
"Kamu mau beli tas baru?" Tanya Sella pada sang suami.
Pasalnya baru kemarin suaminya membeli tas branded dari brand sebelah.
"Ya buat kamu lah"
"Eh ngapain yang? Buat apa? Aku nggak butuh tas mahal" kilah Sella.
"Ya buat kamu pakek lah yang, masak istri CEO tasnya biasa aja"
"Ya nggak papa lah yang, beli barang branded cuma ngabisin uang aja yang, mending ditabung"
"Terus buat apa aku kerja seharian kalo nggak buat seneng kamu yang" kesal Vino.
"Ya tanpa barang branded aku juga udah seneng yang, bisa bareng bareng sama kamu dan anak kita juga"
Vino menghela napasnya, istrinya memang sangat keras kepala.
"Cepat pilih tas manapun yang kamu suka"
"Tapi yang"
"Sell" Vino menekankan kata kata nya yang artinya ucapannya tidak terbantah.
Sella mendengus dan akhirnya ia memilih satu buah tas sederhana dengan harga ratusan juta.
"Hanya itu?" Tanya Vino.
"Iya, ini aja udah lebih dari cukup" jawab Sella.
"Ambil dua lagi agar bisa dipakai bergantian"
"Tap.."
"Sell" setiap Vino menyebut istrinya dengan nama berarti Vino sedang tidak ingin dibantah.
__ADS_1
"Oke oke"
Sella pun segera memilih 2 tas lagi.
Vino juga meminta Sella membeli dompet.
"Aku tidak ingin dompet dari brand ini" keluh Sella.
"Okey, kalau begitu kita cari brand lain"
3 tas mewah itu dibayar Vino dengan harga mencapai milyaran.
Vino kembali menggandeng sang istri memasuki sebuah brand yang tak kalah terkenal hanya untuk mencari sebuah dompet.
"Carilah dompet mana yang kamu suka"
Mau tidak mau Sella memilih sebuah dompet dari brand itu dan Vino segera membayarnya.
"Sayang, tak bisakah kita duduk sebentar? Kaki dan pinggangku sangat pegal" keluh Sella pada suaminya itu.
"Sayang kenapa ke toko perhiasan? Mau beli apa lagi" keluh Sella.
"Ya mau beli perhiasan lah, masak mau beli baju kan nggak mungkin yang" Vino sedikit bercanda.
"Tak bisakah dilanjutkan besok saja? Badanku sudah capek semua" keluh Sella lagi.
"Makannya kamu nanti duduk saja disana biar aku yang memilihkannya untukmu"
Akhirnya Sella pasrah dengan suaminya yang pemaksa ini.
Vino segera memilihkan perhiasan untuk istrinya sedangkan Sella langsung duduk bersandar di sofa toko itu.
Vino memilih beberapa set perhiasan baik untuk acara resmi maupun untuk harian Sella.
Ia memilihkan sebuah kalung sederhana dengan harga milyaran untuk istrinya.
__ADS_1
"Suka kan?" Tanya Vino sebelum membayar kalung itu.
"Suka, berapa harganya?"
"Murah kok,"
"Berapa?" Sella penasaran.
"800"
"Ribu?" Tanya Sella.
"Juta" jawab Vino enteng.
Sella langsung memelototkan matanya.
"Tidak, untuk apa kalung semahal itu. Uang segitu untuk membeli tanah atau investasi saja"
"Sayang, kalung seperti ini juga investasi" Vino beralasan.
"Tapi,,"
"Anggap saja ini hadiah dariku" jawab Vino cepat.
Akhirnya mau tidak mau Sella menerimanya. Toh Vino nengeluarkan uang sebesar itu untuknya dengan suka rela tanpa paksaan darinya.
Sebenarnya Vino masih ingin membelikan banyak istrinya barang namun istrinya dari tadi sudah merengek kecapekan.
Sampai diparkiran mobil, mata Sella berkaca kaca. Ia menghentikan langkahnya dan mencengkram lengan suaminya itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Vino melihat istrinya berkaca kaca.
"Pe perutku kram" keluh Sella.
"Hah? Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Aduhh perutku sakit sekali yang" keluh Sella.