Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 66. Sah Berujung Mistis


__ADS_3

"Apa aku salah lihat? kenapa kak Bagas tiba-tiba berubah menjadi seperti orang stroke, tubuhnya pun miring sebelah dan tidak sempurna! dia berjalan seperti orang lumpuh, kepalanya pun bergerak-gerak seperti orang yang mengidap disabilitas!" Alina mengucek-ngucek matanya khawatir ada yang salah dengan penglihatannya.


"Hahaha, dia seperti penyandang disabilitas!" tiba-tiba tawa Maharani pecah melihat gerak jalan Bagaskara yang tak sempurna.


"Kenapa dirimu tertawa?" tanya Alina sambil mengenyitkan dahinya.


"Kau lihat kenapa kak Bagas seperti itu? apa mataku yang salah lihat?" ucap Maharani yang kini masih melebarkan tawanya.


"Jadi kau pun melihat seperti yang aku lihat?" tanya Alina dengan rasa tak percayanya.


Maharani pun mengangguk pelan sambil menahan cekikikannya melihat hal yang aneh terjadi dalam diri Bagaskara dalam pandangannya.


"Sepertinya penglihatan kalian berdua sedang tidak normal, deh! kami melihat kak Bagas begitu tampan dan dan sangat perfect sekali!" timpal Chika yang protes mendengar ucapan Alina dan Maharani tentang penampilan Bagaskara.


"Iya Chika benar, kak Bagas memang terlihat tampan dan mempesona!" Dela pun ikut menimpali.


"Sepertinya tatapan kalian wajib diruqyah, deh!" timpal Chika lagi.


"Ya sudah mungkin kami yang salah!" ucap Alina yang mengulangi pandangannya, namun kini Bagaskara kembali terlihat normal. Begitu pun Maharani, ia melihat Bagaskara kembali tampan dan sangat berkharisma.


Tanpa disadari oleh keempat sekawan itu, Bagaskara sebenarnya memang secara tak kasat mata tubuhnya memang seperti penyandang disabilitas oleh sebab sihir yang dipelajarinya, makhluk tak kasat mata yang menguasai tubuhnya kini berbuat sesuka hati padanya.


Terkadang Bagaskara terlihat sangat tampan, namun di sisi lain sebenarnya Bagaskara kini terlihat buruk seperti makhluk halus yang bersarang di tubuhnya tidak ada indahnya kecuali sangat menakutkan dan menyeramkan. Ilmu sihir yang dipelajari Bagaskara kini benar-benar telah merasuki tubuhnya, sehingga makhluk tak kasat mata yang buruk tersebut telah menyatu dengan dirinya. Ia benar-benar tidak bisa lepas dari ilmu syirik tersebut.

__ADS_1


Setelah memandangi kediaman Alina, dengan sangat lama Bagaskara pun masuk ke dalam mobil pengantin menuju kediaman Queensha Putri Fayanna bersama Mama Laras dan sanak keluarga lainnya yang mengantarkannya diikuti pula oleh kedua orang tua Alina, pak Farel dan ibu Chintya.


"Alina, seandainya kau yang menjadi istriku betapa bahagianya hatiku saat ini. Namun, apa daya keterikatan saudara sepupu di antara kita menghalangi diriku untuk mempersuntingmu. Aku terpaksa menikahi Putri sebagai pelampiasan nafsuku juga menuruti permintaan Mama Laras!" Bathin Bagaskara dengan terus melihat kediaman Alina untuk mengobati segala kepenatan hati yang kini menderanya.


Mama Laras menggenggam tangan putranya ketika melihat Bagaskara selalu menatap kediaman Alina. Ia seolah memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh Bagaskara putranya.


"Maafkan Mama Nak, inilah yang terbaik untukmu dan Alina! kau harus segera menikah dengan Putri, agar dirimu bisa lepas dari Alina. Karena sampai kapanpun Mama tidak merestui kau bersama adik sepupumu!" batin Mama Laras yang sebenarnya berat hati melihat kesedihan di mata putranya.


Bagaskara pun tertunduk lesu, ia berusaha untuk tenang. Ditatapnya guratan wajah ibunya yang sudah berusia setengah abad itu. "Mama Bagaskara akan menuruti keinginan mama menikah dengan wanita yang sebenarnya tidak Bagas cintai. Namun, Bagas sangat berterima kasih sekali pada mama. Sebab, dengan menikahi Putri aku bisa membalas dendamku kepada Putri yang telah berani-beraninya membongkar kebejatanku di hadapan semua teman-temannya di cafe Xx tempo hari. Dia akan ku jadikan budak hawa nafsuku di setiap harinya!" batin Bagaskara pada sosok Queensha Putri.


