
"Sudah aku bilang, bocil nggak boleh mesumm" kesal Qian.
Vio mengerucutkan bibirnya sebal dengan sang suami.
"Dimana mana cowok yang minta duluan, masak ini seolah olah kayak gua yang pengen" batin Vio merutuki kebodohannya.
"Beneran nih?"
Qian hanya diam dengan mata fokus pada ponselnya.
"Oh ya udah, aku tidur aja kalau gitu" ucap Vio segera menutup seluruh tubuhnya.
Didalam selimut ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Gue peak banget sih" batinnya.
"Mulut nih juga, nerocos mulu dah" batinnya lagi menabok mulutnya sendiri.
Vio segera terlelap dalam tidurnya,
Qian tersenyum tipis kala melihat sang istri sudah bernafas teratur yang menandakan telah tertidur pulas.
"Dasar bocah" gumam Qian sambil mengusap kepala sang istri dibalik selimutnya.
Ia menurunkan selimut itu hingga menampakan wajah natural sang istri tanpa make up sedikitpun.
Qian segera ikut berbaring sambil memeluk sang istri.
ia sudah berjanji dalam hatinya, mulai sekarang ia akan mulai menyayangi sang istri dan juga berusaha menumbuhkan cinta diantara mereka.
Pagi hari,,
__ADS_1
Vio mengerjapkan mata nya bangun.
"Euhhh" lengguhnya merenggangkan tubuhnya.
Vio kaget saat menyadari tangan Qian, sang suami telah melingkar diperutnya.
Bibirnya tersungging senyum tipis saat sang pujaan hati kini telah menjadi suaminya.
Sungguh tak terbayang dibenak Vio bahwa akan seperti ini pada akhirnya.
Ia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh tegap sang suami dan mengeratkan pelukannya itu dan mulai memejamkan matanya lagi.
Qian yang merasa tidurnya terganggu pun mengerjapkan matanya, ia tersenyum tipis saat melihat sang istri yang juga sedang memeluknya erat.
Qian tak melepaskan pelukan itu, ia membiarkannya begitu saja.
Ia kembali memejamkan matanya sambil menikmati pelukan itu.
Tak terasa, matahari sudah menunjukan sinarnya.
Ia melepaskan tangan sang suami yang melingkar di perutnya.
"Mas bangun" Vio membangunkan sang suami.
"Hmm, iya Mi bentar lagi" Qian mengira yang membangunkannya adalah sang mami.
"Mas,!"
Qian membuka matanya saat sadar yang memanggilnya bukan sang mami.
Ia menatap lekat Vio yang juga sedang memandangnya. Seketika Qian ingat bahwa ia sudah menikah.
__ADS_1
"Buruan mandi, udah siang. Katanya mau pindahan ke rumah mami?"
"Jam berapa sih?"
"Udah jam 6"
Qian langsung terduduk dari pembaringannya.
"Eh mas, aku mau tanya deh"
"Kamu beneran nggak mau ngelanjutin yang tadi malem? Aku penasaran banget loh" ucap Vio malu malu.
Ia benar benar penasaran dengan rasanya, kenapa orang orang mengatakan bahwa rasanya 'enak? Pikirnya.
"Hm, nanti kalau udah dirumahku aja" jawab Qian asal agar terhindar dari pertanyaan absurd sang istri.
Qian segera menuju kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Sedangkan Vio langsung menata tempat tidurnya dan menyiapkan baju untuk sang suami.
Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Vio menyiapkan beberapa barang yang akan dibawanya ke rumah sang mertua.
Tak terlalu banyak, karna ia tau semua keperluannya sudah disiapkan sang mertua.
Beberapa saat kemudian, Qian keluar kamar mandi dengan handuknya.
Sisa sisa air mandi mengalir di badannya yang membuat tubuhnya terlihat sangat se.xy dimata Vio.
Dada bidang serta perut kotak kotak mampu menghipnotis mata Vio.
"Oh jadi itu yang kemarin aku pegang" batin Vio menatap dada Qian.
__ADS_1
"Aku tau aku memang tampan" Qian berucap dengan PD nya.
"Cih, percaya diri banget" cibir Vio yang membuat Qian tersenyum tipis.