.
Ini kedua kalinya Sella mencium punggung tangan Vino. Yang pertama saat mereka selesai melakukan akad.