
"Qian, Vio, minggu depan mami sama papi mau ngadain pesta dirumah ini" mami Ara membuka pembicaraan.
"Pesta apa mi?" Tanya Vio yang sama sekali tidak mau.
"Minggu depan adalah hari aniversary pernikahan mami papi ke 24" sela papi Rifqi dengan wajah berseri seri.
"Wah benarkah.. Vio ikut bahagia mi pi"
"Makannya, besok jam makan siang kita ke butik langganan mami buat fitting baju"
"Ngapain harus fitting baju mi? Vio kan masih banyak baju bagus yang sama sekali belum pernah kepake" jawab Vio.
Mami Ara tersenyum lembut kepada menantunya
"Kan nanti kita couple an, biar semua orang tau kalau mami punya menantu cantik kayak kamu"
"Mami bisa aja deh" Vio tersipu malu.
"Ya udah mami sama papi mau ke kamar dulu" pamit mami Ara meninggalkan meja makan disusul papi Rifqi.
Drtt
Drtt
Handphone Qian berbunyi
"Kamu ke kamar duluan gih, aku mau ngangkat telpon dulu" ucap Qian menjauh dari meja makan.
"Halo sayangggg kamu lama banget sih angkat telponnya" seru suara manja dari seberang.
"Aku lagi sibuk tadi"
"Sayang, jemput aku ya. Aku udah dibandara"
Qian tersentak mendengar penuturan sang kekasih.
"Kamu ngapain dibandara?"
"Ya ngapain lagi kalau nggak nyamperin kamu yank, kuliahku udah selesai. Buruan gih jemput aku"
__ADS_1
"I iya" Qian tergagap.
Tutt
Panggilan diakhiri
Ia bingung dengan situasi ini. Haruskah ia berbohong pada istrinya?
Qian berjalan dengan langkah gontai menuju kamar.
"Sayang" panggilnya pada sang istri.
"Iya mas, kenapa kok wajahmu kusut gitu?" Tanya Vio kala menyadari wajah sang suami yang berubah.
"Sella kembali" lirihnya jujur.
"Terus?"
"Dia menyuruhku untuk menjemputnya dibandara"
Vio tersenyum
Qian mendongak
"Kamu nggak marah?" Tanya Qian hati hati.
Vio menggeleng
"Justru bagus mas. Semakin cepat dia kembali maka semakin cepat pula kamu bisa memutuskan hubunganmu dengannya"
Qian tersenyum lega mendengar penuturan sang istri.
"Baiklah, kalau gitu aku mau jemput dia ke bandara dulu"
"Iya mas, tapi kamu janji akan cepat cepat menyelesaikannya kan?"
"Aku janji, akan kupastikan besok hubunganku dengannya akan berakhir" jawab Qian yakin.
Mata Vio berbinar bahagia
__ADS_1
"Benarkah? Kau janji?" Tanya Vio menunjukan kelingkingnya.
"Iya janji" jawab Qian menautkan kelingkingnya dengan kelingking milik sang istri.
Qian pun segera melajukan kendaraannya menuju bandara.
Sesampainya dibandara, Qian mencari cari keberadaan Sella.
Beberapa saat kemudian ada seseorang menepuk punggung Qian dari belakang.
Ketika membalikan badan, nampaklah sang kekasih yang sedang tersenyum sumringah ke arahnya.
Saat Sella akan memeluknya, Qian langsung menghindar.
"Loh kok ngehindar sih yank, aku kan kangen" rengeknya manja.
"Kamu tau kan aku sekarang CEO, gerak gerikku diperhatikan banyak orang" Qian beralasan.
Sella manggut manggut mengerti maksut sang kekasih.
Malam itu juga Qian mengantarkan sang kekasih menuju apartemen yang sudah ia siapkan karna Sella hidup sebatang kara.
Setelah selesai dengan segala urusannya, Qian kembali kerumah utama.
"Gimana mas?" Tanya Vio penasaran.
"Gimana apanya?" Tanya Qian balik.
"Ya tadi gimana Sella nya?"
"Ya nggak gimana gimana. Kan mutusin nya masih besok" terang Qian.
"Oh iya juga ya, kok aku baru inget" jawab Vio cengengesan.
Pagi hari,
Sesuai janjinya, Qian sudah mempersiapkan segalanya.
Ia sudah menyuruh Sella untuk datang ke salah satu restoran yang sudah Qian sewa untuk pertemuannya dengan sang kekasih.
__ADS_1