Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 110. Masih Bertahan Hidup


__ADS_3

Alina pun menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia tidak ingin terus mengingat apalagi memikirkan tentang masa lalunya dengan Bagaskara, baginya ia ingin segera sembuh dari sakitnya dan menutup semua kenangan masa lalu dengan membuka lembaran baru bersama seseorang yang mungkin nanti akan menjadi sosok imam untuknya, membimbingnya menuju jalan yang diridhoi oleh-Nya.


Pekikan dan jeritan dari Bagaskara masih terus terdengar memilukan, nama Alina masih terus di puja-puja oleh Bagaskara dalam keadaan dirinya yang masih belum stabil.


''Ya Allah, hamba tidak tahu harus memohonkan do'a apa untuknya. Jika memohon kebaikan aku merasakan sakit yang sangat luar biasa oleh kekejiannya terhadap ku selama ini. Jika aku berdo'a tentang keburukan, maka aku sama saja sepertinya menyimpan dendam kesumat yang tak berkesudahan.''


''Akan tetapi, dia telah menghancurkan masa depan hidupku. Berkali-kali aku harus gagal merajut janji suci dengan orang-orang yang pernah dekat dengan ku, hingga detik ini pun aku harus gagal menikah bahkan dengan setara ustadz sekalipun tak ada yang mampu untuk bertahan dengan ku, meskipun mulanya melalui prosesi ta'aruf dan merasa adanya kecocokan. Namun, karena adanya keanehan dalam diriku dan juga munculnya orang ketiga aku pun harus berkali-kali gagal menikah. Rasanya aku sudah lelah dengan semua kegagalan ini, siapakah jodohku yang sebenarnya ya Rabb?'' Alina memijit kepalanya yang terasa sakit oleh sebab memikirkan segala problemanya.


''Sekarang usia ku sudah 22 tahun belum jua kutemukan siapa sosok pemuda yang mampu bertahan dengan ku, menerima segala kekurangan ku bukan hanya kelebihan yang ada dalam diriku saja.'' Alina terus memikirkan dan merenungkan nasib dan masa depannya.


''Ya Allah, apa yang terjadi dengan Mas Bagas? kenapa dia berteriak histeris, hingga terdengar sampai di sini? apa ia tidak malu terus memanggil nama ku dihadapan banyak orang? ia sendiri yang telah membuka aibnya bukan aku. Ya Allah, tolong tutupi aib hamba yang sudah terlanjur menyebar ini. Jangan sampai mas Bagas mengucapkan kata yang tidak-tidak sehingga membuat semua orang tahu hubungan yang pernah tercipta antara aku dan dirinya. Sepertinya aku memang harus menjauh dari Kampung halaman ini. Agar jauh dari pandangan mas Bagas. Dengan begitu kecil kemungkinan ia mengintai setiap pergerakanku.''


Alina pun membulatkan tekad untuk menjauh dari kehidupan Bagaskara. Bayangannya pun tidak boleh lagi melekat dalam hati dan pikirannya.

__ADS_1


''Semoga saja hatinya terketuk untuk bertaubat dan semoga ia masih diberikan kesempatan untuk bertahan hidup.'' Alina masih mendo'akan kebaikan untuk saudara sepupunya itu meskipun ia telah berulang kali di dzolimi oleh Bagaskara sepupunya.


Setelah Alina memanjatkan do'anya dengan setulus hati, keajaiban pun terjadi. Bagaskara yang mulanya hampir meregang nyawa kini pun tiba-tiba mengerjapkan netranya secara sempurna. Ia pun kembali mengumpulkan nyawanya. Setidaknya, ia masih bertahan hidup untuk hari ini. Dan mungkin lebih lama lagi.


''Alhamdulillah ... keajaiban Allah, nak Bagas masih memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Semoga, ia bertobat dari segala kejahatan yang pernah ia lakukan,'' ucap Kyai Sholeh dengan menerbitkan senyumannya.


Farel, ayah Alina pun ikut lega melihat kesadaran Bagaskara berangsur pulih meskipun hatinya masih merasakan sakit hati dan kecewa atas kekejian Bagaskara terhadap Alina anaknya selama bertahun-tahun ini.


''Mama, apa yang terjadi? kenapa banyak orang di rumah kita?'' tanya Bagas masih dalam keadaan ling-lung dan melongo melihat dirinya dikerumuni oleh banyak orang.


