Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 124. Mimpi Yang Meresahkan


__ADS_3

Nur Syifa telah terlelap dalam peraduannya, tinggal Alina yang belum bisa memejamkan matanya. Ia masih memikirkan tentang masa depannya yang masih saja belum terlihat jelas mengingat sakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Ia harus melewati berapa kali proses terapi ruqyah, agar kekuatan energi negatif yang ada di tubuhnya bisa hilang dengan sempurna mengingat penyakit yang telah lama bersarang di tubuhnya.


''Ya Allah, hanya kepadamu lah tempat hamba berharap. Semoga akan ada keajaiban darimu atas segala rasa sakit ini. Dengan menjauh dari kampung halamanku setidaknya aku bisa menghindari bertemu pandang dengan mas Bagas yang telah tega mendzolimi ku. Semoga suatu saat nanti dapat kutemukan seseorang yang memang tulus menyayangiku, menerima segala rasa sakitku. Kekurangan yang ada dalam diriku!'' Alina bergumam di dalam hatinya, tak dapat dipungkiri bahwa ia pun butuh cinta dalam hidupnya. Ia butuh seseorang yang bisa menyayanginya dengan tulus, rasa sakitnya yang kerap kali menuai keanehan ketika ia sedang tidak sadarkan diri.


Alina pun terlelap dalam mimpi, dan anehnya ia seolah bermimpi bertemu seorang pemuda yang ia anggap hanya sebagai seorang adik tidak lebih.


Pemuda itu seolah mampu untuk menutupi segala kedukaan yang menyelimutinya. Akan tetapi, Alina terus menolaknya karena pemuda tersebut bukanlah kriterianya. Namun, pemuda itu terus memohon kepada rabbnya agar bisa disatukan dengan Alina meskipun ia tahu gadis yang disukainya kerap kali mengalami keanehan dan gangguan mistis yang mungkin akan membuat orang takut ketika Alina sedang kerasukan.


Karena kekuatan sepotong do'a, Alina seolah merasa Fajar bisa merengkuhnya di dalam mimpi dengan ikatan yang halal.


''Fajar Guntur Ramadhan, tidakkk ... kau bukan laki-laki pilihanku, kita hanya berteman. Aku hanya menganggapmu seperti saudara!'' igau Alina di dalam mimpinya.


Nur Syifa terbangun dari tidurnya, ketika mendengar igauan mimpi Alina.


''Alina, bangun! kau sedang menggigau, apa yang terjadi denganmu? kenapa kamu memanggil-manggil nama Fajar?'' Nur Syifa menggoyang-goyang tubuh Alina, hingga gadis itu pun terbangun.


''Subhanallah, astaghfirullah ... Nur Syifa?'' Alina masih terlihat linglung, keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya. Mimpi sangat meresahkan itu, membuat Alina terbawa-bawa di alam nyata.

__ADS_1


''Kau bermimpi buruk? Segeralah wudhu, ucapkan kalimat ta'awudz agar terhindar dari tipu daya dan godaan setan!'' titah Nur Syifa yang melihat wajah Alina terlihat resah tentang apa yang dimimpikannya.


''Ini tidak buruk, akan tetapi aku berharap mimpi itu tidak menjadi nyata. Aku tidak menyukainya, dia terlalu muda untukku. Aku membutuhkan seorang imam yang bisa membimbingku dan juga memiliki rentang usia lebih tua dariku,'' ucap Alina jujur.


''Kamu bermimpi tentang Fajar adik ku?'' tanya Nur Syifa penuh dengan kehati-hatian. Ia tidak ingin mengganggu kondisi kejiwaan Alina gara-gara kenekatan adiknya yang sempat menawarkan diri ingin menikahi Alina.


Alina mengangguk pelan, ia pun mengusap keringat yang membasahi dahinya.


''Kau terlalu serius menanggapi dan memikirkannya, hingga terbawa ke alam mimpi. Jika kau tidak menyukai adikku tidak masalah, ia memang masih sangat muda pengalamannya pun tentang religi masih seumur jagung mengingat selama ini ia lebih betah dalam dunia gemerlapnya. Aku harap kalian tetap berteman, tetaplah ajari adikku untuk menuntut ilmu syar'i dan mempelajari ilmu pengetahuan dan al qur'an, karena kehadiranmu lah yang bisa membuatnya semangat untuk belajar. Jadi, jangan bawa mimpimu yang meresahkan ini ke dunia nyata.'' Nur Syifa tampak menenangkan Alina, ia pun memberikan segelas air putih kepada Alina dan Alina pun segera meneguk air putih itu sampai tandas.


