Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 129. Wahai Hati Tenanglah!


__ADS_3

"Menangislah, jika memang harus menangis! kita hanya manusia yang jika ditimpa suatu masalah yang membuat kita resah dan sudah terlalu beratnya beban hidup wajar saja jika air mata adalah wasilah sebagai pencuci kesedihan kita. Aku akan selalu ada di sini untuk menemani mu Alina," ujar Nur Syifa sambil mengusap pelan bahu Alina, untuk menguatkannya.


Alina masih terisak dalam tangisnya, bahu Nur Syifa menjadi tempat ternyaman untuk bersandarnya kini.


"Bagaimana sudah lebih tenang?" tanya Syifa sambil mengusap sisa air mata Alina yang menetes di pipinya.


Alina mengangguk pelan, setidaknya ia sedikit merasa tenang, sebab ada Syifa menguatkan dirinya agar tidak rapuh.


"Alhamdulillah, kalau begitu tenanglah! tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan pelan." Nur Syifa menginterupsi, Alina pun mengikutinya. Ia pun merasakan ketenangan setelah di dera oleh kesedihan yang mendalam.


"Terima kasih, Nur Syifa." Alina mencoba untuk tersenyum dan melupakan permasalahannya bersama Ansori barusan.


"Sama-sama ukhti sholiha,'' ujar Nur Syifa sambil menyemangati gadis yang sedang rapuh itu.


Tidak lama, para orang tua pun berdatangan mengantar anak-anak mereka untuk dititipkan di PAUD penitipan Khansa Day Care.


Alina tetap profesional dalam pekerjaannya, ia pun mengesampingkan urusan pribadinya demi anak-anak asuhnya.


Sementara Aslan kecil buah hati Ansori dan Khumaira pun masih tertidur pulas. Alina meninggalkan bayi mungil itu dan menyambut anak asuh lainnya.


Ola, Zahra, Faiqa, Arjuna, sudah datang mereka terlihat bersemangat untuk belajar dan bermain bersama para pengasuhnya.


Anak bayi pun menyusul dua orang baru diantarkan oleh orang tua mereka, yakni Ridho baru berusia 4 bulan, dan Dimas baru berusia 6 bulan mereka pun diletakkan pada box bayi masing-masing.


Tidak lama Ummu Hamzah dan mbak Diah selaku kepala sekolah di paud penitipan tersebut pun baru hadir bergabung bersama Alina dan Nur Syifa.


"Maa syaa Allah, maaf baru hadir." Ummu Hamzah dan mbak Diah pun menyalami dan merangkul tubuh Alina dan Syifa. Mereka terlihat kompak dalam berbagi tugasnya.

__ADS_1


Setiap pengasuh memiliki kewajiban mengawasi satu orang anak bayi, Alina fokus menjaga dan merawat Aslan kalau kalau bayi itu terbangun. Alina berusaha untuk mengesampingkan rasa egonya, meskipun ia tahu Aslan adalah anak dari seorang masa lalunya, Alina tetap mengasuh anak itu dengan sepenuh hati seperti anaknya sendiri meski ia masih single Alina begitu menampakkan sisi keibuannya.


Baby Ridho dan Dimas nampak anteng berada di boxnya, mereka melihat mainan putar-putar di atas boxnya. Mainan warna-warni itu seolah mengasah saraf motorik mereka, kedua anak bayi itu tersenyum senang melihat mainan musik yang berputar-putar di atasnya.


Alina pun ikut tersenyum melihat bayi-bayi mungil yang sangat menggemaskan, ia merasa terhibur oleh kehadiran tangan-tangan mungil itu.


"Ukhti, kamu jaga di ruangan bayi saja ya? biar aku yang menghandle anak-anak PAUD lainnya untuk bermain di luar.'' Nur Syifa sengaja menyuruh Alina cukup berada di dalam ruangan mengingat rekan kerjanya itu sedang tidak baik-baik saja.


''Terima kasih atas pengertianmu Nur Syifa,'' ujar Alina semakin terlihat bersemangat.


Sementara ummu Hamzah bergelut di dapur memasak untuk keperluan anak-anak PAUD dan juga untuk makan siang mereka selaku pengasuh.


