
Mama Laras mengintip Bagaskara yang masih terduduk di atas sajadahnya dengan terus menerus komat-kamit membaca mantranya. "Nak, dirimu benar-benar telah terjerat dalam lingkaran syaitan yang telah menyesatkan mu, mama benar-benar tidak meridhoi jalan yang kau tempuh ini!" bathin mama Laras meringis pilu.
Mama Laras yang tak tahan dengan ritual yang dilakukan oleh putranya itu pun mendobrak pintu kamar Bagaskara yang sudah menghabiskan berjam-jam ritual semedinya tersebut.
"Bagaskara Ardhana Putra, hentikan semedi mu! ibu tidak meridhoi dirimu melakukan hal yang bertentangan dengan syari'at ini, kau telah menyekutukan Allah Subhana wa ta'ala dengan ibadah mu. Kau telah mencampur adukkan antara kebathilan dan kebenaran, taubat Nak! taubat!" pekik Mama Laras dengan air mata berlinang membasahi pipinya.
Menyadari akan ada yang menganggu ritualnya, Bagaskara yang masih dalam pengaruh makhluk gaib di dalam tubuhnya pun menatap nyalang pada Mama Laras dengan tatapan membunuh.
"Berani-beraninya kau menganggu ritual ku!" hardik Bagaskara dengan mata merah menyala. Ia ingin mencekik ibu yang telah melahirkannya tersebut, Bagaskara benar-benar belum menguasai dirinya. Makhluk tak kasat mata yang bersarang di dalam tubuhnya masih mendominasi dirinya sepenuhnya.
"Bagaskara, sadar Nak! ini Mama Nak, kau sedang dalam pengaruh makhluk gaib. Pusatkan pikiran mu, kembalilah ke alam bawah sadar mu!" ucap Mama Laras dengan coba menenangkan putranya.
Bagaskara hampir mencekik mamanya, namun dalam bayangannya ia mengingat kembali masa kecilnya dahulu. Di mana ia selalu berada di dalam kasih sayang mamanya, hingga ia dewasa tak pernah sekalipun ia menyakiti hati sang mama. Setelah meninggal mendiang ayahnya, ia lah yang menjadi tulang punggung keluarga dan satu-satunya anak laki-laki sulung yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap mamanya.
"Mama, apa yang terjadi?" ucap Bagas seperti orang yang kebingungan.
Bagas melepaskan cekalan tangannya dari leher sang Mama, ia pun bersimpuh sambil mencium tangan mamanya.
"Ma-maafkan Bagas, Ma!" sesal Bagas, ketika ia menyadari kedua tangannya yang dulu ditimang-timang manja oleh mamanya ketika masih kecil, kini begitu kuat mencengkram sosok wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Air mata Mama Laras berlinang, merasakan cekikan Bagaskara yang begitu kuat mencengkram lehernya, dalam keadaan pengaruh makhluk gaib yang bersarang di tubuh putra kesayangannya.
"Kau ... kau ... kau sudah sadar, Nak?" Mama Laras memeluk erat tubuh putranya yang sedang bersimpuh di hadapannya.
"Maafkan Bagas, Ma! semua di luar kekuasaan Bagas." Bagas mencium punggung tangan mamanya dengan penuh hikmat.
"Nak, mama mohon, akhiri semua ini! jangan kau lanjutkan lagi ilmu musyrik itu! menyekutukan Allah Subhana wa ta'ala dengan mahluk lain, sesungguhnya itu adalah dosa yang sangat besar, Nak! dosa yang tidak diampuni oleh Allah jika dirimu terus dalam kesesatan mu. Cukup mendiang ayah mu yang mengamalkan ilmu syaitan itu, jangan sampai kau mewarisinya. Jangan kau buat pertumpahan darah didalam silsilah keluarga kita!" ucap mama Laras setengah memohon dan mengelus-elus pundak putranya.
Bagaskara terdiam sejenak, didalam hatinya ia tidak bisa meninggalkan ilmu yang telah dipelajarinya. Makhluk tak kasat mata di dalam tubuhnya seolah-olah memporak-porandakan jiwanya. Bagaskara seolah-olah tidak bisa lepas dari pengaruh makhluk gaib tersebut.
