
"Jangan ikut campur urusanku! kau cukup duduk manis di rumah menjadi permaisuriku untuk melampiaskan segala hasratku! dan jangan coba-coba pergi dari hidupku," ancam Bagaskara dengan menatap nyalang pada wajah Queensha Putri.
"Aku tidak sanggup lagi untuk hidup bersamamu, aku ingin kita bercerai!" tegas Putri dibumbui rasa emosi yang 4 tahun terakhir ini mendera jiwanya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Queensha Putri, kau adalah nyawa kehidupanku!" tegas Bagaskara dengan menarik dagu Putri dengan memberikan kecupan manis di bibir istrinya.
"Lepaskan aku, Mas! kau sudah gila, aku tidak ingin terus berada dalam sangkar emasmu! aku akan membongkar semua rahasia kekejianmu yang kerap kali menyakiti Alina dengan cara tak kasat mata. Aku bersyukur sepanjang 4 tahun pernikahan kita, Allah subhanahu wa ta'ala tidak menanamkan benih di rahimku. Karena Dia lebih mengetahui bahwa dirimu bukanlah sosok suami yang bertanggung jawab, hari ini detik ini juga aku mengundurkan diri menjadi istrimu. Cukup sudah kau melukai perasaanku dengan semua sikapmu, aku menyesal karena telah menikah denganmu."
Putri benar-benar tidak ingin lagi menjalani hidup berumah tangga dengan Bagaskara yang hanya terlihat alim dari luar namun bejat dari dalam. Selama ini kau telah menipu banyak orang dengan gaya religiusmu, akan tetapi semua itu hanyalah kamuflase yakni kebohongan semata untuk mengelabui orang-orang awam dengan ilmu religi yang kau miliki, namun nyatanya tak satupun yang engkau terapkan dalam kehidupan sehari-hari kecuali engkau mengingkarinya. Ini surat panggilan dari pengadilan Agama, kau harus datang memenuhi itu semua!" terang Putri dengan meninggalkan Bagaskara yang masih membeku di tempatnya.
"Tidak bisa Queensha Putri Fayanna, aku tidak ingin bercerai denganmu!" sela Bagaskara hendak mengejar Putri, namun wanita tersebut telah berlalu pergi dari hadapannya.
Putri berlari secepat mungkin meninggalkan kediamannya dan Bagaskara yang selama 4 tahun ini dihuninya.
"Brukkk, awww ... " Putri tidak sengaja menabrak tubuh seorang pemuda, sebab dirinya berjalan begitu sangat cepat demi untuk menghindari kejaran Bagaskara.
"Putriii!"
"Renooo!"
Keduanya pun saling menatap sejenak, "Apa kabarmu Queensha Putri? sudah sejak lama aku tidak melihatmu setelah dirimu menikah." Reno begitu sangat merindukan sahabatnya itu yang dulu sebelum Putri menikah mereka sangat sering sekali berbagi kisah bersama dengan Alina dan juga teman-teman yang lainnya.
__ADS_1
"Aku baik, Ren. Kau sendiri?" tanya Putri. Namun, sorot matanya tetap menoleh ke belakang kalau-kalau sekarang Bagaskara yang masih menyandang sebagai status suaminya terus mengejarnya.
"Kabar ku buruk sekali, Alina menolakku untuk menjadi calon suaminya. Padahal aku benar-benar tulus untuk mempersuntingnya. Sejak 5 tahun terakhir aku menunggu Alina untuk menyambut cintaku, pada kenyataannya ia mengatakan jika dirinya menganggapku hanya sebagai seorang sahabat. Padahal, aku sangat yakin Alina berusaha untuk menerima ku. Akan tetapi, tiba-tiba aku melihat keanehan dalam dirinya ia begitu terlihat membenciku setelah aku mengutarakan segala rasaku. Akhirnya, dengan gamblang ia menolakku!" terang Reno dengan wajah sendunya.
Baik Reno maupun Putri, akhirnya memilih duduk di sebuah taman yang memang kini telah ramai dikunjungi orang-orang.
"Syukurlah, ia tidak mengejar ku!" Putri terlihat ngos-ngosan.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padamu Put?" tanya Reno penasaran. Sebab dari tadi ia melihat wajah Putri seperti ketakutan soalnya dikejar-kejar sesuatu.
"Aku ingin bercerai dengan mas Bagas, aku tak sanggup lagi bertahan hidup dengannya. Selama ini ia selalu mengukungku dalam sangkar emasnya, ia tidak mengizinkanku untuk keluar rumah atau pergi ke mana-mana kecuali hanya sebatas pelampiasan hasratnya."
