Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 84. Ruqyah Part 1 With Ustadz Habib


__ADS_3

"Kakak, Alina nggak mau ikut. Ruqyahnya lain kali saja! Alina belum siap," ucap Alina dengan perasaan gugup. Entah kenapa jantung hatinya tiba-tiba berdebar, ketika hendak menuju kediaman ustadz Habiburrahman di kota S.


"Sudahlah, Nak! jika adikmu belum siap di ruqyah kalian berobat ke orang pintar saja!" saran ibu Chintya yang memang belum mengerti tentang pengobatan ruqyah syar'iyyah, yang mana ibu Cynthia ketahui hanyalah pengobatan alternatif melalui perang pintar atau dukun dan sejenisnya.


"Iya benar, kata ibu mu Nak!" timpal ayah Farel ikut menambahi.


"Apa menggunakan jampi-jampi milik ayahmu dulu!" saran ibu Chintya lagi.


"Maaf Ibu, bukannya Andara terkesan menggurui. Tapi akan lebih baik Alina berobat pada seorang ustadz yang memang telah jelas kedudukannya di dalam hal-hal yang berhubungan dengan syari'at Islam. Ruqyah itu baik untuk kesehatan karena metode pengobatannya sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an dan as-sunnah yang telah dianjurkan oleh nabi besar kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam!" terang Andara dengan meyakinkan kedua orang tuanya.


"Memangnya, ruqyah itu seperti apa?" tanya ibu Chintya penasaran.


"Ruqyah itu pengobatannya melalui bacaan-bacaan ayat Qur'an jelas berasal dari kalam ilahi dan tidak ada campur tangan syaiton atau perdukunan yang mungkin mereka lebih menggunakan mantra-mantra sakti untuk menyembuhkan pasiennya yang sedang terkena gangguan! dan cara pengobatan itu tidak dibenarkan oleh syari'at, sebab tanpa disadari telah menyekutukan diri kita dengan makhluk tak kasat mata yang jelas-jelas sangat tidak diridhoi Allah!" terang Andara tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Jlebbb!" jantung hati Ayah Farel seakan tertusuk duri ketika mendengarkan penuturan antara anaknya. Karena memang pengobatan jampi-jampi yang telah dilakukan ayah Farel juga nenek moyang mereka sebelumnya adalah menggunakan jampi-jampi yang seperti disebutkan oleh Andara anaknya.


Namun ayah Farel yang masih awwam akan hal tersebut melakukan aksi protes. Dia tidak terima jika putri mereka meremehkan ilmu peninggalan nenek moyang mereka.


"Hush jaga ucapanmu! pamali Nak, nanti kamu kena kutukan atas ucapanmu yang tidak mendasar!" sangkal Ayah Farel.


Melihat perdebatan orang tuanya dan kakaknya Alina pun menegahi, "Ayah, ibu kak Andara biar Alina berobat ruqyah dulu mengikuti kak Andara dan kak Dimas. Tidak apa-apa pengobatannya kan melalui bacaan ayat-ayat Qur'an, memang menjadi tuntunan dan pedoman hidup kita!" ucap Alina dengan segera berpamitan pada kedua orang tuanya.


Ayah Farel pun, tidak dapat mencegah keinginan anak-anaknya jika memang itu berhubungan dengan Al-Qur'an. Apalagi Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam. Meskipun awwam, ayah Farel dan ibu Chintya sangat meyakini akan mukjizat yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur'an.


"Baiklah, itu terserah kalian! Ayah tidak bisa mencegah jika itu untuk kebaikan!" Ayah Farel pun mengalah.


"Ibu ikut!" ucap ibu Chintya tiba-tiba.

__ADS_1


Ibu Chintya merasa ia punya tanggung jawab pada anak bungsunya. Jadi, ibu Chintya ingin menyaksikan langsung cara pengobatan yang disarankan oleh Andara anak sulungnya.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, Dimana kini Dimas Sidqi Amrulloh sudah siap siaga untuk mengemudi mobil angkutan umum yang disewanya. Sebab ia tidak mungkin mengendarai motor dan membonceng istri dan adik iparnya. Apalagi sekarang mama Chintya pun ikut pergi bersama mereka.


Ke empat orang berbeda generasi tersebut pun, segera berangkat dengan niat yang baik demi untuk kesembuhan Alina.


Hanya ayah Farel yang tidak ikut, ia lebih memilih mengurusi perkebunannya. Apalagi dirinya masih meyakini ilmu peninggalan nenek moyangnya, namun ayah Farel tidak menghalangi hal yang mendasar menjadi keinginan anak-anaknya, apalagi pengobatannya berkaitan dengan syari'at Islam. Ayah Farel tidak bisa menentang itu.


***


Empat puluh lima menit kemudian.


Alina dan keluarganya sudah sampai di kediaman ustadz Habiburrahman. Alina semakin gugup dan gemetaran ketika langkah kakinya hendak menginjak pekarangan rumah milik ustadz yang digadang-gadangkan untuk meruqyah nya itu.


"Ibu, Alina takut!" ucap Alina dengan wajah yang sudah pucat pasi.


Alina pun mengikuti langkah kaki ibunya juga kakaknya yang Andara dan Dimas kakak iparnya.


