Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 11. Saling Menyerang ( Satu Sama )


__ADS_3

Bagaskara melafalkan mantra-mantranya dengan balas menyerang Maharani yang telah berani menghembuskan ajian penarik sukma padanya, sehingga keduanya pun saling menyerang menunjukkan ilmu siapa yang paling ampuh diantara mereka berdua. Sehingga dihembusan mantra terakhirnya keduanya pun sama-sama tumbang, uji keampuhan ilmu diantara keduanya pun satu sama. Hingga keduanya tiba-tiba dituntun untuk melangkahkan kakinya menuju suatu tempat yang sepi, jauh dari kerumunan warga, sambil melafalkan mantra masing-masing guna melumpuhkan lawannya.


"Berdebah! ternyata gadis itu juga memiliki ilmu yang sangat luar biasa. Kenapa langkah kaki ku seolah-olah dituntun untuk menemuinya," bathin Bagaskara mulai gusar.


"Celaka! kenapa perasaan ku begitu kuat terhadapnya? Maharani kau benar-benar gadis berbisa, kau bersembunyi di balik wajah lugu mu!" bathin Bagaskara dengan melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Alina, maafkan Mas meninggalkan mu! semoga dirimu baik-baik saja, semoga kau belum sadar dari pingsan mu sebelum Mas kembali!" bathin Bagaskara dengan meninggalkan Alina yang terbaring lemah di sofa ruang tamu seperti Puteri tidur.


Bagaskara mengecup kening Alina, sebelum sukmanya terpanggil untuk menemui Maharani.


"Selamat terlelap Puteri tidur ku, Mas mencintai mu!" bathin Bagaskara dengan memandangi wajah ayu Alina yang begitu memancar indah yang terlahir dari kebeningan hati dan jiwanya.


Bagaskara berjalan dengan secepat kilat menuju tempat dimana Maharani kini berada, keduanya pun saling menatap dengan penuh nafsu seperti setahun tidak bersua.


Disemak-semak yang jauh dari tempat tinggal mereka, keduanya pun menghentikan langkahnya.


"Maharani, kau telah memanggil sukma ku kemari! jangan salahkan aku jika nafsu ku membuncah karena mu!" sarkas Bagaskara dengan mendekatkan wajahnya pada Maharani.


Maharani yang terkena ajian pengasihan dari Bagaskara Ardhana Putra pun kini di dera oleh rasa rindu berat yang telah mencapai ubun-ubunnya.


"Kak Bagas, Maharani merindukan kakak!" ucap Maharani dengan merengkuh tubuh Bagaskara dengan penuh nafsu dan gelora yang membuncah jiwa mudanya.


Bagaskara yang mendapat perlakuan manis dari Maharani pun tidak tinggal diam, ia pun membalas rengkuhan Maharani dengan nafsu yang memburu, sehingga keduanya hampir hilang kesadaran. Bagaskara menyesap bibir mungil Maharani dengan deru nafas yang memburu.

__ADS_1


"Maharani, aku menginginkan mu!" ucap Bagaskara yang mulai hilang kesadaran antara rasa cinta dan benci yang bercampur nafsu pada sosok Maharani yang telah memikatnya dengan ilmu pengasihan membuat Bagaskara menatap Maharani dengan penuh nafsu yang memburu.


Dengan bermodalkan lampu LED dari ponsel masing-masing sebagai penerangannya di dalam semak belukar, kedua anak manusia itu pun bercumbu rayu menyalurkan jejak hasratnya yang membuncah.


"Kak," ucap Maharani dengan deru nafas yang memburu. Keduanya pun saling berbalas ciuman yang sangat menggelora, hilanglah rasa benci dan dendam diantara keduanya, kini semua berganti hasrat yang membuncah di antara keduanya. Ajian pengasihan yang mereka hembuskan justru membuat mereka saling menyerang satu sama lain. Syetan seolah berhura ria, sebab telah berhasil menjerat kedua anak manusia tersebut dalam jerat asmara yang dapat menyesatkan hati dan jiwa masing-masing. Ajian pengasihan yang mereka pelajari justru menyerang mereka untuk melakukan kemaksiatan dan kemungkaran yang lebih dalam lagi.


Bagaskara hendak melucuti pakaian yang melekat di tubuh Maharani, namun ia pun tersadar bayang-bayang Alina tiba-tiba muncul di benaknya.


"Alina Cahya Kirani, maafkan Mas!" ucap Bagaskara dengan mendorong tubuh Maharani dari dekapannya.


Maharani pun tersadar dari pengaruh ilmu sihir Bagaskara Ardhana Putra. Ia pun memegang kepalanya yang terasa sakit akibat pengaruh ajian yang dihembuskan oleh Bagaskara Ardhana Putra.


"Apa yang kau lakukan terhadap ku, wahai laki-laki munafik berkedok Ustadz!" pekik Maharani dengan sorot mata merah menyala menatap wajah Bagaskara Ardhana Putra.


"Plakkkk!" tamparan mendarat sempurna di wajah tampan milik Bagaskara.