"Berdebah! pantas saja Alina selalu menolakku, bukan hanya itu saja banyak lelaki yang mencoba untuk mendekati dan melamar Alina namun selalu gagal sebab melihat keanehan dalam dirinya. Aku pun merasakan hal itu." Reno nampak mengepalkan tinjunya, dirinya benar-benar geram melihat kebejatan Bagaskara yang tiada hentinya selalu menghembuskan Alina dengan buhul-buhul cintanya yang sangat tidak masuk akal, padahal jelas-jelas jika ia sudah menikah.
"Semoga saja, Bagaskara kena azabnya!" sumpah serapah pun keluar dari lisan Reno dengan begitu gamblangnya.
"Aku menyesal telah menikah dengannya, aku begitu sangat membencinya. Ia selalu mengancamku ingin menghancurkan kehidupan kedua orang tuaku jika aku berani melawan ataupun menentangnya." Putri pun meluahkan segala kekesalannya dan menceritakan segala pengalaman buruknya pada Reno yang ia yakini bisa menjaga rahasianya.
"Aku mengira kau bahagia hidup bersamanya Put? jika ku tahu kau menderita bersamanya takkan kubiarkan kau menikah dengannya!" sela Reno yang juga ikut merasakan kepedihan yang dialami oleh Putri.
Seketika Putri terdiam, ia baru menyadari jika dahulu ia dan Reno begitu sangat dekat. Mereka tidak menyadari jika ada rasa yang terpendam di antara keduanya. Akan tetapi, saat itu yang ia tahu Reno begitu menggandrungi Alina sahabatnya. Hingga sampai tak terpikir tentang perasaannya sendiri, ia selalu mendengar curhatan Reno tentang Alina. Hingga ia tidak menyadari ada cinta yang bertumbuh di hatinya dan Reno. Mereka seolah-olah terjebak cinta segitiga, dan kini keduanya sama-sama patah hati.
__ADS_1
Reno patah hati karena ditolak Alina berkali-kali, sedangkan Putri kecewa dan terluka oleh sikap Bagaskara yang begitu sangat melukai hati dan jiwanya.
"Aneh, kita yang dulu sama-sama ceria dan penuh semangat akhirnya bertemu dalam keadaan patah hati." Putri terkekeh sambil mengingat kenangan manis di masa dia masih gadis dahulu.
"Jika ku tahu begini akhirnya, aku tidak ingin menerima perjodohan dengan Bagaskara apapun alasannya. Aku menjadi sangat jijik melihatnya, aku menyia-nyiakan masa depanku hanya untuk hidup bersamanya. Laki-laki yang sama sekali tidak pernah menghargaiku!" Putri menyandarkan kepalanya di bangku yang saat ini ia tempati bersama Reno.
"Jangan disesali semua yang terjadi, Put. Mulai saat ini aku akan kembali menjadi teman baikmu, aku akan selalu memberi support kepadamu seperti saat-saat kita masih sama-sama muda dahulu," sela Reno dengan menatap lekat ke arah Putri yang begitu terlihat sangat rapuh oleh sebab gagal membina rumah tangganya yang sama sekali tak bermakna di hadapan suaminya Bagaskara Ardhana Putra.
"Memangnya kita sudah tua," sarkas Putri yang tiba-tiba melebarkan tawanya.
Baru bersama Reno, Putri terlihat sangat bahagia dan penuh semangat untuk menata hidupnya.
Keduanya pun sama-sama tertawa, mengingat perjalanan hidup mereka yang begitu penuh dengan lika-liku yang akhirnya membuat mereka tersadar dan mengambil hikmah dari segala kejadian yang ada.
"Putri, aku berjanji akan selalu berada di samping mu setelah ini. Bukannya aku mendukungmu untuk bercerai dengan suami mu. Akan tetapi, jika pernikahanmu dengannya membuatmu merasa tersiksa, mengakhirinya akan menjadi lebih baik dan menenangkan jiwamu!" batin Reno tanpa berani mengungkapkan segala yang ia rasakan pada Putri. Karena belum saatnya untuk ia mengatakan segala isi hatinya pada Putri, sebab Putri masih berstatus istri Bagaskara dan Reno tidak ingin menjadi parasit dalam rumah tangga Putri dan Bagas sampai akhirnya mereka benar-benar mengakhiri pernikahan mereka dengan kata perceraian.
***
Sementara, disisi lain. Alina nampak termenung dibilik kamarnya, ia menyandarkannya tubuhnya pada kepala ranjang.
"Mulai detik ini, aku akan menjaga jarak ku dari kaum Adam. Aku harus sembuh dari sakit ku. Setelah ini aku akan kembali melakukan terapi ruqyah sampai makhluk yang ada dalam tubuh ku pun keluar dengan sendirinya. Aku harus melawan rasa sakit ku, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat," bathin Alina dengan menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1