
Maharani terus mengumpat didalam hatinya, rasa benci dan dendam kesumat di dalam hatinya terus menggerogoti jiwa mudanya. Ia merasa jijik ketika mengingat bagaimana dengan beringasnya Bagaskara merenggut paksa ciuman pertamanya. Semula, Maharani pun ikut menikmati manisnya bercumbu rayu dengan Bagaskara Ardhana Putra. Namun, melihat kedekatan Bagaskara dan Alina Cahya Kirani rasa benci dan dendam muncul begitu saja pada jiwa gadis belia itu. Hingga terbesit dalam benaknya untuk melumpuhkan kekuatan Bagaskara Ardhana Putra.
"Bagaskara Ardhana Putra, kau telah menghancurkan hati dan perasaan ku, kau permainkan aku sesuka hati mu. Setelah kau hisap manisnya lalu kau campakan aku begitu saja bersama wanita lain, jangan salahkan aku jika aku pun melakukan cara yang halus pada mu. Aku bisa merasakan aura negatif yang muncul dari dirimu, dan aku pun bisa melakukan hal itu pada mu. Kau akan bertekuk lutut di bawah kaki ku!" gumam Maharani dengan dendam kesumat yang merasuki hati dan jiwanya yang tengah rapuh.
Bayang-bayang Bagaskara dan Alina yang sedang bercumbu rayu dihadapannya seolah-olah terus membayangi pikiran, hati dan jiwanya. Ia benar-benar merasakan sakit hati yang teramat dalam pada sosok Bagaskara yang telah berhasil menyentuh hati dan jiwanya dengan rasa cinta dan juga dendam karena terabaikan oleh sosok Bagaskara Ardhana Putra.
"Awas kau Bagaskara, kau akan merasakan akibat dari perbuatan mu yang telah mengabaikan hati dan perasaan ku," bathin Maharani dengan terus di selimuti oleh rasa benci dan dendam menyelimuti jiwa belianya. Ia pun menghapuskan jejak air matanya sebab takut ketahuan orang tuanya jika sedang mengalami hal yang buruk dalam hidupnya.
Maharani masuk ke dalam kamarnya setelah pun mengucapkan salam pada seisi rumahnya. Di ambilnya sebuah buku catatan yang ia dapatkan dari peninggalan kakeknya yang berada ditanah Jawa, di buku tersebut ia dapati banyak sekali mantra sakti untuk melumpuhkan lawan jenis yang telah mencoba meruntuhkan hati dan jiwanya. Dan ia akan membalaskan rasa sakit hatinya tersebut pada Bagaskara Ardhana Putra yang telah merenggut kesucian hati dan jiwanya yang kini rapuh tanpa ada tiang yang kokoh untuk menyangganya.
"Bagaskara Ardhana Putra, kau telah melumpuhkan jiwaku dan sekarang giliran diriku yang akan meruntuhkan dan melumpuhkan kesombongan mu, jangan bermimpi kau dapat menikmati kebahagiaan mu setelah apa yang kau lakukan terhadap ku! Aku bukanlah perempuan yang lemah yang mudah untuk kau mainkan!" bathin Maharani yang telah dipenuhi rasa dendam kesumat pada Bagaskara.
Antara rasa cinta, benci dan dendam terhadap sosok Bagaskara kini telah bersarang di benak Maharani hingga membuat dirinya pun gelap mata dan mengikuti bisikan syetan yang mengarahkan dirinya pun jatuh kedalam sumur dosa yang paling dalam, ia pun terjerat dalam lingkaran syetan dengan ikut menghembuskan buhul-buhulnya lewat sihir dan mantra-mantranya lewat warisan leluhurnya.
Maharani terus komat-kamit melafalkan mantra penarik sukma itu berulang kali. Ia hembuskan mantra tersebut atas nama Bagaskara Ardhana Putra.
__ADS_1
Hembusan angin yang bertiup pun kini perlahan masuk melalui celah bilik kamarnya.
"Bagaskara Ardhana Putra, kupastikan setelah ini kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku!" bisikan hati Maharani yang tidak menyadari jika kini ajian penarik sukma tersebut telah merasuki jiwanya.
Ilmu sihir dan perdukunan yang didominasikan oleh Jin dan Syetan tersebut perlahan merasuki jiwa belianya. Tanpa sadar ia pun telah jatuh dalam syirik Akbar, ia tak ubahnya seperti Bagaskara Ardhana Putra yang bersekutu dengan mahluk halus tak kasat mata demi memikat simpati dari lawan jenisnya. Keduanya pun sama-sama terjerumus dalam lingkaran syetan yang merasuki jiwa dan membutakan mata hatinya. Maharani tersenyum devil sebab telah berhasil mengamalkan ilmu yang telah diwariskan oleh leluhurnya tersebut.
"Kakek, Maharani telah mempelajari ilmu yang telah diwariskan untuk keluarga kita dan orang yang pertama menjadi tujuan ku adalah Bagaskara Ardhana Putra!" bathin Maharani dengan sorot mata merah menyala dan hanya dengan persekian detik mahluk halus pun telah merasuki kesucian jiwa belianya. Maharani benar-benar telah gelap mata, ia cucu pertama yang mewariskan ilmu syetan dan perdukunan dari keluarga Mahapatih Diningrat yang memang ilmu tersebut diwarisi oleh keluarganya secara turun-temurun
"Ha ... ha ... ha, rasakan oleh mu Bagaskara Ardhana Putra!" bathin Maharani seperti orang kesurupan dan sudah gila.
