Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 99. Berbicara Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

Alina pun membaca setiap pesan yang dikirimkan oleh Ansori padanya, membuatnya merasa gamang dengan perasaannya sendiri.


"Ya Allah, sampai kapan aku terus merasakan kepedihan seperti ini. Padahal, belum jelas juntrungannya. Kak An sama sekali belum menjelaskan jika dirinya memilihku atau kak Annisa? Kenapa aku begitu mudah baper semenjak diriku terdeteksi penyakit gangguan jin dan sihir yang menggerogoti tubuhku? Kenapa aku harus mengalami penyakit mistis seperti ini? sungguh aku tidak sanggup mengidap penyakit seperti nabi Ayyub belasan tahun lamanya."


"Mungkinkah ada pemuda yang benar-benar tulus menerima diriku dengan segala kekuranganku, mengingat penyakit yang kuidap bukanlah penyakit biasa yang kerap kali selalu menampakkan aura mistis." Alina terus mencecar dirinya sendiri, ia seakan putus asa dengan penyakit yang dideritanya semenjak satu tahun terakhir ini.


"Andai saja, aku tidak pernah berhubungan dengan mas Bagas tentunya aku tidak akan pernah menderita penyakit seperti ini, mengapa ia selalu mengikatku dengan buhul-buhul gaibnya? apa aku harus menghilang dari planet bumi ini agar dirinya puas dan tidak menyakitiku lagi!"


Air mata Alina seketika luruh sudah meratapi nasibnya yang tak kunjung berubah.


"Aku benar-benar lelah dengan semua ini, rasanya aku ingin mati saja!" Alina terlihat putus asa.


"Harus berapa kali aku mencicipi terapi ruqyah? agar makhluk tak kasat mata ini keluar sempurna dari dalam tubuhku tanpa menyisakan sedikitpun sihir-sihir yang telah dikirimkan oleh mas Bagas padaku?"


Ocehan demi ocehan terlontar sudah dari bibir mungil Alina, dirinya seolah tak ikhlas menerima takdirnya yang menurutnya begitu tidak adil.


tring ... tring ... tring, ponsel Alina kembali berdering. Hatinya yang semula sedih, entah kenapa tetiba saja kembali berbunga-bunga ketika melihat nama panggilan yang tertera di layar ponselnya.


Alina pun refleks menekan tombol hijau, "Kak An ... kenapa aku tiba-tiba begitu menginginkannya, mendengar suaranya yang setiap detiknya selalu menasehatiku dengan kata-kata indahnya. Sepertinya jiwaku benar-benar terganggu, antara cinta dan benci itu ternyata bedanya tipis." Alina tiba-tiba tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran.


"Diriku memang harus diterapi lagi, kenapa pikiran dan perasaanku selalu berubah-ubah tanpa bisa aku mengendalikannya," batin Alina lagi. Ia pun segera berbicara dari hati ke hati pada Ansori yang dari sejak tadi didiamkan olehnya.


"Assalamu'alaikum, Alina kamu ke mana saja? apa kabarmu? Apa kau sudah sampai di rumah? aku sungguh mengkhawatirkanmu," terang Ansori dengan penuh kecemasan di seberang telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam warahmatullah, aku baik Kak. Aku sudah sampai di rumah, kakak sendiri sedang apa?" Alina balik bertanya, entah kenapa tidak ada lagi kekecewaan yang menderanya setelah mendengar suara Ansori yang begitu lembut di telinganya.


"Alhamdulillah, kakak sudah kembali ke kota P tadi ikut pulang bersama ummi," terang Ansori tanpa berniat untuk menyebut nama Annisa. ia khawatir Alina akan kembali merajuk jika mengetahui akan hal itu.


"Syukurlah, bagaimana dengan kak Annisa? Apa kakak menerima perjodohan dengannya?" tanya Alina penuh rasa ingin tahu.


"Sebelumnya kakak minta maaf, kakak sama sekali tidak pernah mengenal Annisa. Ia adalah pilihan orang tuaku, sebisa mungkin aku memberikan pengertian pada mereka agar tidak memaksaku untuk menerima perjodohan dengannya."


"Benarkah? bukankah kak Annisa adalah wanita yang sholih? semua kaum Adam pasti akan tertarik padanya. Aku tidak yakin jika kak An tidak terpesona dengan keanggunan kak Annisa. Aku sebagai seorang wanita pun sangat mengaguminya, pantas saja ummi kakak menjodohkan kakak dengannya."


Alina semakin berbicara pada porsi yang terkesan menyudutkan Anshori, sehingga pemuda tersebut menjadi dilema. Sebab, apa yang dikatakan oleh Alina adalah benar adanya. Annisa adalah sosok wanita yang sempurna, ia telah merasakan itu semua ketika melakukan bincang-bincang dengan Annisa di rumahnya.


