Cinta Tuan Muda Arogan

Cinta Tuan Muda Arogan
Mentang mentang CEO


__ADS_3

"Malah senyum senyum, ditanyai jugaa" kesal Kia.


Tingg


Pintu lift terbuka


"Eh aku langsung ke bangku aku ya, kita bicara nanti pas jam istirahat" ucap Vio meninggalkan Kia.


(Sekarang Kia sudah dipindahkan ke devisi keuangan)


"Huhh untung pintu lift nya cepet buka" batin Vio mengelus dadanya.


Ia segera duduk di kursinya,


Pipinya kembali memunculkan semburat merah kala mengingat kejadian kemarin siang.


"Aaa" Vio menepuk nepuk pelan pipinya yang memanas.


"Fokus Vio, fokusss" gumam Vio sambil membuka komputer miliknya.


Ia segera mengerjakan tugas nya yaitu membuat laporan pemasaran serta anggaran untuk meeting bulanan nanti siang karna Vio lah yang mewakili devisi nya.


Jam istirahat,


Vio memutuskan untuk ke kantin setelah janjian dengan sahabatnya.


"Kamu nanti mewakili meeting bulanan kan?" Tanya Kia pada Vio.


"Iya nih, deg deg an banget aku"


"Yaelah ngapain deg deg an, kan bosnya suami kamu sendiri. Nggak mungkin lah dia marah" celetuk Kia.


"Ya tapi dikantor kita kan cuma atasan sama bawahan" jawab Vio yang diangguki Kia.

__ADS_1


"Kamu nanti juga mewakili meeting devisi keuangan kan?" Tanya Vio pada Kia.


"Iya nih, sebenernya sih deg deg an, tapi aku bawa santai aja lah"


"Ngapain deg deg an? Kan yang penting laporan kamu bener ya udah kan"


"Ya bukannya gimana gimana, katanya senior yang pernah meeting bareng pak bos katanya ngeri. Apalagi tatapan asistennya, ganteng sih tapi dingin banget. Kan jadi ngeri sendiri gua nya"


"Huss jangan gitu, nanti jadi sukak lo" goda Vio.


"Cih nggak mungkin lah" decih Kia.


Beberapa saat kemudian makanan pesanan Kia dan Vio datang.


"Loh kok punyaku gak sesuai pesanan sih?" Kesal Kia.


"Karna akulah yang memesan" ucap seseorang yang baru datang.


Tak biasanya bos muda itu ke kantin karyawan.


"Kau pindahlah" titah Qian pada Kia.


Mau tak mau Kia pindah dengan wajah masam nya.


Ia celingak celinguk mencari tempat duduk kosong.


"Loh kok nggak ada sih" gerutunya lagi.


Kia melirik jam di tangannya


"Kalau aku pesen makanan lagi pasti waktunya nggak cukup. Cih mentang mentang CEO seenak jidatnya nyuruh orang" gerutu Kia.


Ia melangkahlan kakinya menuju salah satu kantin yang menjual roti untuk mengganjal perutnya.

__ADS_1


"10 ribu mbak"


Kia menyodorkan uang seratus ribuan


"Wah nggak ada kembaliannya mbak"


Kia membuka buka dompetnya berharap menemukan uang yang lebih kecil dari itu.


Tiba tiba seseorang menyodorkan uang 100 ribu pada penjual kantin itu.


"Saya bayar roti dia sekaligus 2 porsi nasi ayam" ucap orang itu dengan nada memerintah.


Deg


Deg


Kia terkejut melihat siapa orang yang menyodorkan uang itu.


"Terimakasih asisten Andy" ucapnya ramah sekaligus takut melihat tatapan dingin itu.


Kia melangkahkan kakinya meninggalkan asisten itu.


"Tunggulah dimeja nomor 21" ucapnya membuat langkah Kia terhenti.


Kia menoleh, menatap asisten Andy yang menatap lurus ke ponselnya.


"Oh mungkin dia ngomong sama orang lain" gumam Kia.


"Saya memerintahmu Kiana Dewi!!" Ucapnya dingin membuat Kia bergidik ngeri.


Kia pun segera duduk dimeja nomor 21


"Perasaan tadi udah penuh deh meja sama kursinya, kok ini cuma ada Vio sama pak bos?" Batin Kia bertanya tanya.

__ADS_1


__ADS_2