Di kediaman Bagaskara Ardhana Putra.
"Awwww!" Bagaskara memegang jantung hatinya yang terasa sakit luar biasa.
"Kurang ajar, siapa yang telah mengirimkan ajian penarik sukma pada ku!" ucap Bagaskara pelan, hingga terdengar di telinga Alina yang baru saja beranjak dari arah dapur guna mengambilkan air minum setelah selesai menikmati bubur kacang ijo bersama Bagaskara sepupunya yang juga kini masih merangkap sebagai kekasih hatinya.
__ADS_1
"Mas Bagaskara ada apa dengan mu!" pekik Alina histeris, ia merasa kepanikan ketika melihat Bagaskara meringis kesakitan memegang dadanya yang terasa perih juga ulu hatinya yang terasa tersusuk oleh ribuan jarum.
"Pergi dari sini Alina! biarkan Mas sendirian!" bentak Bagaskara dengan mata merah menyala, seperti bola mata syetan yang hendak menyerang musuhnya.
"Ta-tapi, Mas kau sedang kesakitan!" ucap Alina yang mulai merasa jika ada aura mistis yang menyerang Bagaskara Ardhana Putra. Ia pun berusaha melafalkan ayat-ayat kursi yang ia yakini dapat meruntuhkan ilmu sihir dan perdukunan, namun Alina yang juga pernah terkena sihir dan guna-guna dari Bagaskara pun tumbang sebab fisiknya tiba-tiba lemah, energi positif dan energi negatif kini pun berperang dalam raganya.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada ku? kenapa tubuhku seperti lemah tak berdaya, kenapa aku tidak bisa menguasai diriku sendiri? seolah-olah ada yang membentengi diriku?" Alina yang memiliki kebeningan iman dihatinya, tak sedikit pun tersirat di benaknya untuk mengamalkan ilmu hitam dalam hidupnya. Yang ia yakini Allah itu maha kuasa atas segala apa yang ada di muka bumi ini, ilmu sihir yang berasal dari gangguan makhluk halus dari sejenis Jin dan syaitan tidak akan mengenainya kecuali atas izin Allah dan jika itupun terjadi pada dirinya, Alina menganggap itu semua adalah ujian hidup yang diberikan oleh Allah Subhana wa ta'ala untuk menguji biduk keimanannya.
Alina Cahya Kirani pun memejamkan matanya setelah melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang membentengi dirinya dari segala kejahatan makhluk gaib yang tiba-tiba hendak menyerang dan menguasai hati dan jiwanya. Setelah mendawamkan istighfar dan dzikir-dzikir yang pernah ia pelajari dari guru Rohis di sekolahnya dahulu, tubuh Alina melemah ia pun jatuh pingsan setelah melawan kekuatan energi negatif yang menyerang dirinya dengan tiba-tiba.
"Alina Cahya Kirani!" pekik Bagaskara histeris setelah melihat belahan jiwanya tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Alina, kau wanita yang suci aku tidak akan merusak kesucian mu! namun, kau telah mencoba membakar hembusan buhul-buhul cinta yang pernah ku kirimkan padamu lewat ajian pengasihan ku! namun, tak kan kubiarkan diri mu pergi jauh dariku, kau tidak akan bisa lepas dari jerat cinta ku Alina Cahya bisa Kirani! Aku akan melakukan segala cara untuk terus mengikatmu, aku terpaksa menghembuskan sihir dan guna-guna yang lebih ampuh lagi. Yakni ajian pelet yang bisa mendarah daging di tubuh mu sepanjang nafas hidupmu jiwa raga ku akan menikahi sukma mu, meskipun jasad kita tak bisa bersama. Namun, raga dan sukma mu adalah milik ku seutuhnya, tidak ada yang boleh memiliki mu kecuali aku!" bathin Bagaskara dengan seringai liciknya.
"Dan kau Maharani berani-beraninya mengirimkan ajian pemikat sukma pada ku? kau akan berhadapan dengan ku!" ucap Bagaskara dengan berusaha memusatkan daya pikirnya. Dengan bantuan bisikan makhluk gaib di hatinya ia pun mengetahui jika seseorang yang telah menyerangnya adalah Maharani santriwatinya sendiri.
__ADS_1
"Kau ingin bermain-main dengan ku, rasakan pembalasan ku! ilmu mu belum ada apa-apa, masih seujung kuku ku, jadi jangan coba-coba hendak menundukkan ku!" bathin Bagaskara dengan mulai memusatkan perhatiannya guna menghembuskan buhul-buhul mantranya yang ditujukan pada sosok Maharani, gadis belia yang juga memiliki kecantikan dan pesona yang luar biasa, namun telah berani-beraninya hendak menundukkan seorang Bagaskara Ardhana Putra. Dengan begitu Maharani menjadi sosok wanita yang akan menerima penderitaan yang bertubi-tubi dari Bagaskara karena telah berani menentang dan melawan kekuasaannya.