
"Sttt" Qian meletakan telunjuknya di bibir sang istri.
"Nggak boleh ngomong aneh aneh" Qian mengingatkan.
Vio mengangguk tanda mengerti.
"Ya udah kamu keluar dulu, aku mau lanjutin mandi" pinta Qian.
"Sekalian mandiin" rengek Vio.
"Hah?" Qian kaget dengan permintaan sang istri.
"Nanti kan kita nggak ketemu seharian, masak minta dimandiin aja nggak boleh" cebik Vio.
"Ya udah ayo" pasrah Qian.
Sesuai yang Qian duga, sang istri pasti meminta hal yang lebih.
Qian pun pasrah dengan permintaan sang istri walaupun ia juga menikmatinya.
Ahahaha,, apa tuhhh
Setelah selesai dengan kegiatannya, Vio dan Qian segera ke lantai bawah untuk sarapan.
Terlihat Mami Ara dan Papi Rifqi telah menunggu keduanya di meja makan.
"Tumben telat" tanya Mami Ara.
Papi Rifqi menyenggol pelan mami Ara saat ia melihat banyak tanda merah dileher sang putra.
Mami Ara yang paham dengan kode sang suami pun hanya bisa menahan senyumnya.
"Oh habis ngacara" sindir mami Ara.
__ADS_1
"Acara apa mi?" Vio tidak paham dengan maksud sang mertua.
"Acara enak enak" jawab mami Ara asal.
Vio hanya terbengong tidak faham dengan maksud sang mertua.
Qian hanya bisa menahan malunya mendengar obrolan mami dan istrinya itu.
Setelah sarapan selesai, Qian segera berangkat kerja.
Dan terjadi lagi drama dengan sang istri.
Vio menangis saat Qian berpamitan.
"Loh kok nangis sih" Qian menahan rasa kesalnya.
"Aku pengen ikut ke kantor mas" Vio terus saja merengek.
"Tapi mas...."
"Shttt udah ya ngrengeknya,aku mau berangkat kerja dulu" Qian menekan pipi sang istri hingga mulut Vio membentuk mulut bebek.
Cup
"Udah, itu hadiahnya" Qian baru saja mencium bibir sang istri.
"Papa berangkat kerja dulu ya, jangan nyusahin mama.. okey" Qian mengusap perut rata sang istri lalu segera berjalan keluar dari mansion karna ia sudah sangat terlambat berangkat ke kantor.
"Loh kok kamu nangis nak?" Tanya mami Ara saat melihat sang menantu meneteskan air matanya sambil menatap kepergian sang putra.
"Kamu nggak ikut Qian ke kantor?" Tanya mami Ara lagi saat tak mendapat jawaban dari sang menantu.
"Mas Qian nggak bolehin aku ke kantor mi" adu Vio.
__ADS_1
"Loh emangnya kenapa?"
"Gara gara tadi pagi Vio mual mual" jawabnya sendu.
"Ya udah nggak papa, itu kan juga demi kebaikan kamu sama baby diperut kamu" Mami Ara memberi pengertian.
" Tapi nanti kalau Vio kangen sama mas Qian gimana mi?"
"Kan bisa Videocall Qian" saran mami Ara.
Ia sangat paham dengan perasaan sang menantu karna ia juga pernah mengalami dimasa kehamilannya yang tidak mau jauh jauh dari suami.
"Ya udah kamu istirahat gih ke kamar. Pasti kamu capek kan?"
"Capek kenapa mi?"
"Jangan pura pura bingung. Mami tau kok, tuh lehermu banyak merah merah"
Seketika Vio sadar dengan ucapan sang mertuanya beberapa waktu lalu.
"Oh brarti dari tadi mami nyindir aku" batin Vio merutuki kebodohannya karna tak menutup lehernya dengan foundation dulu.
"I iya mi" Vio segera melangkahkan kakinya ke kamar.
Sesampainya dikamar Vio bingung ingin melakukan apa.
Ia memutuskan untuk menelpon sang suami.
"Hallo, kenapa sayang?"
"Kamu lagi ngapain mas?"
"Ini baru aja sampe, ini baru jalan dilobi" jawab Qian.
__ADS_1