Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 115. Preman Taubat


__ADS_3

''Ta-tapi, Guntur tidak bisa wudhu, Kak. Guntur lupa,'' ucap Guntur sambil nyengir kuda.


''Astaghfirullah, makanya dari sejak dulu Ummi dan Abi juga kak Syifa sudah wanti-wanti mengingatkan agar dirimu mau belajar ilmu agama. Akan tetapi, diri mu sering membantah dan lebih betah dengan segala keugal-ugalanmu, percuma jago bernyanyi dan jago track. Jika minim ilmu agama, nanti yang ditanya di akhirat itu adalah amal ibadahmu, sholat mu, puasamu, sedekahmu dan serentetan ibadah lainnya bukan hobby mu yang tidak bermanfaat itu. Kakak yakin surah Al Fatihah pun kini kau lupa akan urutan ayat-ayatnya,'' omel Nur Syifa pada adik sepupunya itu.


''Iya, Guntur akui Guntur memang bodoh kak, tapi Guntur mau belajar lebih baik lagi. Bisakah kakak mengajariku berwudhu?'' pinta Fajar Guntur Ramadhan dengan nada serius.


''Baiklah, mari! sebentar lagi sudah masuk waktu Maghrib. Khawatir nanti Alina sudah menuju kemari, kakak tidak ingin ia menunggu lama,'' sela Nur Syifa sambil berusaha membimbing adik sepupunya itu untuk mengambil wudhu.


Guntur pun dengan cekatan mengikuti arahan kakaknya, dari awal membasuh kedua telapak tangannya, berkumur-kumur, kemudian mencuci lubang hidung, membasuh muka dan gerakan wudhu lainnya dan seterusnya sampai mata kaki hingga memanjatkan do'a setelah menyelesaikan ritual wudhunya.


''Terima kasih, Kak!'' ucap Fajar dengan seutas senyuman yang terukir dari lesung pipinya yang terlihat manis.


''Sama-sama, Dek.'' Nur Syifa ikut merasa lega melihat perubahan adiknya yang begitu sangat tiba-tiba.


''Mau kemana?'' tanya Nur Syifa sambil melihat penampilan Fajar dari atas sampai bawah.


''Ke Mesjid, ikut dengan Abi atau ikut kak Syifa saja!'' ujar Fajar Guntur Ramadhan terlihat malu-malu. Sebab, ini pertama kalinya dirinya melangkahkan kakinya menuju Mesjid setelah usianya yang ke 20 tahun.


''Hemmm, semangat sich boleh tinggi. Tapi, penampilan itu kudu di perhatikan. Sebentar, kakak pinjamkan sarung dan koko Abi. Hendaknya penampilan menghadap Allah itu dengan pakaian yang baik, jangan seperti preman pasar kayak gini,'' omel Nur Syifa yang melihat penampilan Guntur seperti bad boy.


''Ada apa, Nak? tumben kalian terlihat akur,'' sela Abi Sofyan Al Fathoni yang baru keluar dari dalam kamarnya ketika melihat Syifa dan Guntur terlihat akrab.


''Ini Bi, ada preman taubat!'' pungkas Nur Syifa tanpa filter.


''Maa syaa Allah, benarkah anak Ummi sudah taubat?'' tanya Ummi Zainab Zahrotul Rahmah ketika mendengar percakapan suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


''InsyaAllah Ummi,'' ucap Abi Sofyan dengan binar wajah bahagia ketika mendengar putra semata wayangnya ingin bertaubat.


''Alhamdulillah, jika begitu Ummi senang mendengarnya. Sudah sangat lama Ummi menanti saat-saat do'a Ummi di ijabah oleh Allah Subhana wa ta'ala,'' ucap Ummi Zainab di penuhi rasa haru terhadap perubahan anaknya yang begitu sangat tiba-tiba.


''Ini pakai sarung dan baju koko punya Abi, pecinya juga biar kelihatan tampan seperti ustadz Adi Hidayat,'' ujar Abi Sofyan memberi semangat.


Sementara Guntur hanya menuruti saja titah orang-orang terkasihnya.


''Maa syaa Allah, beneran mirip Ustadz Adi Hidayat,'' ujar Nur Syifa dan Ummi Zainab dengan terus menggoda Fajar Guntur Ramadhan yang tampak salah tingkah dengan godaan bidadari tak bersayapnya juga kakaknya.


''Assalamu'alaikum,'' sapa lembut suara seorang gadis dari depan rumah keluarga Fajar, membuat seisi rumah menjawab dengan salam penuh penghormatan.