"Assalamualaikum ... " Dimas memberikan salam pada penghuni rumah.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah!" jawab suara yang begitu terkesan lembut dan enak didengar telinga.


"Ya Allah lembut dan santun sekali!" batin Alina. Apalagi setelah melihat wajah tampan dan teduh milik ustadz Habiburrahman membuat detak jantung Alina tiba-tiba berdebar dan berdegup kencang.


"Ya Allah ternyata di dunia ini, ada makhluk yang bernama Adam sesempurna ustadz Habib. Wajahnya sangat bercahaya!" batin Alina dengan mengagumi ketampanan seorang Habib.


"Maa syaa Allah, silakan masuk akhi!" ucap ustadz Habib lembut dengan merangkul dan menyambut kedatangan Dimas Sidqi Amrulloh bersama anggota keluarganya.

__ADS_1


Ustadz Habib pun menelungkupkan kedua tangan di dadanya ketika berhadapan dengan Alina, Andara dan juga ibu Chintya sebagai salam penghormatan sebagai sesama muslim.


Ustadz Habib pun mempersilakan Alina dan keluarganya untuk duduk di sofa. Dimas pun membuka percakapan mengenai tujuannya silaturahmi di kediaman ustadz Habib.


"Begini ustadz, kedatangan kami mengunjungi kediaman ustadz Habib adalah untuk mengobati adik ipar saya ini. Ia mengalami gangguan yang katanya terkena guna-guna dari seseorang yang pernah jadi masa lalunya. Untuk memastikan kebenaran itu saya berniat untuk minta tolong ustadz Habib meruqyah adik ipar saya yang bernama Alina!" terang Dimas Sidqi Amrulloh.


Ustadz Habib pun mendengarkannya dengan seksama, ia memperhatikan sekilas wajah Alina, gadis yang akan di ruqyah olehnya.


"Baiklah saya akan memulai proses ruqyah nya. Namun, untuk ruqyah pertama kita melakukannya dengan bertahap. Apapun hasilnya nanti, saya harap akhi juga anggota keluarga lainnya menerimanya dengan lapang dada. Sebab, jika penyakit tersebut sudah mendarah daging proses ruqyahnya harus diulangi berapa kali pengulangan. Sampai yang mengalami gangguan tersebut bisa benar-benar lepas dari gangguan jin dan sihir yang hendak menghancurkan dirinya."


Ustadz Habib pun segera mempersiapkan diri dengan memakai sarung tangannya, agar tidak bersentuhan dengan kulit Alina ketika sedang meruqyah gadis yang sedang mengalami gangguan tersebut.


Alina nampak gugup ketika mereka semuanya lesehan di lantai, ia didampingi oleh ibu Chintya, kakaknya Andara juga kakak iparnya Dimas.


Alina berusaha melawan pergolakan batinnya, ketika memulai persiapan ruqyah dengan ustadz Habib. Kekuatan energi negatif seolah-olah menyerangnya. Namun, Alina berusaha untuk tenang dan melawan kekuatan energi negatif tersebut.


Ustadz Habib membaca ayat-ayat ruqyah dengan khusuknya, membuat perubahan diri Alina terlihat aneh. Ia tiba-tiba tertawa lepas ketika ustadz Habib meletakkan tangannya yang tertutup sarung di atas pucuk kepala Alina.


"Hehehe ... hehe," Alina terus tertawa lepas seperti orang gila. Namun, ustadz Habib terus membaca ayat-ayat ruqyahnya sampai tubuh Alina bergetar hebat. Keringat dingin pun membasahi sekujur tubuhnya. Kakinya pun terasa kram. Makhluk tak kasat mata di dalam tubuhnya enggan bersuara dan mengakui keberadaannya. Hingga membuat Alina kewalahan.


"Panassss, aku sudah sehat, kalian tidak akan sanggup mengobati ku!" pekik Alina sambil tertawa lepas, membuat keluarganya terutama Ibu Chintya. Ia tidak tega melihat putri bungsunya yang meringis kesakitan dan tertawa lepas seperti orang gila.


Ustadz Habib terus membacakan ayat-ayat ruqyahnya untuk menenangkan Alina dan hebatnya sakit kepala yang sering menggerogoti Alina pun kini sudah berangsur pulih, seiring tetesan keringat yang mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya.


Ruqyah part 1 dengan ustadz Habib hanya berjalan 30 menit, makhluk yang berada dalam tubuh Alina pandai menyembunyikan kemunafikannya hingga Alina terlihat bugar. Namun, pada kenyataannya gangguan di dalam tubuh Alina semakin menjadi-jadi. Pikiran Alina memang terlihat tenang, namun penyakit didalam tubuhnya tidak serta-merta hilang begitu saja mengingat penyakitnya yang sudah mendarah daging.


"Sepertinya kita akhiri dulu ruqyahnya, Alina sudah kewalahan. Terkadang buhul-buhul yang di hembuskan lewat jin dan sihir itu akan keluar lewat tetesan keringat. Bisa juga lewat buang kotoran dan sejenisnya!" terang ustadz Habib yang sangat memahami jika Alina masih harus terapi ruqyah di waktu selanjutnya. Mengingat penyakit tersebut masih bersarang di tubuh Alina.

__ADS_1


__ADS_2