
Ansori pun beranjak pergi dari hadapan Alina yang sama sekali enggan menatap ke arahnya.
Sikap Alina yang seolah acuh terhadap orang tua Aslan itu menarik perhatian Nur Syifa.
''Afwan, apa kau mengenalnya ukhti?'' Nur Syifa yang merasakan kejanggalan atas interaksi antara Alina dan Ansori pun mulai kepo dengan apa yang dilihatnya.
"Ia orang yang telah membuat ku menangis, aku membencinya.'' Alina berkata jujur, hingga membuat Nur Syifa melongo mendengarnya.
''Subhanallah, kamu yang sabar ya ukh. Lupakan semua rasa sakit yang pernah mendera mu, jemput masa depan yang lebih cerah. Lebih baik menerima laki-laki yang mencintai kita apa adanya niscaya ia akan meratukan kita. Daripada kita mencintai seseorang, namun ia memilih menikah dengan wanita lain dan itu akan terasa sakit di ulu hati," tandas Nur Syifa sambil mengusap lembut bahu Alina.
Alina pun merasakan sedikit ketenangan ketika berada dalam pelukan Nur Syifa, ia pun mengusap pelan air mata yang sejak tadi membanjiri pipi mulusnya.
"Untung saja Ummu Hamzah dan mbak Diah sudah pulang, tentunya aku akan merasa malu jika ketahuan sedang patah hati lantaran meratapi nasibku," ujar Alina sambil berusaha tersenyum pada Nur Syifa.
"Tidak apa- apa yang penting sekarang kamu sudah tenang," ujar Nur Syifa sambil mengusap bahu Alina.
"Jadi, sekarang kamu bisa belajar untuk kembali move on dari Abinya Aslan?" selidik Nur Syifa.
''InsyaAllah aku akan melupakannya lahir dan batin," tandas Alina meyakinkan hatinya.
"Syukurlah jika begitu ukhti, aku ikut senang mendengarnya. Jangan sampai kehadiran masa lalu mu yang tak terduga membuat rutinitas mu terganggu untuk bermain dan belajar dengan anak- anak asuh kita,'' ujar Nur Syifa lagi.
__ADS_1
"InsyaAllah aku bisa mengesampingkan masalah pribadi ku ketika sedang mendidik dan mengasuh anak- anak ukh. Lagipula aku sudah terbiasa merasakan patah hati dan kecewa bahkan aku puluhan kali gagal menikah lantaran setiap pemuda yang mendekati ku mundur perlahan ketika mendapati keanehan dalam diri ku. Aku bukanlah wanita yang sempurna, aku hanya seorang wanita penyakitan yang mungkin akan menjadi benalu dalam kehidupan pria yang mencintai ku," tutur Alina sambil tertunduk lesu.
Nur Syifa pun merasa bersalah ketika melihat Alina tampak merendah diri. ''Maaf, jika ucapan ku menyinggung perasaanmu Alina!" sesal Nur Syifa.
"Tidak apa-apa, Syifa. Aku hanya ingin berbagi cerita pada mu," ujar Alina berusaha untuk tersenyum.
"Iya ukh, sebaiknya kita bersih- bersih dulu semua anak-anak asuh sudah pulang. Tinggal kita yang belum membersihkan diri,'' ujar Nur Syifa memecahkan keheningan.
''Assalamu'alaikum, kak Nur Syifa ... kak Alina," sapa Fajar dengan volume suara yang agak tinggi, sebab ia berada di luar pagar.
''Wa'alaikumsalam warrahmahtullahi," kedua gadis itu pun menjawab salam Fajar.
''Mengantar makan malam untuk Alina kak," ujar Fajar terlihat santai.
''Maa syaa Allah, ini makanan dari ummi lagi. Sepernya, ummi memberikan lampu hijau untuk kalian. Akan tetapi, tidak mudah untuk meraih hati seorang Alina. Memangnya kau benar ingin mendekati sahabat kakak Alina? kau kan masih berondong dek, masih punya nyali juga untuk datang kemari," bisik Nur Syifa pelan.