Akal bulusnya, terus menuntunnya untuk menempuh jalan syaitan itu.
"Terimakasih, Nak! mama bangga pada mu, kau memang anak yang berbakti!" ucap Mama Laras dengan menatap dan memegang kedua pipi Bagaskara, putra tercintanya.
"Aku akan terus mengamalkan ilmu Kanuragan ini, tidak ada yang menyesatkan bagi ku ini tidak ada yang bertentangan. Apa salahnya membentengi diri dengan ilmu sihir, kita bisa terjaga dari segala macam kejahatan. Semua orang pasti akan merasa segan dengan kita!" bathin Bagaskara dengan segala kemunafikannya.
Mama Laras yang percaya dan tidak menaruh curiga lagi pada putranya pun sedikit tenang ketika mendengar Bagaskara akan segera mengakhiri semuanya dan tidak meneruskan lagi ilmu yang menyesatkan tersebut.
"Baiklah, jika begitu sebaiknya kau bersihkan diri mu Nak! setelah itu sholat taubat, mumpung waktu baru menunjukkan pukul 04.00 wib, satu jam lagi baru sholat shubuh!" timpal Mama Laras dengan hati yang mulai tenang, ia pun berjalan menuju kamarnya, guna istirahat sejenak menenangkan dirinya setelah menyaksikan ritual mistis yang di lakukan oleh putranya.
__ADS_1
***
Di sisi lain.
Alina nampak duduk tenang di hamparan sajadahnya, ia terus melantunkan dzikir sembari menunggu datangnya sholat shubuh. Energi negatif yang sempat menyerangnya mulai mereda, meskipun sewaktu-waktu kekuatan itu akan kembali menyerangnya ketika dirinya dalam keadaan lemah.
Alina melanjutkan dengan mendaras Qur'an sebelum menyambut datangnya adzan shubuh. Alina melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan merdunya. Kalam ilahi itu begitu memberikan setetes embun kesejukan dihatinya.
Tetesan keringat mengucur deras membasahi tubuhnya, Alina merasakan tubuhnya lebih bugar, setelah sebelumnya ia merasakan sakit di punggung dan dadanya yang terasa panas dan terbakar oleh gangguan makhluk tak kasat mata yang kini bersemayam di tubuhnya, tanpa di sadari olehnya hembusan buhul-buhul cinta yang di kirimkan Bagas padanya kini telah merasuki tubuhnya. Menguasai raganya agar terjaga dari pandangan laki-laki lain yang mencoba untuk mendekati dirinya.
"Alhamdulillah, tubuh ku terasa lebih ringan dan segar. Semula aku merasakan beban berat di pundak ku. Entah apa yang terjadi pada ku. Aku seolah-olah merasakan kekosongan dan kehampaan, pikiran ku entah kenapa terasa dangkal. Tubuh ku pun terasa seperti ada yang menguasai!" pikir Alina dengan menatap hampa ke seluruh sudut kamarnya.
Kumandang adzan Shubuh pun membuyarkan lamunannya, ia pun segera menjawab panggilan adzan tersebut dan menyegerakan ibadah sholatnya.
"Alhamdulillah, terima kasih atas nikmat sehat yang Engkau berikan kepada hamba ya Rabb, sehingga bisa menghadapkan wajah ini pada mu, bersujud di hamparan sajadah dengan menadahkan kening ini pada-Mu!" gumam Alina lewat untaian do'anya.
Setelah selesai dengan ritual ibadahnya, kini Alina membuka jendela kamarnya menghirup udara segar di pagi hari, angin semilir yang berhembus terasa menusuk di kulit arinya membuat ia sesekali melipatkan tangan di bahunya, untuk menghangatkan tubuhnya.
"Alhamdulillah, begitu berkahnya waktu di pagi hari, begitu memberikan kenikmatan dan ketenangan dalam hati dan jiwa." Alina masih terus menghirup udara segar lewat jendela kamarnya. Indera penglihatannya, seketika menangkap sekelebat bayangan seseorang yang sangat dirindukannya setengah mati merindu dalam hati dan sanubarinya.
__ADS_1
"Mas Bagas!" bathin Alina dengan terus memandangi sosok bayangan yang lewat di depan rumahnya tersebut.