
"Alina, kenapa menatap Mas seperti itu? Apa ada yang aneh dengan Mas?" tanya Bagaskara dengan senyuman menggodanya.
"Emmm, Mas terlihat sangat menarik sekali!" ucap Alina jujur.
"Oh ya? jadi, lebih menarik mana antara Mas dan Reno juga pemuda yang bernama Guntara tadi?" tanya Bagaskara yang sengaja ingin menguji keampuhan ilmu pelet yang baru saja ia hembuskan untuk Alina.
"Tentu menarik Mas Bagas lah, mereka tidak ada apa-apanya!" ucap Alina yang kini benar-benar hanya terpikat dengan pesona Bagaskara Ardhana Putra saja.
"Hemmm, itu berarti Alina benar-benar mencintai Mas Bagas dong?" goda Bagaskara sambil mengamit kedua jemari tangan Alina,hingga membuat Alina tertunduk malu.
"Hey, lihat Mas sekarang sayang!" ucap Bagaskara dengan mengangkat dagu Alina perlahan.
"Mas!" des*h Alina pelan, hingga membuat nafsu Bagaskara hampir di ubun-ubun ketika mendengar suara serak basah dari Alina.
"Kenapa sekarang, justru rona wajah Mas yang mendadak merah padam?" Alina balik bertanya.
"Kamu sudah pintar menggoda ya?" ucap Bagaskara dengan menoel hidung Alina yang kini tampak bekas merah di kulit putih mulus gadis belia itu.
Alina tertawa renyah, melihat wajah Abang sepupunya yang terlihat tegang. Dapat dipastikan kini junior Bagaskara telah berdiri tegak jika bersentuhan kulit sedikit saja dengan Alina.
"Mas, Alina mau buah jeruk!" ucap Alina manja.
"Sebentar, Mas kupas dulu sayang!" Bagaskara mengupas buah jeruk tersebut, ia pun menyuapi buah tersebut untuk Alina.
"Gimana, apa rasanya manis?" tanya Bagaskara yang merasa sangat bahagia bisa melumpuhkan dan berdekatan dengan Alina seperti ini.
"Manis sekali, seperti perasaan cinta Alina pada Mas Bagas!" ucap Alina yang semakin ngelantur dan tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Benarkah? bukankah dirimu sangat mencintai laki-laki lain, itu si Reno dan Guntara?" timpal Bagaskara dengan kembali mempertanyakan perasaan Alina pada dua laki-laki dewasa tersebut.
"Siapa yang mencintai kak Reno dan kak Guntara? Mas saja yang salah paham. Alina hanya mencintai Mas saja!" ucap Alina tanpa sadar, lisannya seolah-olah di gerakkan untuk mengucap kata cinta pada Bagaskara Ardhana Putra.
Hembusan sihir cinta yang Bagaskara hembuskan pada Alina perlahan telah merasuki hati dan jiwa Alina yang kini terlihat lemah dan tak berdaya. Hati dan jiwanya kini seolah-olah hanya terpaut untuk Bagaskara saja, entah kenapa ia merasa tiba-tiba menaruh rasa benci terhadap laki-laki lainnya.
Mendengar nama Reno dan Guntara Arjuna Winata di sebut, membuat Alina tiba-tiba merasa merinding dan jijik sekali. Yang ia sukai hanyalah Bagaskara Ardhana Putra.
"Lalu bagaimana dengan pemuda asing yang kerap kali menghubungi mu via telfon, apakah kau pun menyukainya?" tanya Bagaskara sambil kembali menyuapi Alina dengan buah jeruk.
"Maksud Mas kak Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori?" tanya Alina yang tiba-tiba didera keanehan, kepalanya tiba-tiba sakit luar biasa ketika dirinya hendak menyebutkan jika ia sangat menyukai Ansori. Di alam bawah sadarnya, ia memang masih merasakan pemuda yang di cintainya adalah Ansori, bukan Bagaskara.
"Jadi, namanya Muzzaki Ansori?" pekik Bagaskara yang tidak rela jika Alina dekat dengan sosok Ansori, pria yang sangat misterius menurut Bagaskara. Sebab, tak sekalipun ia melihat batang hidung Ansori, kecuali hanya mendengar suaranya dari balik telfon.