Sementara, Bagaskara dan juga mama Laras tidak mengetahui jika dari dalam mobil yang tertutup kaca tampaklah keluarga mantan istrinya Queensha Putri juga tak sengaja melihat kerumunan orang-orang yang begitu ramai di sekitaran rumah Bagaskara. Mereka melihat dengan jelas bagaimana Bagaskara menjadi tontonan orang-orang ketika dirinya hampir meregang nyawa dalam dekapan mama Laras dan juga dalam pengawasan Kyai Sholeh.


''Kenapa ia tidak mati saja dan langsung ditelan perut bumi atau wajah dan tubuhnya gosong disambar petir. Biar cepat menjadi santapan ular dan cacing tanah. Atau ruhnya terkatung-katung tidak diterima bumi, sebab kemusyrikan dan kezhalimannya.'' Sumpah serapah yang terucap dari lisan mama Shinta, sangat tajam bagaikan hunusan pedang yang hendak menancap ke ulu hati agar bisa menebas sang pemilik raga hingga meregang nyawa dan terbujur kaku.

__ADS_1


Mama Shinta benar-benar merasa benci dan sangat geram dengan Bagaskara Ardhana Putra yang telah menzhalimi anaknya selama ini tanpa sepengetahuannya. Hingga ia mengira pernikahan anaknya baik-baik saja, akan tetapi semua yang ia pikirkan dan harapkan selama ini tidak sesuai harapan dan kenyataan.


Niat hati berharap anaknya bisa bahagia dan bisa hidup bersama seorang laki-laki sholeh yang mampu membimbingnya dalam jalan kebenaran akan tetapi ternyata semua itu hanya khayalan belaka. Orang yang telah menjadi menantunya dan suami untuk anaknya ternyata tidak lebih dari seorang pecundang yang bersembunyi di balik kesalehannya yang tampak mata padahal sejatinya semuanya hanya kedok untuk menutupi keburukannya.


''Mama, sudah ... jangan terpancing emosi, semuanya sudah terjadi. Anggap saja semua ini ada ujian dari Allah agar kedepannya kita bisa lebih mawas diri lagi. Kita berlindung kepada Allah dari kezholiman orang-orang yang keji dan mungkar, dari tipu daya setan yang hendak memperdaya.'' Papa Rama mencoba untuk menenangkan istrinya, akan tetapi mama Shinta yang masih terbawa emosi pun masih terus mengoceh dan mendo'akan keburukan untuk Bagaskara.


''Tidak bisa Pa, mama benar-benar sakit hati dengan laki-laki bejat itu, tega-teganya ia menyakiti anak kita yang tidak bersalah sama sekali terhadapnya. Mama harap cepat atau lambat adzab segera mengenainya, jika ia masih hidup di dunia ini rasanya tidak aman.''


Mama Laras terus mengeluarkan unek-unek yang ada dalam hatinya yang selama ini ia pendam dan sekarang apa yang ia pikirkan rasakan itu terluahlah sudah meskipun do'anya belum terkabulkan agar Bagaskara secepatnya mendapatkan adzab menggenaskan. Setidaknya Mama Laras merasa puas sudah menyumpahi Brama.


Sedangkan Queensha Putri seolah menutup mata, hati, pikiran dan jiwa terhadap musibah yang menimpa Bagaskara. Ia tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi mantan suaminya. Ia tidak ingin lagi mengenal hal-hal yang berhubungan dengan Bagaskara, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya bahagia dan menjalin hubungan dengan orang yang baru. Seseorang yang dapat menerima segala kelebihan dan kekurangannya tampa harus menyudutkan dan menyakitinya seperti yang dilakukan oleh mantan suaminya dahulu terhadapnya yang sama sekali tidak pernah menghargainya akan tetapi selalu menyiksa lahir dan batinnya.


''Assalamu'alaikum, kak Reno. Apa kabar?'' sapa Putri yang nampak asyik berselancar via telfon dengan Reno yang selama ini senantiasa mensupportnya agar tetap semangat menjalani kehidupannya dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mengatur perceraiannya dengan Bagaskara agar berjalan dengan mulus dan sangat lancar sehingga sekarang ketuk palu itu pun telah terpenuhi dan Queensha Putri bisa bernapas lega.

__ADS_1


''Wa'alaikumsalam warahmatullah, Alhamdulillah kakak baik. Bagaimana proses penceraiannya? apakah berjalan dengan sangat lancar?'' tanya Reno dari seberang telfon.


__ADS_2