Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 114. Gadis Berkerudung Merah


__ADS_3

Alina pun berjalan menuju toko di mana kini Fajar sedang berada. Gadis anggun itu tampak menundukkan pandangannya, ia sama sekali tidak menatap pada sosok laki-laki bronis alias brondong manis yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa kagum.


Alina meletakkan semua belanjaannya di meja kasir tanpa melirik ke arah Fajar yang terus memperhatikan dirinya dari atas kepala hingga ujung kakinya yang tertutup dengan begitu sempurna, kecuali wajah dan telapak tangannya.


''Ia benar-benar sempurna, wajahnya terlihat putih bersih dan bersinar. Mungkinkah karena sering terkena tetesan air wudhu? Aku bisa gila jika tidak mendapatkannya. Sumpah demi apapun aku akan berusaha untuk mendekatinya secara perlahan,'' batin Fajar Guntur Ramadhan dengan perasaan yang begitu membuncah terhadap Alina.


''Ini siapa dulu yang hendak dihitung belanjaannya?'' tanya penjaga toko tersebut dengan raut wajah yang tak biasa. Sebab dari tadi ia perhatikan Fajar nampak salah tingkah tidak seperti biasanya.


''Dia dulu, Bu!'' ujar Alina dan Fajar bersamaan. Seketika keduanya pun saling berpandangan. Tanpa sengaja keduanya pun saling melemparkan senyuman dengan tingkah unik masing-masing.


''Baiklah jika begitu biar aku duluan! Dek Fajar nunggu antrian,'' sela Alina dengan binar wajah yang terlihat tenang tanpa sedikitpun menyelipkan rasa yang aneh untuk Fajar.


Alina menganggap Fajar tidak lebih dari seorang adik, mengingat tampang Fajar dalam pandangan Alina lebih muda darinya. Jadi, sangat wajar jika Alina menganggap Fajar hanyalah seorang adik.


Baru Fajar pemuda yang tidak mengalami keanehan jika berdekatan dengan Alina. Berbeda dengan pemuda-pemuda sebelumnya mereka mundur teratur setelah berkali-kali gagal dan melihat keanehan dalam diri Alina yang kerap kali terselubungi aura mistis, yang seolah memberi jarak untuk mereka menjauhi Alina secara perlahan begitu juga sebaliknya.


Namun, tidak dengan Fajar meskipun ia bukan sosok pemuda yang sholih, akan tetapi niat yang tulus dalam hatinya dan keyakinan yang kuat pada kekuasaan Rabb-nya mampu melawan kekuatan energi negatif yang hendak melemahkan dirinya agar menjauhi Alina. Fajar justru semakin nekat untuk mendekati Alina dengan caranya sendiri.


Penjaga toko tersebut ingin sekali menertawakan wajah Fajar yang terlihat kikuk ketika Alina menyebutkan dirinya dengan panggilan adik.

__ADS_1


''Mari Dik Fajar, aku jalan dulu!'' pamit Alina sambil melirik belanjaan Fajar yang tidak jauh dari rokok dan minuman yang mengandung zat yang kurang baik untuk kesehatan beserta camilan kacang tanah sebagai pelengkap menu bad boy tersebut.


''Astaghfirullah, semoga hidayah Allah menyapanya agar bisa meninggalkan dari menyentuh dan mengkonsumsi barang-barang yang kurang membawa manfaat itu, kasian masa mudanya harus hancur dan terenggut gugur sebelum berkembang,'' batin Alina dengan segera beranjak pergi dari toko tersebut dan kembali menuju tempat penitipan anak Khansa Day Care tempat dimana kini ia bekerja.


Sampai Alina tidak terlihat lagi dari pandangannya, Fajar pun memijit kepalanya yang nampak pusing sebab gadis yang di incarnya sama sekali tidak menanggapi perasaannya. Yang lebih menyesakkan dadanya Alina terus-menerus menganggapnya seperti seorang adik.


''Ini baru permulaan, aku akan mendekatinya layaknya seorang teman saja. Akan kujalani persahabatan dengannya, kemudian jika ia telah merasa nyaman dengan ku baru aku akan mengutarakan isi hatiku padanya,'' batin Fajar dengan terus memikirkan tentang Alina, gadis yang telah menyentuh segenap hati dan jiwanya.


''Jika kau tertarik dengan gadis muslimah tersebut, baiknya kau introspeksi diri dulu Tong, penampilan mu kudu di benahi. Ibadah dikencengin dulu, hal-hal yang tidak ada manfaatnya mesti di tinggali. Kalau penampilan mu ugal-ugalan seperti ini mana mau gadis sholihah pada mu, yang ada ia kabur ketika melihat mu. Wong penampilannya bad boy seperti ini,'' sela ibu-ibu penjaga toko tersebut.


''Eh, Budhe. Tahu saja pikiran dan gaya anak muda,'' ujar Fajar terdengar malu-malu sambil membayar barang belanjaannya.