"Untuk Alina apa pun akan Fajar perjuangkan kak. Termasuk melawan kekuatan mistis yang kerap kali menyerangnya," sergah Fajar sambil menenteng rantang berisi makanan untuk Alina.
"Maa syaa Allah, coba saja kalau bisa dek. Kau harus siap mental jika berhadapan Alina. Ia senantiasa berusaha menjaga hatinya agar tidak jatuh pada jalan yang salah lagi. Kakak kira kau mesti belajar memperdalam ilmu syar'i paling cepat selama 5 tahun sebelum bisa bersanding dengan Alina, pada saat itu usia mu tentunya telah matang, tapi kau harus menikah dengan gadis usia 27 tahun dan kau sendiri 25 tahun, apa kau siap menikahi wanita yang lebih dewasa dari mu?" selidik Nur Syifa yang memang sengaja ingin mengetahui apa yang ada di hati dan pikiran sang adik.
"Jangankan usia Alina 27 tahun kak, ia berusia 40 tahun seperti Siti Khadijah pun aku mau. Bukankah Nabi Muhammad menikahi Siti Khadijah ketika usia sang Nabi beranjak 25 tahun dan sedangkan usia Ummul mukminin saat itu adalah empat tahun, jadi kenapa tidak aku sebagai umatnya mengikuti jejak nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam," tandas Fajar meyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Maa syaa Allah, benar-benar cinta sejati!" goda Nur Syifa sambil tersenyum pada sang adik.
"Aku akan tetap menunggunya kak, dalam do'a dan sujudku kan selalu ku sebut namanya, sampai takdir itu mempertemukan kami dalam ikatan yang halal,'' tandas Fajar dengan meyakinkan dirinya.
Sementara Alina, dari dalam rumah mendengar samar-samar percakapan kedua adik kakak itu. Dirinya tak percaya mendengar ucapan sang Fajar yang masih kekeuh untuk menunggunya.
"Ya Allah, di saat aku ingin melupakan kak Ansori lahir dan batin, kenapa aku justru di hadapkan dengan brondong manis itu. Apa ia tidak lelah setelah sekian kali ku tolak? kenapa ia tidak jera untuk mendekati ku, sedangkan ia tahu akan kekurangan ku. Sudah banyak laki-laki yang mendekati ku tidak ada yang mampu bertahan dengan ku, bahkan sekelas ustadz sekalipun. Lalu mengapa ia yang hanya orang biasa nekad terus mengejar ku? apa ia tidak takut jika nantinya aku kesurupan?" monolog Alina sambil mengintip percakapan antara Nur Syifa dan Fajar dari balik tirai.
"Kak Syifa izinkan aku mengantarkan makanan ini pada Alina! ajak aku ke dalam, jangan di luar pagar terusan. Tidak enak di dengar dan dilihat tetangga." Fajar tampak protes pada sang kakak.
"Iya ... iya, maaf. Silahkan masuk ustadz!" ujar Nur Syifa dengan sedikit menyelipkan canda.
"Aamiin. Semoga aku jadi ustadz beneran, sehingga mantan preman berubah menjadi ustadz tampan yang di kagumi semua yang ada di alam semesta,'' ucap Fajar tak tanggung- tanggung dengan menyematkan do'a terbaiknya.
Fajar pun mengikuti langkah kaki sang kakak masuk ke dalam rumah paud penitipan itu. Tak lupa pula ia menenteng rantang berisi makanan yang ingin ia bawakan untuk Alina.
''Alina, kau dimana? kenapa tadi tidak ikut ke depan? aku mencemaskan mu,'' tutur Nur Syifa sambil mencari Alina di segala sudut ruangan.
"Maaf, aku di sini sedang membereskan kamar anak- anak,'' kilah Alina yang memang sengaja tidak ingin berpapasan dengan sang Fajar.
"Subhanallah, aku mencari mu kesegala arah. Ini ada titipan makanan lagi dari ummiku untuk mu. Fajar yang mengantar kemari,'' ujar Nur Syifa sambil menunjukkan rantang berisi makanan yang ada di hadapan Fajar saat ini.
__ADS_1