***


Di sisi lain, Fajar begitu khusuk dalam dzikir dan do'anya bersamaan dengan terbangunnya Alina dari mimpi yang meresahkannya.


Ternyata mimpi yang barusan di igau oleh Alina ada hubungannya dengan do'a yang dipanjatkan oleh Fajar di sepertiga malamnya.


''Ya Allah, wahai dzat penggenggam kehidupan dan pencipta jagat raya. Sungguh, hamba yang hina dan papa ini menghadap kan wajah hamba pada-Mu. Sungguh, hamba akui betapa lemahnya dari aku. Hamba yang berumuran dosa dan maksiat ini menghadapkan wajah kepada-Mu, hamba mohon ampunan-Mu atas segala kesalahan dan khilaf yang pernah hamba perbuat di masa yang lalu. Hamba bertobat kepada-Mu dengan sebenar-benarnya taubat.''

__ADS_1


Fajar terus menghibah dalam do'a-do'anya, sampai di akhir kalimat tak lupa ia selipkan do'a berharap agar bisa disatukan dengan wanita yang begitu sangat dikaguminya yang tidak lain adalah Alina Cahya Kirani.


''Ya Allah, dzat yang maha mengetahui segala isi hati yang diam. Sungguh, hamba berharap penuh pada-Mu, izinkan hamba yang lemah ini bisa meraih cinta dari seorang bidadari yang telah menyentuh hati dan perasaanku kala memandangnya. Ia yang mampu menyelimuti hati dan jiwanya dengan keindahan akhlak dan agamanya, sungguh ... hamba sangat terpukau dengan kecantikan dan keanggunannya yang berbalut dengan busana syar'i yang menghiasi keindahan dalam dirinya. Ia laksana mutiara yang tersembunyi di dasar lautan, tidak mudah untuk meraih hatinya yang begitu terjaga oleh setetes kebeningan iman di hati.''


Fajar semakin mengagungkan kebesaran Rabb-nya, ia dengan terang-terangan meminta pada sang pencipta biar bisa disatukan bersama wanita yang dicintainya.


''Hamba mohon izinkan hamba dapat meraih dan menyentuh hatinya dalam ikatan yang halal, meskipun hamba sadari diri ini tidaklah pantas untuk bersanding dengannya. Akan tetapi, rasa ini telah merasuki di kedalaman hati dan jiwa ini, dan hamba yakin atas rasa yang terlahir dari sebentuk hati ini adalah anugerah dan karunia dari-Mu! oleh karena itu hamba berharap dekatkanlah kami pada keridhoan-Mu, izinkanlah hamba bisa membuktikan padanya jika diriku adalah cinta sejatinya. Sosok pria yang bisa menerima segala kelebihan dan kekurangannya, menerima segala rasa sakitnya dan menemani hari-harinya melewati segala proses kehidupan dan ujian hidup yang sedang menderanya. Ya Allah, izinkanlah hamba bisa berjodoh dengannya, dengan cara yang engkau ridhoi!''


Fajar terus bermunajat dan terus meminta Alina dalam do'anya. Tak peduli seisi dunia mencelanya, yang ia harapkan adalah keridhoan dari Rabb-nya. Fajar benar-benar mengetuk pintu langit ketika dirinya benar-benar membutuhkan pertolongan pada sang pencipta jagat raya agar mengabulkan segala do'a-do'anya. Karena ia sangat yakin jika pertolongan Allah itu dekat, kepada para hambanya yang senantiasa menggantungkan diri pada-Nya.


Seawam-awamnya Fajar Guntur Ramadhan, ia sangat yakin jika do'anya suatu saat nanti akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ia begitu meresapi manisnya iman ketika bermunajah pada tuhannya.


***


Di sisi lain menjelang subuh, Alina baru terjaga dari tidurnya ketika mendengarkan kumandang adzan menggema di seluruh pelosok kota, tempat di mana kini dirinya.


''Astaghfirullah, sudah menjelang shubuh! aku gagal menjalankan ibadah shalat malam, akibat terlelap setelah terjaga dari mimpi yang meresahkan itu!'' batin Alina sambil mengucek-ngucek matanya yang masih menyipit akibat masih menahan kantuknya.

__ADS_1


__ADS_2