Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 117. Batal Manggung


__ADS_3

Ibadah shalat Maghrib pun bisa di lalui oleh Fajar dengan begitu hikmatnya. Dirinya begitu sangat senang karena akhirnya dapat menjalankan ibadah sholatnya dengan khusuk.


Fajar pun tidak langsung pulang ke rumah, dirinya lebih memilih untuk ikut belajar mengaji bersama ayahnya. Begitu pun dengan Alina dan Nur Syifa, keduanya pun ikut mendaras Qur'an, sembari membantu Abi Sofyan mengajar anak-anak yang berusia 6 sampai 10 tahun untuk belajar mengaji.


Semua anak-anak nampak tersenyum geli ketika melihat Fajar baru mulai belajar mengaji sama seperti mereka melalui iqra 1, yang lebih lucu lagi Fajar baru akan belajar mengucapkan huruf Hijaiyah dengan mahraj yang benar.


''Kak Syifa, tolong ajarkan Guntur mengaji di rumah saja. Guntur malu ditertawakan oleh anak-anak,'' bisik Guntur di telinga kakaknya Nur Syifa.


''Ya sudah, kakak pamit dulu sama Abi. Kita akan pulang sebentar lagi sambil menunggu Alina selesai mengajar anak kecil itu mengaji,'' tunjuk Syifa dengan nada pelan.


Pandangan Fajar pun tertuju pada Alina, ''Apa aku minta tolong Alina saja untuk belajar mengaji, dengan begitu secara perlahan aku bisa mendekatinya. Bangunkan kedekatan sebagai seorang sahabat dulu, pura-pura menjadi santri dulu dan ia yang menjadi ustadzah ku.'' Akal bulus Fajar kini mulai bermain dalam pikirannya.


''Sumpah demi apapun aku harus bisa mendownload gadis sholiha itu menjadi aplikasi dalam hidup ku. Meskipun agak sedikit sulit untuk meraih cintanya, aku yakin cepat atau lambat aku bisa menyentuh hatinya. Tidak perlu dengan sejuta kata-kata manis, cukup dengan perhatian, ketulusan dan segala perbuatan yang baik aku yakin akan bisa membersamainya. Meskipun usianya dua tahun di atas ku tak menyurutkan niat ku untuk mendekatinya, bidadari syurga ku!'' gumam Guntur dalam hatinya.


Fajar tiada henti menatap ke arah Alina yang begitu sangat fasih mengajar anak-anak di sana belajar mengaji. Ia semakin terpesona dengan gadis ayu itu, Fajar seolah berangan bisa berdampingan dengan Alina dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dirinya benar-benar dibuat terpikat oleh kesholihan Alina yang dengan begitu mudahnya menyentuh hati dan jiwanya, melupakan dan berusaha untuk meninggalkan segenap aktivitas buruk yang pernah ia lakukan sebelumnya.


''Sepertinya, malam ini aku batal manggung di Cafe xx, aku harus mencari cara bagaimana agar bisa merajut kebersamaan dengan gadis itu.'' Sejuta cara kini bermain dalam akal pikiran Fajar Guntur Ramadhan.


''Hey, apa yang kau pikirkan? itu pandangan mesti di jaga, sekarang giliran mu mengaji. Sana segera antri dengan anak-anak! Alina mau mengajari mu mengaji, akan tetapi tidak berduaan saja. Harus ada kak Syifa dan Abi yang menjadi saksi. Kalau hanya berduaan dengan mu saja, khawatir kalian akan di goda syaitan. Terutama dirimu, kakak tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu pasti mengagumi sahabat kakak, akan tetapi sayang, kau harus lebih banyak belajar lagi jika ingin mendapatkannya.'' Nur Syifa berbisik kecil sambil menasehati adiknya yang masih sangat labil itu.


Fajar pun terpaksa kembali bergabung dengan anak-anak hanya demi untuk mendapatkan perhatian Alina. Ia benar-benar ingin menimba ilmu dengan gadis yang satu saat nanti akan ia jadikan bidadari syurganya, begitu pikirnya.


Dengan berusaha menahan malu dan rasa gugupnya, Fajar pun membuka lembaran iqro pertama demi untuk bisa belajar bersama wanita yang ia yakini di masa depan nanti akan menjadi jodohnya.

__ADS_1


''Bacakan kalimat ta'awudz dan Ummul Qur'an dulu ya?'' titah Alina tanpa sedikitpun melirik wajah Fajar, ia hanya fokus dengan buku Iqro yang ada di hadapannya untuk membimbing para santrinya belajar mengaji.


''Ta-tapi, Kak. Guntur tidak tahu apa itu kalimat ta'awudz atau pun Ummul Qur'an yang kak Alina bilang,'' ucap Fajar terdengar polos dan sangat jujur.


''Subhanallah, astaghfirullah! Ini musibah,'' gumam Alina pelan. Namun, masih terdengar jelas di telinga Fajar Guntur Ramadhan.


Anak-anak yang sudah sangat paham dengan itu semua pun kembali menertawakan kebodohan Guntur yang sama sekali buta akan ilmu agama.


Sementara, Abi Sofyan nampak menahan gemuruh di dadanya mendengar akan ketidaktahuan putranya. Raut wajahnya berubah merah padam menahan malu dan rasa kecewa akibat kedunguan anaknya.


