Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 47. Sudah Seperti Orang Gila


__ADS_3

"Alina kemarilah!" Putri memanggil Alina yang hendak menjauh dari mereka. Alina pun terpaksa menghampiri keberadaan Alina dan Reno.


"Iya, ada apa Put?"


"Gabung dengan kita disini! jangan berdiri di situ saja, kasian kak Reno dari sejak tadi menunggu." Putri langsung bicara pada intinya, setidaknya jika Alina sudah beranjak dewasa pasti paham akan maksud Putri.


"Teman-teman yang lain mana?" ucap Alina untuk sekedar berbasa-basi.


"Sudah pulang dari sejak tadi, mereka tadi nungguin kamu, tapi ditunggu-tunggu kamu nggak keluar-keluar. Jadi, mereka pulang duluan. Katanya mau bersih-bersih dulu. Aku disini nemani kak Reno, katanya ada hal penting yang hendak di bicarakan pada mu!" terang Putri.


Alina sangat memahami maksud dan tujuan Putri ingin menyatukannya dengan Reno, akan tetapi semakin kuat Putri hendak mendekatkannya pada Reno, semakin Alina merasa tidak suka, ia tiba-tiba merasa jijik dan alergi melihat wajah Reno, padahal semula ia biasa-biasa saja, namun sekarang justru timbul rasa kebencian yang teramat sangat melihat laki-laki tersebut yang begitu kentara sangat menyukainya.


Reno terlihat gugup, ia ingin mengutarakan rasa sukanya terhadap Alina. Akan tetapi, dirinya belum punya keberanian.


"OMG, kak Reno jadi gugup seperti itu! katanya mau dicomblangi sama Alina, kalo begini keburu di embat orang." Putri ngedumel di dalam hatinya.


"A-alina, aku tadi minta nomor handphone mu sama Putri. Semoga kita bisa berteman baik nantinya!" ucap Reno yang mencari celah agar tidak terlalu kentara jika dirinya ingin mendekati Alina.


"Iya, Boleh. Jika hanya untuk berteman," ucap Alina yang melakukan penolakan secara halus pada Reno.


Alina yang memahami niat terselubung Reno pun berusaha menetralkan perasaannya, iya tidak ingin kentara jika terang-terangan tidak menyukai Reno. Meski masih dalam pengaruh energi negatif. Ia masih bisa menjaga hati dan pikirannya agar jangan sampai menyakiti orang lain. Mungkin ungkapan kata-kata yang halus tersebut bisa menjadi bahan renungan untuk Reno jika memang Alina tidak ingin lebih dari sekedar teman.


"Alina kok gitu sih? sepertinya ia menolak secara halus deh, kasian kak Reno. Kalah sebelum berperang!" bathin Putri, ingin rasanya ia menertawakan wajah Reno yang terlihat kusut.


Akan tetapi Reno tidak menyerah untuk mendapatkan Alina Cahya Kirani. "Terimakasih, Alina. Kalau begitu kami pulang dulu, ya? nanti aku hubungi lagi!" ucap Reno, sebab hari sudah semakin sore. Ia pun harus segera bersiap-siap undur diri.

__ADS_1


"Iya, tunggu dulu sebentar! aku ambilkan bungkusan nasi, lauk-pauk, kue dan yang lainnya untuk kalian bawa pulang. Nanti, untuk teman-teman yang lainnya bisa menyusul. Karena mereka sudah pulang duluan." Alina pun segera beranjak menuju dapur, untuk mengambilkan jatah makanan untuk anggota panitianya.


Reno dan Putri pun menerima bungkusan tersebut dengan hati yang riang.


"Alhamdulillah, kalau begini bungkusannya, dua hari aku tidak masak!" ucap Putri dengan gaya cute-nya.


"Lah, loe memang sukanya yang gratisan!" sindir Reno.


"Uweek ... biarin! loe sendiri nggak berani ungkapin perasaan loe ke Alina, padahal jelas-jelas Alina ada di hadapan loe. Pakai sok jaim pula!" sindir Putri tak kalah ketusnya.


"Loe liat sendiri tanggal mainnya!" ucap Reno yang terlihat percaya diri.


"Iya deh kak Reno, selamat berjuang mengejar cinta Alina Cahya Kirani!" keduanya pun berpisah di persimpangan jalan dengan mengendarai kendaraan masing-masing. Tinggallah jejak langkah masing-masing dibumi tempat mereka kini berpijak.


***


"Hoammm, ngantuk sekali! ingin tidur, namun sebentar lagi Magrib. Badan ku pegal-pegal dan lengket semua! mandi dulu, ah!" Alina bergegas mengambil handuknya. Ia pun berjalan menuju toilet dengan terburu-buru. Berkejar-kejaran dengan waktu Magrib.