Mbak Diah sendiri memantau perkembangan penitipan hari ini apakah anak-anak bisa dihandle dengan baik.


Para anak-anak yang berusia 1 sampai 3 tahun nampak aysik bermain perosotan dan istana balon.


Anak-anak paud itu pun saling berhuraria sambil menaiki istana balon.


''Unda, Ola au endong ( Bunda, Ola mau gendong )," ujar anak wanita yang baru berumur 2 tahun itu.


"Iqa juga au endong,'' ujar Faiqa yang baru berusia 1,5 tahun.


Sedangkan, Arjuna dan Zahra mereka masih tetap asyik bermain dan tidak ingin diganggu.


Pada jadwal waktu Dhuha paud itu pun dibimbing untuk melaksanakan ibadah salat Sunnah Dhuha untuk melatih mereka agar besar nanti bisa memahami tentang ibadah salat baik sunnah maupun wajib.


Selama seharian penuh, anak-anak anak-anak PAUD itu pun dibimbing untuk melaksanakan ibadah salat lima waktu. Pada saat jam istirahat pun mereka ditertibkan untuk tidur siang, selain bermain dan belajar bersama sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia sampai waktu sore hari.

__ADS_1


Waktu pun sudah menunjukkan pukul lima sore, para orang tua kembali menjemput anak-anaknya.


Alina nampak menggendong si kecil Aslan yang dari sejak tadi betah dalam gendongannya. "Sayang, sebentar lagi ummi dan abi mu akan segera menjemputmu. Sampai ketemu besok lagi, ya?" Alina mencium pipi gembul milik Aslan.


Tidak lama, orang tua Aslan pun datang. Hanya Ansori yang datang, sedangkan istrinya Khumaira tidak ikut menjemput, ia sudah diantar pulang ke rumah sebelum jam empat sore.


"Assalamu'alaikum,'' sapa Ansori ketika melihat Alina menggendong bayi mereka di teras rumah.


''Wa' alaikumsalam warahmatullahi,'' Alina menoleh ke sumber suara, ia mencoba menetralkan perasaannya agar jangan sampai terbawa suasana.


''Alina tenanglah!" batin Alina menguatkan diri sendiri.


''Aslan, kita pulang ya sayang. Abi sudah mau jemput Aslan,'' ujar Ansori sambil menatap ke arah Alina yang begitu telaten mengurusi anaknya.


''Andai saja dahulu aku berjodoh dengan mu Alina Cahya Kirani, tentunya kita akan menjadi pasangan yang paling bahagia. Namun, takdir menuliskan jika kita tidak bisa bersama. Maafkan aku Alina, ini semua salahku pergi dari hidupmu. Bertahun aku mencari keberadaan mu, namun kita kehilangan kontak.'' Ansori masih terus memikirkan Alina, ia merasa sangat bersalah sebab telah meninggalkan gadis itu dalam keadaan terpuruk.


''Aslan sama Abi dulu, ya?" ujar Alina sambil mencium pipi kiri dan kanan Aslan. Entah kenapa, ia begitu sangat menyayangi bayi mungil itu.


Deg, perasaan Ansori seketika tersentuh rasa, seolah mengamit kembali kenangan masa lalu antara dirinya dan Alina. Tapi, ia berusaha untuk menepis perasaannya. Ansori pun menyadari jika dirinya telah mempunyai istri dan anak.


''Wahai hati tenanglah! Ini ujian,'' Ansori membatin dalam hatinya.


Begitu pun dengan Alina, ia pun merasakan hal yang sama. ''Ini tidak boleh terjadi, wahai hati tenanglah! Allah telah mentakdirkan yang terbaik untuk mu, jangan kau ikuti bisikan syaitan yang hendak menyesatkan mu!'' Alina membatin dalam hatinya.


Ansori mengambil alih bayi Aslan dari gendongan Alina, ''Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena sudah merawat bayiku dengan baik.'' Ansori menatap Alina dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


''Sama-sama." Hanya satu patah kata yang teruntai dari gadis berhijab syar'i itu.

__ADS_1


__ADS_2