***


Sepuluh menit kemudian, keluarga Bagaskara tiba di kediaman Queensha Putri Fayanna.


Bagaskara terlihat gagah di mata orang-orang biasa namun sebenarnya rupanya sangat buruk seperti makhluk tak kasat mata yang telah bersekutu dengan dirinya.


Mama Shinta dan papa Rama menyambut baik kedatangan besan dan menantunya mereka sangat bahagia dengan hari pernikahan putra dan putrinya. Kedua keluarga itu pun saling bersalaman satu sama lain, mereka pun menuju pelaminan khusus acara akad nikah yang memang telah dihiasi oleh WO dengan dengan sedemikian indahnya.


Bagaskara nampak gagah, ia duduk berhadapan dengan bapak penghulu yang akan segera menikahkan dirinya dengan Putri. Putri masih berada di dalam kamarnya, ia menunggu ijab qobul selesai barulah ia akan menampakkan wajahnya di hadapan semua orang-orang yang hadir di sana.


Bagaskara menjabat tangan pak penghulu sebagai tanda dimulainya proses ijab qabul tersebut. Bagaskara berusaha untuk fokus dan konsentrasi, pasalnya yang ada dalam pikirannya kini adalah menikah dengan Alina bukan dengan Putri. Bagaskara nyaris salah menyebutkan nama, namun sang mama bersikeras mengingatkannya agar fokus dan melupakan tentang Alina adik sepupu yang sangat dicintainya itu.


Hanya dengan satu tarikan nafas Bagaskara pun mampu mengucapkan ijab qabul di depan semua yang hadir di sana, ia pun menyeringai licik. "Akhirnya aku menikah juga denganmu Queensha Putri Fayanna, lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu. Kupastikan hari-harimu akan terlihat menyeramkan. Kau akan merasakan panasnya hawa api neraka bersama ku!" Bagaskara pun tersenyum devil.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi? Apakah sah pernikahannya?" tanya bapak penghulu.


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Semua orang yang hadir pun mengucapkan selamat atas resminya Bagaskara menikahi Queensha Putri. Bagi orang-orang yang mengenal Bagaskara, mereka beranggapan bahwa Bagaskaran adalah sosok guru atau ustadz yang sangat baik dalam pandangan masyarakat desa mereka, mengingat akan santun dan lembutnya budi pekerti Bagaskara ketika berbicara di hadapan khalayak ramai. Mereka tidak tahu jika sebenarnya ustadz yang mereka agungkan itu adalah serigala berbulu domba.


Berapa detik kemudian, Queensha Putri keluar dari dalam kamarnya dengan didampingi oleh MUAnya dan dua orang asisten penata rias tersebut. Putri terlihat sangat cantik sekali seperti ratu di singgasana kerajaan. Semua orang nampak terpukau dengan kecantikan yang terpancar dari sosok Queensha Putri Fayanna.


Terlebih Bagaskara, hatinya merasa geregetan dan tidak sabaran ingin segera mencumbui sosok Putri yang kini telah menjadi istrinya.


"Dia sangat cantik sekali! aku menjadi semakin gemas ingin segera menikmati setiap inchi tubuhnya!" batin Bagaskara dengan hasrat yang bergelora.


Putri pun duduk berdampingan di samping Bagaskara, keduanya pun saling menyematkan cincin pernikahan di jari masing-masing. Putri pun mengecup punggung tangan Bagaskara yang kini telah menjadi suaminya. Bagaskara pun memberikan kecupan hangat di kening Queensha Putri.


Namun yang menyesakkan dada Bagaskara mulai melancarkan aksi bejatnya. Ia pun mencium kening Queensha Putri dengan menyelipkan nama Alina Cahya Kirani di dalam hatinya. Ia pun melafalkan mantra-mantra pemikatnya sehingga seolah-olah terjadi pertukaran raga antara Putri dan Alina secara gaib.


"Tubuhku kenapa seperti ada yang merengkuh dan mencium keningku?" gumam Alina pelan.


Alina merasakan ada yang mengecupnya lembut, lewat hembusan angin yang masuk melalui celah kamarnya, seolah-olah menyampaikan pesan cinta yang tak dimengerti olehnya.

__ADS_1


"Mas Bagas!" ucap Alina tiba-tiba mendes*h pelan, tubuhnya seperti di sentuh layaknya pengantin baru.


Sahnya pernikahan Putri dan Bagas, kini justru berujung mistis dalam diri Alina Cahya Kirani, gangguan tak kasat mata justru semakin menyerang tubuh Alina tanpa bisa ia untuk mencegahnya.


__ADS_2