
"Mas" panggil Vio dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa kau tak mengatakan bahwa kau alergi lobster?" Tanya Vio dengan air mata yang sudah mulai mengalir.
"Aku tak tega denganmu, aku takut jika kau akan malu jika aku menolak suapan darimu dihadapan para karyawan" jawab Qian jujur.
"Lebih baik aku menanggung malu daripada melihatmu seperti ini"
"Tenanglah, aku tidak apa apa, ini bukanlah hal sulit untukku" jawab Qian mengusap air mata sang istri.
"Apa kau benar benar baik baik saja?"tanya Vio sekali lagi.
"Iya, aku baik baik saja"
Beberapa saat kemudian, infus Qian sudah dilepas.
"Yang sakit badanku bukan kakiku" kesal Qian saat sang istri menuntunnya berjalan.
Vio hanya terkekeh mendengar gerutuan sang suami.
Jemari Vio beralih menggenggam jari jari sang suami.
"Kita langsung pulang ya?" Pinta Vio.
"Tidak, aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku dulu. Jika sudah baru kita pulang"
"Tapi..."
"Udah nggak papa, aku udah mendingan kok" jawab Qian yakin.
Mau tak mau Vio menuruti ucapan sang suami.
mereka pun kembali ke kantor
__ADS_1
Vio segera kembali ke meja kerjanya dan mulai mngerjakan pekerjaannya, begitupun dengan Qian.
Sore hari,
Sesuai perkataannya pagi tadi, Qian dan Vio menuju rumah papa Rico untuk makan malam.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya mama Diana.
"Baik ma"
Mama Diana mengangguk mengerti
Vio menghampiri sang abang dan segera berhambur memeluknya.
"Wah selamat bang, aku nggak nyangka abang ku udah jadi CEO" ucap Vio terkekeh.
"Makasih, abang juga nggak nyangka bakal jadi CEO pengganti papa. Padahal awalnya abang males" ucap Vino yang sebenarnya tidak mau diangkat menjadi CEO.
"Malam ini kalian menginaplah disini semalam saja" pinta papa Rico pada Qian dan Vio.
"Emm tapi pa, jarak kantor dengan rumah ini jauh" Vio beralasan.
"Kan cuma tambah 15 menit dari jam berangkat kerja kamu biasanya" kilah papa Rico.
"Tapi pa..."
"Ayolah, semalam saja" pintanya lagi.
Mau tak mau Vio dan Qian menginap disana.
2 bulan kemudian,
Hubungan Vio dan Qian makin membaik. Tak jarang mereka bermesraan walau kenyataannya masing masing belum mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Vio yang memang dari awal sudah jatuh kedalam pesona Qian kini ia semakin jatuh kedalam pesona itu hingga tak mampu bangun lagi.
Nampak Vio sedang tiduran dipaha sang suami yang sedang bersandar diranjang.
"Besok aku akan membawamu ke bali" ucap Qian tiba tiba.
"Ngapain ke bali mas? Kok tiba tiba?"
"Mau honeymoon lah, kita kan belum sempat honeymoon" jawab Qian.
"Benarkah?" Tanya Vio yang membuat Qian mengangguk.
"Tapi aku belum mempersiapkan segala kebutuhannya, baju pun aku belum packing"
"Nggak perlu bawa baju, kan bisa beli disana"
Jawab Qian asal.
"Pemborosan mas" kesal Vio yang disusul gelak tawa oleh Qian.
"Walaupun kamu beli baju branded setiap hari sekalipun uang aku nggak akan pernah habis"
Vio hanya terkekeh mendengar penuturan sang suami.
Pagi hari, Qian benar benar mengajak sang istri untuk honeymoon dibali.
Vio memasuki jet pribadi milik suaminya yang terpampang jelas logo Yulandres Grup.
Pesawat itu terbang menuju kota tujuan Vio dan Qian.
2 jam kemudian, pesawat telah mendarat sempurna di kota Bali.
Vio dan Qian sudah dijemput dengan mobil yang sudah disiapkan orang suruhan Qian sebelumnya.
__ADS_1