
Keluarga Alina nampak bersuka cita menyambut kedatangan mempelai pria dari keluarga Dimas Sidqi Amrulloh calon imam dari kakaknya Andara Albiya Finzani.
Kedua mempelai pun sudah duduk berdampingan di depan penghulu. Di saksikan oleh keluarga besar kedua belah pihak, handai taulan juga para tetangga sekitar, acara sakral itu pun berjalan dengan lancarnya.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!" ucap para saksi, hanya dengan hitungan detik Andara Albiya Finzani pun resmi menjadi istri Dimas Sidqi Amrulloh.
Andara mencium punggung tangan suaminya, begitu pun Dimas ia mengecup lembut kening istrinya.
Kedua mempelai yang sudah sah menjadi pasangan suami istri itu pun tampak bahagia, senyum keceriaan nampak terpancar dari wajah keduanya.
Kedua orang tua mereka pun nampak bahagia dan mendo'akan yang terbaik untuk pernikahan putra dan putrinya. Begitu pun dengan Alina, ia pun merangkul dan mendo'akan keberkahan untuk kakaknya.
"Selamat, ya kak Andara! semoga Allah menghimpun keluarga kakak dalam keberkahan. Semoga kakak cepat memberikan keponakan untuk Alina!" ucap Alina dengan berbisik kecil di telinga kakaknya, dan hal itu cukup membuat wajah Andara bersemu merah. Pasalnya, adiknya Alina dengan blak-blakan meminta dirinya untuk segera punya momongan.
"Terima kasih, Dek!" ujar Andara dengan rasa malu-malu yang menyelubungi hatinya. Sebab, adiknya Alina bicara tanpa filter padanya.
"Sama-sama, kakak ku yang baik!" Alina beralih menatap kakak iparnya, Dimas Sidqi Amrulloh. Dimas pun menelungkupkan tangan di dadanya ketika berhadapan dengan Alina. Alina pun berlalu pergi dari hadapan kakak iparnya tersebut, ia enggan bersitatap dengan Dimas mengingat kata-kata Dimas yang menusuk hatinya dua bulan yang lalu.
"Untung saja statusnya kakak ipar. Jika tidak, aku enggan sekali melihatnya!" gerutu Alina. Ia pun segera berkumpul dengan panitia lainnya, sembari mempersiapkan segala hidangan yang akan disajikan untuk para tamu undangan nantinya.
"Hemmm, sepertinya adik ipar ku itu masih marah pada ku? kalau satu rumah dengannya bisa spot jantung ku!" bathin Dimas dengan menatap punggung Alina yang kini menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
***
Di bagian ke panitiaan.
Bagaskara selaku ketua panitia diacara walimahan Andara dan Dimas pun menatap wajah Alina dengan penuh kasih. Ia nampak terpesona dengan kecantikan dan keanggunan Alina yang kini berbalut kebaya panitia dengan riasan natural di wajah gadis belia itu membuat Bagaskara semakin terobsesi untuk memiliki Alina. Hingga terbesit niat jahat untuk memiliki Alina dengan caranya sendiri.
"Alina, kau tampak cantik hari ini? Aku tidak sudi jika ada yang memandang mu selain aku!" batin Bagaskara menyeringai licik.
"Setelah istirahat makan siang nanti, aku akan mengajak mu makan bersama. Dan akan ku hembuskan buhul-buhul cinta atau sihir dan guna-guna untuk mengikat mu selamanya. Dan ku pastikan tidak ada seorang pun yang mampu mendekati mu kecuali diriku!" bathin Bagaskara dengan nafsu syaitannya.
Sementara Alina fokus di bagian pondokan es buah. Ia tidak menyadari jika Bagaskara menatapnya dengan penuh ambisi ingin memilikinya.
"Kak Reno, terima kasih atas bantuannya!" ucap Alina ketika Reno dan dua orang teman panitia laki-laki lainnya mengantarkan batu es, air masak dan juga Syrup Marjan di pondokan es buah yang kini menjadi tugasnya untuk menjaga dan mengisi es buah tersebut kedalam cangkir khusus es buah untuk para tamu undangan nantinya.
Reno menatap penuh arti pada Alina, "OMG, dia sungguh sempurna!" bathin Reno tak berkedip memandang wajah ayu Alina.