"Awww, kepala ku sakit sekali!" teriak Alina dengan memegang kepalanya yang sakit, ketika Bagaskara menyebutkan nama Muzzaki Ansori.
"Apa ilmu sihir ku telah meresap kedalam jiwanya, hingga ia kesakitan seperti itu!" bathin Bagaskara yang terlihat cemas jika ilmu peletnya sampai menyakiti Alina, wanita yang sangat dicintainya.
"Jangan sebut nama laki-laki itu lagi!" ucap Alina meraung kesakitan. Bukan karena ia tidak mencintai Ansori, namun semakin kuat perasaannya terhadap Ansori semakin ia merasakan kesakitan yang teramat sangat.
"Jantung ku!" pekik Alina seolah-olah merasa jantungnya bagaikan di tusuk-tusuk ribuan jarum.
Alina memegang dadanya yang sakit jika terus membayangi wajah Ansori.
"Kak An, kenapa jantung hati ku tiba-tiba di dera rasa sakit ketika mengingat mu dan kepala ku pun terasa di tusuk oleh ribuan paku." Alina ingin berteriak histeris sebab tidak kuat menahan rasa sakit yang menderanya.
"Mas Bagas, tolong aku!" ucap Alina yang mulai hilang kesadarannya.
__ADS_1
"Gawat, apa yang harus kulakukan? kenapa ia bisa sesakit ini?" bathin Bagaskara yang didera kebingungan.
Alina hendak tumbang, namun pergerakannya secepat kilat di tangkap oleh seseorang yang baru beranjak dari toilet umum yang ada diluar rumah Alina yang berseberangan dengan pohon rindang di mana kini Bagaskara dan Alina sedang berada.
"Alina, kau tidak apa-apa?" ucap Dimas Sidqi Amrulloh yang baru saja membuang hajatnya. Sebab toilet yang ada di dalam rumah Alina sedang antri banyak orang memasukinya. Jadi, ia memilih untuk membuang hajatnya di toilet umum saja. Dimas tidak sengaja melihat kebersamaan Alina dan Bagaskara yang terlihat tak lazim dari biasanya.
Dimas merasa ada hal yang mistis terjadi dengan Alina dan Bagaskara. "Apa yang kau lakukan terhadap Alina, aku membaca gelagat aneh pada dirimu. Tapi, jika itu benar-benar terjadi aku tidak akan melepaskan mu begitu saja!" ancam Dimas yang di bumbui rasa emosi terhadap Bagaskara.
Dimas terpaksa menyentuh dan menggendong Alina yang pingsan tak sadarkan diri.
"Lepaskan tangan kotor mu! biarkan aku yang membopongnya!" Bagaskara tak kalah sengitnya melawan Dimas Sidqi Amrulloh.
"Kau yang pergi!" bentak Dimas penuh emosi.
Perseteruan antara Dimas dan Bagaskara pun tersamarkan oleh suara musik gambus. Sehingga, hanya mereka berdua yang saling perang mulut. Sehingga Alina pun perlahan mengerjapkan matanya mendengar kebisingan dua pria dewasa tersebut.
"Apa yang terjadi pada ku!" Alina memukul dada bidang Dimas Sidqi Amrulloh, ketika ia menyadari kini ia berada dalam dekapan kakak iparnya Dimas.
"Kau sudah sadar Alina? adik ipar ku yang cerewet dan super bawel!" ucap Dimas dengan melepaskan Alina begitu saja. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Alina dan Bagaskara.
"Dasar kakak ipar tidak punya perasaan!" gerutu Alina dengan memijit kepalanya yang masih sakit.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Bagaskara dengan menyentuh kedua pipi Alina.
"Entahlah Mas, aku sendiri pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ku saat aku terus mengingat nama yang Mas sebutkan tadi, kepala ku tiba-tiba merasakan sakit, jantung ku pun tiba-tiba seperti di tusuk ribuan jarum. Namun, jika di sebut nama Reno dan kak Guntara aku tiba-tiba menaruh rasa benci terhadap mereka!" pungkas Alina yang merasa ada keanehan dalam dirinya.
Sementara Bagaskara menyeringai licik, "Akhirnya keampuhan ilmu ku semakin teruji! Aku tidak menyangka jika secepat itu ajian pemikat ku merasuki tubuh mu, Alina!" bathin Bagaskara tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1