"Jaga ucapan mu wahai laki-laki bejat, kau yang mulai menyerang ku. Kau yang mulai menghembuskan angin cinta pada ku! kau yang mulai meniupkan buhul-buhul cinta pada ku dalam keadaan tidak sadar ku, dan kau pun telah mereguk manisnya diriku, kau benar-benar munafik!" teriak Maharani dengan mengusap sudut bibirnya bekas sesapan Bagaskara. Ia pun merapikan pakaian yang acak-acakan oleh Bagaskara Ardhana Putra.


Untuk kedua kalinya Maharani meneteskan air matanya oleh sikap munafik Bagaskara terhadapnya. "Aku pastikan anak dan keturunan mu terpecah belah, dan aku sumpahi agar dirimu tidak pernah mendapatkan keturunan!" ucap Maharani dengan nada tinggi.


"Sekotor-kotornya diriku, aku yakin do'a orang-orang yang terdzolimi pasti akan di kabulkan oleh Allah!" sumpah serapah Maharani dengan membawa kekesalannya dan kekecewaannya terhadap Bagaskara yang telah mempermainkan hati dan jiwanya.


Maharani pun pergi meninggalkan Bagaskara sendirian di tengah-tengah hutan tersebut. Walaupun sebenarnya Maharani sangat takut dalam kegelapan ketika ia menyadari jika kini ia berada di semak-semak belukar.

__ADS_1


"Ilmu sihir itu sangat luar biasa, kenapa diriku bisa terjebak di hutan ini!" gumam Maharani dengan mencari jalan pulang bermodalkan lampu senter ponselnya.


***


Bagaskara pun mengelus pipinya yang terasa pedas bekas tamparan Maharani, "Dasar wanita yang sulit untuk di mengerti, kenapa pula ia nekad untuk menarik ku dengan ajian pemikatnya, jika akhirnya ia pun terjebak dengan permainannya. Sungguh aneh, ajian penarik sukma yang ia lafalkan justru membuat kami saling menyerang! kita satu sama Maharani!" gumam Bagaskara dengan seringai liciknya. Ia pun mencari jalan pulang menuju rumahnya.


Tring ... tring ... tring, ponsel Bagaskara pun berbunyi. Ia pun melihat layar benda pipih itu," Mama Laras? mati aku meninggalkan Alina sendirian di rumah, bagaimana jika Mama sudah pulang dari arisan?" Bagaskara bertanya-tanya didalam hatinya. Ia pun mengangkat ponselnya.


"Hallo Ma," sapa Bagas pada Mama Laras.


"Hallo ... hallo, menyapa orang tua itu hendaknya pakai salam. Apa gunanya Mama menyekolahkan mu sampai Madrasah Aliyah Negeri jika kelakuan mu seperti ini, apalagi kau seorang guru mengaji yang telah menyandang gelar Ustadz? bisa-bisanya kau tidak mengucapkan salam pada orang tua," omel Mama Laras dari seberang telfon.


"Iya, iya maaf. Assalamu'alaikum Mama," ucap Bagaskara dengan menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.


Satu hal yang penting dalam hidup Bagaskara, ia sangat menghormati bidadari tak bersayapnya tersebut. Semenjak ayahnya meninggal dunia Bagaskara begitu menuruti setiap keinginan mamanya tak pernah sekalipun ia membantah ibu yang telah melahirkannya tersebut. Jika sudah berhadapan dengan mamanya ia seolah berubah menjadi anak yang penurut.


"Wa'alaikumsalam, kau dimana? kenapa kau meninggalkan Alina sendirian dirumah, sampai ia tertidur di sofa? cepat pulang, antar adik sepupu mu kembali ke rumahnya, ini sudah pukul 21.00 wib. Jangan bilang jika kamu keluyuran dan belum sholat Isya?" celoteh Mama Laras dari seberang telfon.


"Iya Ma, maaf. Bagas telah meninggalkan Alina sendiri, Bagas ada keperluan dengan teman, 10 menit lagi Bagas nyampai di rumah!" ucap Bagaskara dengan menenangkan mamanya. Mama Laras pun mematikan telfonnya.


"Maafkan Bagas, Ma. Bagas memang belum menunaikan ibadah shalat Isya. Maafkan Bagas yang akhir-akhir ini telah lalai!" bathin Bagaskara yang sedikit menyadari segala kekeliruannya. Namun, dirinya masih tetap saja betah terus dalam kemusyrikannya tanpa sepengetahuan Mama Laras.


"OMG! ini jalan arahnya kemana? jangan sampai aku tersesat! kenapa pula aku sampai melangkahkan kakiku kemari? semua ini ulah si Maharani, awas saja dia. Tak kan kubiarkan ia terus menjadi benalu dalam kehidupan ku! seharusnya ia bersyukur bisa mendapatkan sentuhan pertama ku, Alina wanita yang kucintai pun tidak pernah merasakan sentuhan hangat ku!" gerutu Bagaskara dalam hatinya yang ditujukan pada Maharani, gadis belia yang telah terjerat cinta butanya.

__ADS_1


__ADS_2