"Ma-af, i-iya mengantar es batu!" ucap Reno gelagapan. Kalau gelagapan, tandanya suka lho?" Putri kembali menggoda Reno yang semakin tertunduk malu oleh ucapannya.
"Apa sich Put, lihat kak Reno jadi gelagapan!" pungkas Alina yang nampak biasa saja. Alina mengira teman-teman sesama panitianya saling bersenda gurau.
"Hehe, kidding!" ucap Putri terlihat santai.
"Kurang ajar! berani-beraninya si Reno menggoda dan bersenda gurau dengan Alina ku!" bathin Bagaskara dengan mengepalkan tinjunya. Ia cemburu melihat interaksi Alina bersama-sama teman panitia laki-laki lainnya.
Queensha Putri yang mengetahui akan kecemburuan Bagaskara terhadap Alina pun sengaja memanas-manasi Bagaskara.
__ADS_1
"Rasakan oleh mu, pembalasan dendam ku Bagaskara Ardhana Putra! Setelah ini pun kau akan mendapatkan kejutan yang lebih membuat spot jantung mu!" bathin Putri penuh kemenangan.
Alina pun melanjutkan kegiatannya bersama Putri, keduanya pun nampak kompak menaruh es buah pada cangkirnya. Agar jika ada tamu undangan sudah berdatangan, mereka bisa langsung mengambil satu-persatu es buah yang sudah tersedia. Tanpa repot-repot menunggu lama.
"Eh, Put. Kamu jaga dulu di sini! Aku hendak buang hajat dulu!" ucap Alina segera berjalan menuju toilet yang memang di buat khusus untuk para tamu yang datang dari luar. Ia tidak mengetahui jika Bagaskara diam-diam mengekorinya.
Alina pun segera membuang hajatnya. Setelah itu, ia pun hendak keluar dari dalam toilet. Namun, langkahnya tertahan. Bagaskara menyelinap masuk ke dalam toilet tersebut dan menguncinya dari dalam. Ia pun membekap mulut Alina, "Sayang, aku sangat merindukanmu!" ucap Bagaskara dengan menekan tubuh Alina di tembok.
"Mas lepaskan! jangan nekat! bagaimana jika ada yang mengetahui aksi Mas seperti ini!" ucap Alina gelagapan.
Bagaskara menarik lembut dagu Alina, ia pun mengecup lembut bibir ranum dan menggoda itu.
"Mas!" ucap Alina kaget setelah mendapat serangan mendadak dari Bagaskara.
"Alina, tolong jaga sikap mu jika berhadapan dengan laki-laki lain selain diriku!" ucap Bagaskara dengan menatap lekat nanar wajah Alina yang terlihat gugup dan ketakutan.
"I-iya, Mas!" ucap Alina terpaksa. Ia tidak ingin Bagaskara berbuat kekacauan di walimahan kakaknya.
"Terima kasih sayang!" ucap Bagaskara dengan memandangi wajah Alina yang membuat detak jantungnya semakin berdegup kencang.
"Kau hanya milik ku Alina!" ucap Bagaskara dengan menelusuri wajah Alina dengan kedua jemari tangannya.
"Mas, jangan begini! ayo kita keluar dari toilet ini, sebelum ada orang yang mengetahui keberadaan Mas dan aku disini!" ucap Alina dengan melepaskan dirinya dari kungkungan Bagaskara.
"Oke ... oke! akan tetapi nanti pas jam makan siang, kau harus menikmati makan siang bersama, Mas! tidak boleh gabung dengan panitia lainnya. Jangan mencoba untuk tebar pesona di hadapan laki-laki mana pun selain Mas!" tegas Bagaskara dengan nada serius.
__ADS_1
"Iya, iya. Nanti kita makan siang bersama!" pungkas Alina yang tidak ingin menambah masalah dengan sepupunya itu.
"Yes! itu berarti aku bisa melancarkan aksi ku untuk mengikat Alina lewat sihir dan guna-guna ku! tentunya akan lebih dahsyat lagi dan akan lebih mendarah daging jika aku hembuskan ajian pemikat ku lewat makanan yang akan kami makan bersama nantinya!" bathin Bagaskara menyeringai jahat.