"Jodoh, rezeki dan maut kita sudah diatur oleh Allah, dengan siapa kita berjodoh semua itu rahasia Allah. Kakak memang berharap Alina menjadi jodoh kakak, tapi jalan takdir Allah kita tidak tahu akan dibawa ke mana akhirnya."


Ansori pun merasakan keanehan ketika menghubungi Alina, seolah-olah ada jarak yang merintang agar menuntunnya untuk menjauhi Alina.


"Maafkan aku Alina, jika nantinya takdir menghendaki kita untuk berpisah. Aku harap dirimu ikhlas dan sabar menerima takdir yang telah terukir dalam proses kehidupan kita. Bukannya aku tidak ingin menerima kekuranganmu, namun entah kenapa hatiku menjadi gamang. Rasanya, aku tiba-tiba merasa asing denganmu!" batin Ansori yang tak bisa ia utarakan pada Alina.


Makhluk bernama jin yang masih bersarang di tubuh Alina seolah-olah terus merintangi Alina dekat dengan pemuda manapun. Mereka yang semulanya cinta berubah menjadi benci begitu juga sebaliknya.


Alina tiba-tiba terlihat murung ketika mendengar ucapan Ansori yang begitu terasa perih di hatinya, lisannya seolah-olah bungkam untuk berkata. Ia dapat merasakan Ansori seolah-olah hendak menjauh darinya dan menjaga jarak dengannya.


"Maafkan aku Alina, jika nantinya apa yang kita impikan dan harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada."

__ADS_1


Ansori sebenarnya merasa berat untuk mengatakan itu semua, akan tetapi ia terpaksa mengatakan apa yang harus ia katakan meskipun ia tahu itu dapat melukai hati dan perasaan Alina.


"Huffffttt." Alina menarik nafasnya pelan, ia berusaha untuk tegar apapun yang akan terjadi kedepannya dengan hubungannya bersama Ansori lelaki yang telah menyentuh hati dan jiwanya. Walaupun pada akhirnya, perpisahan akan menjadi jurang antara dirinya dan laki-laki yang semulanya sangat ia harapkan menjadi calon imamnya.


"Baiklah, terserah kakak saja. Sebab, dari sejak mula aku tidak pernah terlalu berharap dan mendamba cinta dari sosok seseorang yang mungkin lebih baik tingkat keimanannya dari diriku. Aku sadar, aku hanya lumpur Hitam. Aku tak pantas bersanding dengan laki-laki sholeh setara kak An," ujar Alina dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.


Air mata Alina tiba-tiba mengalir deras di kedua pelupuk matanya, ia tak kuasa menahan tangisnya apa yang ia takutkan akhirnya terjadi. Setelah pertemuan Annisa dengan Ansori seolah-olah mengubah laki-laki tersebut tidak lagi bersikap dan memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Perasaan yang sempat mereka bangun kini harus terkikis sudah oleh arus gelombang yang tiba-tiba datang menerpa menggulung biduk cinta yang semulanya ia yakini akan tetap mengalir padanya.


Alina terisak dalam tangisnya, seolah-olah mewakili betapa perih dan sakitnya perasaannya saat ini ketika mendengar kenyataan Ansori tidak lagi seperti yang dulu.


"Alina, maafkan aku jika menguris luka di hatimu! aku sendiri tidak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini, maafkan aku!" Ansori terus mengulang kalimatnya.


Akan tetapi Alina terlanjur terluka dan menangis sedih, dirinya benar-benar kehilangan tempatnya untuk bersandar dan bernaung.


Ansori seolah-olah semakin jauh darinya tak ada lagi keceriaan seindah dulu kecuali menyisakan luka yang menyayat hati.


"Nak, persiapkan dirimu! nanti malam kita hendak silaturahmi ke rumah Annisa untuk menemui kedua orang tuanya membahas bagaimana kelanjutan perjodohan kalian!" ucap ummi Ansori yang sengaja berbicara di dekat telinga anaknya ketika menyadari pemuda tersebut sedang berkomunikasi dengan Alina lewat sambungan telepon.


Sehingga, Alina mendengar sangat jelas penuturan ummi Ansori. Sehingga dirinya pun refleks mematikan ponselnya dan melemparkan benda pipih itu ke dinding tembok hingga retak seribu.


Alina meratapi kedukaannya, "Aku membencimu kak An, sangat benci!" teriak Alina dengan menghempaskan tubuhnya di kasur.


Berbicara dari hati ke hati dengan pemuda tersebut justru menciptakan luka yang menganga di hati Alina yang kini benar-benar menenggelamkannya dalam kekecewaan yang teramat dalam.

__ADS_1


"Apa salahku ya Robb? kenapa aku harus menerima semua kepahitan ini?" lirih Alina dengan isak tangisnya.


__ADS_2