''Rencananya jadi Budhe, di Cafe xx.'' Fajar tampak sumringah, ia memang sangat menyukai dunia musik, sehingga dirinya kerap kali manggung di tempat hiburan. Selain itu, Fajar pun terkenal dengan bad boy di kawasan tempat tinggalnya.


Orang-orang di sini kerap kali memanggilnya dengan panggilan Guntur, lantaran sifat dan kelakuannya kerap kali tiba-tiba menggegerkan warga sekitarnya. Selain pemain musik, ia pun kerap kali track bersama Genk motornya yang ugal-ugalan dijalanan.


Segala bentuk minuman yang haram jangan di tanya lagi, Fajar kerap kali mengkonsumsinya hingga detik ini. Ia pun sering pulang ke rumah dalam keadaan mabuk sehingga membuat kedua orang tuanya dan juga kakak perempuannya kehabisan cara untuk menasehatinya.


Waktu pun sudah semakin redup, matahari pun sudah tenggelam di ufuk barat. Kini hanya tinggal Alina sendiri yang berada di penitipan Khansa Day Care, semua anak asuh mereka sudah pulang dan di ambil oleh walinya masing-masing. Ummu Hamzah sudah kembali ke rumahnya, begitu pun Nur Syifa Al Hidayah, ia pun sudah kembali ke rumahnya.

__ADS_1


''Sudah pulang, Kak?'' tanya Fajar pada kakak sepupunya Nur Syifa yang baru pulang dari penitipan Khansa Day Care.


''Alhamdulillah, sudah Dek. Tumben menyapa kakak? biasanya cuek,'' sela Nur Syifa sambil mempersiapkan diri pergi ke Mesjid bersama Alina untuk menjalankan ibadah sholat Maghrib seperti yang mereka janjikan tadi, sebelum ia pulang dari paud penitipan tempatnya bekerja.


Fajar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ''A-anu kak, apa kakak kenal dengan gadis berkerudung merah yang kerja di penitipan Khansa Day Care itu?'' tanya Fajar dengan sangat hati-hati, khawatir kakaknya curiga padanya.


''Kenal, ia teman baru kakak.''


Nur Syifa tampak mengernyitkan dahinya, dengan pertanyaan absurd adiknya yang tak biasa. Sebab, biasanya Fajar sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan sekitarnya. Asal dia happy sudah, tidak ada hal untuk sekedar menanyakan hal-hal apa pun pada kakak sepupunya yang sudah dari sejak usia 10 tahun menetap bersama mereka, semenjak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis 12 tahun yang silam. Jadi, kedua orang tua Fajar lah yang merawat dan mengasuh Nur Syifa juga membimbing serta memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya.


Hingga detik ini Nur Syifa sudah lulus kuliah dan memilih untuk bekerja menjadi pengasuh di penitipan anak paud sesuai dengan jurusannya sewaktu kuliah dulu, dirinya memilih jurusan yang berhubungan dengan pendidikan anak paud.


''Oh, begitu. Dia cantik dia sholiha, Guntur sempat berkenalan dengan gadis berkerudung merah itu kak, baru kali ini Guntur bertemu dengan wanita sebaik dan sesempurna dia.'' Tanpa sadar, Fajar Guntur Ramadhan pun curhat mengenai isi hatinya setelah bertemu Alina Cahya Kirani.


''Oh, ya. Dia memang wanita sholiha, kau jangan coba-coba untuk mengusiknya apalagi sampai memberi pengaruh buruk padanya. Jika ingin berteman dengannya perbaiki dulu dirimu. Buruan bersih-bersih, mulai sekarang belajar untuk menghadap kiblat. Tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat jika ingin jodohnya baik,'' titah Nur Syifa yang tidak henti-hentinya mengingatkan Fajar meskipun mereka berdua bukan saudara kandung sedarah.


Fajar nampak tercubit mendengar ucapan kakaknya. Dirinya merasa sangat tertampar dan ingin sekali berubah. Hatinya sangat terketuk untuk mendirikan shalat. Akan tetapi, dirinya lupa cara berwudhu dan gerakan sholat. Sebab, terakhir kali ia melakukan ibadah shalat ketika dirinya duduk di bangku kelas 6 SD.


''OMG, betapa bodohnya aku dan minimnya ilmu pengetahuan ku tentang agama. Bagaimana bisa aku menjalankan ibadah shalat, gerakannya pun aku lupa. Berwudhu pun aku tidak ingat lagi caranya,'' batin Fajar Guntur Ramadhan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal memikirkan segala kebodohannya sendiri yang selama ini terlalu sibuk dengan urusan dunianya sehingga melupakan ibadahnya kepada Rabb-nya yang telah memberinya nafas kehidupan.

__ADS_1


''Kenapa masih berdiri di situ, buruan ambil wudhu. Tunggu apalagi!'' titah Nur Syifa dengan sedikit tegas pada Fajar adiknya.


__ADS_2