''Ya Allah, maafkan hamba sebab telah gagal mendidik anak hamba menjadi laki-laki yang baik,'' sesal Abi Sofyan.


Selama ini Abi Sofyan terlalu memberikan kebebasan untuk anaknya berbuat menurut keinginannya. Hingga sekarang Guntur tumbuh menjadi anak yang buta dalam agamanya.


''Maaf, aku baru ingat jika dirimu baru berproses untuk belajar. Kalimat ta'awudz itu adalah kalimat perlindungan diri dari godaan syaitan yang terkutuk, sedangkan Ummul Qur'an itu adalah surah Al Fatihah. Baiklah kita baca bersama-sama ya?'' ucap Alina lembut demi menghentikan kecanggungan Guntur yang merasa malu dan rendah diri akan ketidak tahuannya.


Beruntungnya, 15 menit belajar mengaji dengan Alina. Guntur sangat mudah memahami dan melafalkan bacaan yang Alina ajarkan.


''Alhamdulillah, sangat mudah bukan? aku yakin kedepannya dirimu akan pandai membaca Qur'an. Sekarang juga iqra 1 sudah lima halaman yang kau baca. Kau begitu fasih melafalkannya.'' Alina nampak senang dengan kecerdasan Guntur yang begitu sangat mudah memahami dan mempelajari apa yang ia sampaikan. Semua yang hadir pun nampak senang dan bahagia melihat keberhasilan Guntur dalam usahanya untuk bisa belajar mengaji dengan baik.


''Terima kasih, kak Alina!'' ucap Guntur tersenyum senang, dirinya sengaja memanggil Alina dengan sebutan kakak demi menghormati guru yang telah mengajarinya mengaji, akan tetapi di balik itu semua tersimpan niat yang tersembunyi. Fajar ingin menyentuh hati Alina dengan caranya sendiri.


''Sama-sama, jika ada yang ingin ditanyakan kamu bisa mengirimkan pesan langsung ke kakak lewat ponsel ya? bisa minta nomor kakak langsung pada kakak mu Nur Syifa,'' ucap Alina yang tanpa sengaja memberikan celah untuk Guntur bisa mendekatinya dengan mudah tanpa disadari olehnya.

__ADS_1


Padahal, niat Alina hanya mempermudah Guntur untuk belajar, bukan apa-apa seperti yang ada dalam pikiran Guntur justru perasaannya terhadap Alina semakin bertumbuh seiring kebersamaan mereka.


Ketika masuk waktu Isya kegiatan belajar mengajar itu pun telah selesai, di lanjutkan dengan menunaikan ibadah sholat isya berjama'ah.


Malam ini Guntur benar-benar batal manggung bersama teman-teman boy bandnya yang kini nampak resah sebab batang hidung Guntur pun tak tampak di Cafe xx. Di telfon berulang kali pun tak ada jawaban.


Guntur Fajar Ramadhan yang merangkap sebagai vokalis band sekaligus gitaris mereka justru asyik menikmati indahnya beribadah pada Rabb-Nya. Guntur merasa seolah-olah dirinya dibelai-belai oleh Allah subhanahu wa ta'ala atas segala kasih sayang dan cinta-Nya yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata dan secuil kenikmatan dunia yang dulu kerap kali menyesatkan jiwa mudanya.


''Kak Alina, terima kasih untuk semua ilmu dan tausiyahnya malam ini. InsyaAllah besok Guntur boleh belajar dengan kakak lagi ya?'' pinta Guntur disaat perjalanan pulang mereka menuju rumahnya di temani oleh Abi Sofyan dan juga kakaknya Nur Syifa.


Jadi, percakapan yang hendak Guntur sampaikan kepada Alina ada saksi yang mendengarnya, sehingga mereka tidak terlihat sedang berduaan yang mungkin dapat menimbulkan fitnah diantara mereka.


''Iya, boleh!'' ucap Alina sambil menampakkan senyuman khasnya. Membuat detak jantung Fajar semakin berdegup kencang ketika tak sengaja melihat senyuman yang terukir dari wajah pujaan hatinya.


''Aneh, berdekatan dengannya aku begitu merasa sangat nyaman. Tidak ada gangguan apapun seperti sebelum-sebelumnya jika aku dekat dengan pemuda mana pun pasti ada-ada saja hal mistis yang menghalanginya. Mungkin Fajar masih muda dari ku jadi tidak ada gangguan apa-apa mengingat status kami hanya guru dan murid, atau hanya sebatas adik kakak saja!''


Memori Alina kembali mengingatkan atas segala kekejian yang di lakukan oleh Bagaskara Ardhana Putra padanya, sehingga ia pun bertekad meninggalkan kampung halamannya demi menjauhi saudara sepupunya yang sangat bejat dan keterlaluan padanya.


***


Di sisi lain, di kampung halaman Alina.


''Alina kemana? kenapa tak pernah ku lihat lagi batang hidungnya?'' gumam Bagaskara dengan mengendarai motor sportnya dengan sengaja wara-wiri untuk mengintai keberadaan Alina. Saudari sepupu yang masih sangat digilainya hingga detik ini.

__ADS_1


''Tidak ada juga, apa dia sedang bersemedi di kamarnya,'' batin Bagas menerka-nerka.


__ADS_2