''Wa'alaikumsalam warahmatullah,'' jawab Fajar dan keluarganya.


Nur Syifa pun segera keluar menghampiri Alina sahabatnya sampai di teras rumah.


''Iya, apa kamu sudah siap untuk berangkat?'' tanya Alina balik.


Alina masih berdiri di ambang pintu teras sebab dirinya belum dipersilahkan masuk ke dalam.


''Oh ya, maaf. Silahkan masuk dulu! ada Ummi dan Abi ku juga adik ku di dalam, mereka juga hendak bersiap-siap Mesjid. Nanti kita ikut bersama-sama mereka saja biar kelihatan rame,'' ucap Nur Syifa sambil menerbitkan senyuman termanisnya.


Alina pun masuk ke dalam dengan di temani oleh Nur Syifa yang menggandeng erat tangannya.


''Maa syaa Allah, gadis ayu ini siapa, Nak?'' tanya Ummi Zainab dengan di penuhi rasa kagum melihat pesona dan keanggunan Alina.

__ADS_1


''Teman baru Syifa Umm, ia baru hari ini ikut bergabung di paud penitipan Khansa Day Care.'' Nur Syifa memberikan penjelasan pada Umminya.


''Nama mu siapa, Nak?'' sapa Ummi Zainab penuh kelembutan. Ia tampak terkesima dengan kepribadian Alina.


''Alina Cahya Kirani, Ummi.'' Alina pun mencium punggung tangan Ummi Zainab dengan penuh takzim.


Sebaliknya, Ummi Zainab pun refleks mengusap lembut pucuk kepala Alina yang masih terhalang hijab.


''Nama yang indah,'' puji Ummi Zainab dengan menampakan senyuman tulusnya pada Alina.


''Terima kasih, Ummi.'' Alina nampak tersipu malu, wajahnya tampak merona oleh sanjungan dan perhatian khusus yang diberikan oleh Ummi Zainab padanya.


''Sering-seringlah kemari, Nak! biar Nur Syifa ada teman ngobrolnya di waktu senggang, Ummi biasanya sibuk dengan aktivitas Ummi di Zainab Boutique Collection milik Ummi. Jadi, sangat jarang dirumah. Hanya Nur Syifa saja yang berada di rumah, Abinya pun sibuk mengajar anak-anak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Sorenya lanjut mengajar anak-anak TPA. Malam nanti ba'da Maghrib lanjut mengajar anak-anak mengaji di Mesjid,'' terang Ummu Zainab yang langsung akrab dengan Alina.


Sementara Alina mendengarkan penuturan Ummu Zainab dengan begitu seksama.


''Maa syaa Allah, Ummi dan Abinya Syifa sangat luar biasa bisa mengisi waktu luang dengan begitu banyak aktivitas yang bermanfaat,'' ucap Alina yang di penuhi rasa kagum terhadap keluarga Nur Syifa.


''Ummi, Guntur berangkat dulu bersama Abi!'' ucap Fajar yang baru saja selesai mengenakan style religiusnya. Membuat Alina setengah kaget melihat kemunculan Fajar yang tiba-tiba hadir di sisi mereka.


''Dek Fajar, kamu disini?'' sapa Alina dengan tetap kekeuh memanggil Fajar dengan sebutan Adik. Sehingga membuat Nur Syifa terkekeh melihat Fajar adiknya yang nampak kurang senang dengan gelar yang diberikan oleh Alina padanya.


''Kasiannn ... Preman Taubat ditolak mentah-mentah, baru saja mau berubah karena seorang wanita. Eh, cintanya bertepuk sebelah tangan!'' cibir Nur Syifa di dalam hatinya. Ia pun mengulum senyumnya, melihat gelagat Guntur yang sedikit merasa kecewa karena Alina tidak peka dengan perasaannya.


''I-iya, ini kediaman ku. Dan ini Ummi, Abi ku. Sedangkan Nur Syifa adalah kakak ku,'' terang Fajar dengan menyembunyikan kegugupannya ketika berhadapan dengan Alina.

__ADS_1


Alina pun magut-magut mendengar penuturan Fajar, akan tetapi Alina pun di buat bingung melihat penampilan Fajar yang berubah seratus derajat celcius. Berbeda dari ia temui tadi siang.


''Bukankah ia bad boy? kok cepat sekali berubah?'' batin Alina yang tidak menyadari jika Fajar berubah dratis karena dirinya.


__ADS_2