"OMG! siapa didalam, repot juga harus pakai antri seperti ini!" gerutu Alina sambil menunggu didepan pintu toilet.


"Sabar, Dek! Ada suami kakak didalam!" ucap Andara dengan memberikan handuk dan baju ganti suaminya.


"Jadi suami kok manja banget! coba mandinya di toilet umum yang ada di luar atau kalau nggak nyebur saja di kolong belakang rumah!" dumel Alina dalam hatinya. Ia pun tidak mengerti akhir-akhir ini dirinya paling cepat marah. Tidak boleh ada hal-hal yang bisa membuat pikirannya runyam dan stress atau apa pun itu. Pengaruh energi negatif didalam tubuhnya kini benar-benar telah mempengaruhi dan merusak kelembutan hati dan jiwanya secara perlahan.


Kakak ipar Alina pun keluar dari dalam toilet dengan setelan koko muslimnya. Sehingga nampaklah sesi religiusnya, dengan sedikit jenggot tipis di dagunya, membuat mata Alina seketika membulat sempurna, "Maa syaa Allah ... ternyata kak Dimas perfect juga, aku baru menyadari jika suami kak Andara mirip sekali dengan ustadz kondang ternama. Aku jadi ingat kak Muzzaki Ansori. Dia juga memiliki bulu-bulu halus di dagunya!" pikiran Alina mulai traveling kemana-mana.

__ADS_1


"Aneh sekali diri ku ini? kadang aku membenci seseorang secara berlebihan, menyukainya pun berlebihan. Kemarin, mendengar nama kak Ansor di sebut-sebut kepala ku terasa sakit yang luar biasa. Jantung hatiku pun seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum, anehnya sekarang rasa cinta ku kembali bertumbuh padanya dan malah menjadi terkesan berlebihan! dan parahnya aku pun jadi suka melihat kakak ipar ku sendiri. Ini mata dan jiwa benar-benar terkena gangguan! Aku benar-benar sudah seperti orang gila yang hilang warasnya. Kenapa perasaan ku sering berubah-ubah tanpa bisa untuk aku mengontrolnya, dan anehnya tubuh ku pun semakin hari semakin melemah!" Alina terus bergumam di dalam hatinya.


"Hei, kok bengong? silahkan mandi adik ipar! maaf membuat mu menunggu lama." Dimas menerbitkan senyuman terindahnya, membuat Alina semakin merasakan kerumitan dalam hatinya.


"Aneh! kenapa senyumannya terlihat manis sekali!" racau Alina yang kini mulai diganggu dan dikelabui oleh makhluk tak kasat mata yang bersarang di tubuhnya.


Perasaannya seolah-olah di buat menjadi menyukai sesuatu yang tidak patut untuk ia kagumi.


Sedangkan, Dimas kini justru sebaliknya. "Aneh, biasanya aku melihat Alina cantik dan bercahaya sekali! kenapa sekarang justru sebaliknya, wajahnya semerawut dan acak-acakan. Pucat pasi seperti mayat hidup!" bathin Dimas yang terus beristighfar di dalam hatinya.


Merasa Dimas menatapnya dengan tatapan kurang bersahabat, Alina mendadak murung. Ia pun segera masuk ke dalam toilet dan tiba-tiba menangis sesenggukan.


"Ya Allah, seburuk itu kah diriku? kenapa ia menatap ku seperti melihat sesuatu yang menjijikkan!" Alina menangis pilu. Gangguan demi gangguan semakin membuat hatinya tertekan dan menganggap semua masalah menjadi besar.


Padahal, Dimas tidak menyakitinya dalam hal apapun. Namun, Alina yang terkena gangguan jin dan sihir, seolah-olah merasakan Dimas memandangnya lemah dan sebelah mata.


"Aku tidak mau mandi, dingin!" gumam Alina tiba-tiba, ia melihat dirinya dalam pantulan cermin.


"Kenapa, menjelang Magrib wajah ku kembali pucat pasi. Jempol kaki ku pun kembali terasa ada yang mengisap?" Alina terus mengoceh di dalam toilet, ia benar-benar sudah seperti orang gila. Ia terus merasakan ada yang menarik tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


"Bekas gigitan lagi!" gumam Alina, ia merasa ketakutan sendiri melihat bekas taring yang menghisap jempol kakinya dan hisapan itu benar-benar terasa di sekujur tubuhnya.


***


Tok ... tok ... tok, "Nak buka pintunya! apa yang kau lakukan di dalam! Ibu mau membersihkan diri juga. Sebentar lagi sudah adzan Maghrib!" ucap Ibu Chyntia, dari balik pintu toilet.

__ADS_1


Alina buru-buru membersihkan wajahnya, ia pun segera mengambil wudhu untuk menenangkan kekalutan hati dan jiwanya.


"Iya, Ibu sebentar!" pekik Alina dari dalam toilet.


__ADS_2