
Kia masih sibuk menyiapkan laporan keuangan perusahaan untuk presentasi meeting nanti siang.
Usia kandungannya sudah menginjak 3 bulan. Bahkan perutnya sudah sedikit terlihat membuncit. Namun nyatanya asisten Andy sama sekali belum sadar dengan perubahan tubuh Kia.
"Kia" seseorang memanggil Kia namun Kia tak mendengar panggilan itu.
"Kia" panggil orang itu sekali lagi.
"Ah iya, kenapa Al?" Tanya Kia pada rekan kerjanya bernama Aldo.
"Ayok udah waktunya ke ruang meeting. 10 menit lagi dimulai" ucap Aldo.
"Oh okey" Kia pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang meeting.
"Jadi, gimana perkembangan kehamilan kamu?" Tanya Aldo.
"Alhamdulillah cukup baik sih"
"Udah jalan 3 bulan kan?"
"Iya nih, udah 3 bulan"
"Kapan kamu mau periksa kandungan?"
"Kayaknya nanti malem deh, soalnya aku juga udah buat janji temu sama dokternya"
"Aku anter ya?"
"Eh enggak usah, malah ngrepotin nanti" Kia sungkan.
"Enggak ngrepotin kok"
"Maaf, aku mau periksa kandungan sendirian aja. Aku takut malah jadi fitnah nanti. Makasih ya tawarannya"
"Oh gitu, ya udah deh"
__ADS_1
Langkah kaki mereka berdua pun sampai di ruang meeting. Begitupun dengan seseorang yang dari tadi berjalan dibelakang mereka berdua.
"Hamil?" Gumam orang itu yang tak lain adalah asisten Andy.
"Hei, kenapa kau masih disini?"seseorang menepuk pundak asisten Andy yang tak lain adalah Qian.
"Hah? Nggak papa kok" jawab asisten Andy lalu segera berjalan memasuki ruang meeting.
Ditengah tengah meeting
"Sepertinya kita membutuhkan seseorang yang dipercaya perusahaan ini untuk memantau perusahaan cabang dikota X" ucap Qian membuka suara setelah mendengarkan beberapa laporan keuangan perusahaan cabang dari Kia.
"Kurasa juga begitu. Lalu siapa yang akan kita kirimkan?" Tanya asisten Andy.
Hening,, semuanya terdiam.
"Bagaimana jika anda saja nona Kiana?" Tunjuk asisten Andy pada Kia.
"Tidak"
"Tidak"
"Ehemm, kurasa lebih baik Kia tetap disini karna melihat pekerjaannya yang selalu rapi dan bagus" Qian membuka suara.
"Sebelumnya maafkan saya, saya pikir saya sudah terlalu nyaman diperusahaan ini" ucap Kia mengutarakan alasannya.
"Tidak mungkin kan aku keluar kota dalam keadaan hamil seperti ini. Apalagi nanti aku beradaptasi dengan lingkungan baru. Ditambah lagi pekerjaan di perusahaan cabang pasti lebih banyak menguras tenaga" batin Kia.
"Jika aku membiarkan Kia ke Luar kota bisa bisa Vio akan marah padaku" batin Qian.
"Kalau diperkenankan saya saja pak" salah seorang karyawan kepercayaan Qian mengusulkan dirinya.
"Baiklah"
Meeting pun berlanjut dengan pembahasan permasalahan perusahaan cabang.
__ADS_1
Malam hari,,
Kia sudah bersiap untuk memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan dirumah sakit Yulandres atas saran dari Vio.
"Dengan nyonya Kiana?"
"Iya dok,"
"Ini pertama kalinya nyonya Kiana periksa kandungan disini ya?"
"Iya betul dok"
"Baik, kalau begitu isi biodata dulu ya"
"Nama lengkap dan umurnya nyonya?"
"Kiana Maharani Dewi, 23 tahun"
"Ada riwayat penyakit?"
"Tidak ada dok"
"Nama ayah janin dan umurnya?"
Kia sedikit terdiam disini,,
Dokter itu sebenarnya sudah tau semua cerita kehamilan Kia dari Vio. Maka dari itu sang dokter hanya menanyakan 'ayah janin' bukan 'suami'.
"Emm, Andy Kurniawan, 25 tahun" Kia mengucapkan dengan ragu.
"Baiklah, mari kita mulai pemeriksaannya ya nyonya Kia. Silahkan berbaring di ranjang"
Dokter itupun mulai melakukan pemeriksaan pada Kia.
"Usia kandungannya sudah 12 minggu ya nona Kia. Keadaan janinnya sehat, perkembangannya juga lumayan. Tapi makanannya harus lebih diperhatikan ya nyonya Kia. Berat badan bayinya kurang memenuhi standar"
__ADS_1