Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 55. Cemas


__ADS_3

Kedua orang tua Alina nampak cemas, sebab sudah hampir pukul lima sore, Alina belum menampakkan batang hidungnya. Sementara teman-temannya sudah berapa kali bolak-balik kerumahnya hanya sekedar untuk menanyakan keberadaan Alina. Berkali-kali di telfon pun Alina tak kunjung mengangkat ponselnya.


"Alina kemana, Yah? sejak tadi ibu telfon tidak di angkat olehnya, padahal ponselnya aktif!" ujar ibu Chintya cemas.


"Apa Ibu sudah menanyakan juga pada teman-temannya?" timpal Ayah Farel yang baru pulang dari perkebunan.


"Sudah, Yah. Tadi Putri, Maharani, Chika dan Dela juga habis dari sini!" pungkas Ibu Chintya.


"Apa dia sedang bersama Bagaskara?" tanya ayah Farel lagi.


"Oh iya, ibu hampir lupa!" ibu Chintya pun menghubungi Bagaskara.


"Bibi Chyntia! ada apa gerangan ia menghubungi ku?" Bagaskara merasa ketar-ketir sebab ia dan Alina sedang tidak baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum, ada apa Bi?" sapa Bagaskara dengan berpura-pura baik.


"Wa'alaikumsalam, apa Alina ada bersama mu?" tanya Ibu Chyntia dengan harap-harap cemas.


"Tidak ada bibi, memangnya Alina tidak ada di rumah?" tanya Bagaskara mulai panik. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya, serta mengenakan jaketnya juga menyambar kunci motor sportnya.


"Bibi, jangan cemas! Aku akan mencari Alina," ucap Bagaskara dengan nada khawatir.


Komunikasi itu pun terputus, Bagaskara segera menghidupkan motor sportnya untuk mencari keberadaan Alina.


"Alina kemana, sich? bukankah tadi ia pergi bersama Reno? keterlaluan, jika terjadi apa-apa dengan Alina, aku akan menghajarnya. Ini semua gara-gara Queensha Putri, kalau saja tadi ia tidak menjebak ku, mungkin saja Alina tidak akan menghilang seperti ini! Alina pasti marah padaku? awas saja kau Putri, aku akan membalas semua perbuatan mu! bukan Bagaskara namanya jika tidak berhasil menaklukkan hati wanita!" oceh Bagaskara hendak melajukan kendaraannya.


Namun, netranya tertuju pada mobil mewah yang sedang memasuki pekarangan rumah Alina.


"Siapa itu?" Bagaskara tidak berhenti memandang ke arah rumah Alina yang hanya berjarak 5 meter dari rumahnya.

__ADS_1


Ibu Chyntia dan Ayah Farel segera keluar dari dalam rumahnya, ketika melihat ada mobil masuk dipekarangan rumah mereka.


"Itu siapa, Yah?" jantung ibu Chyntia berdetak lebih cepat, ia khawatir jika mobil itu adalah petugas keamanan yang mengantarkan jasad anaknya yang hilang seharian, karena terjadi suatu hal yang membahayakan seperti adegan di film-film.


"Astaghfirullah! apa yang aku pikirkan?" gumam ibu Chyntia dengan raut wajah cemasnya, memikirkan tentang keselamatan anak bungsunya.


"Sabar, Bu! tetap rileks jangan tegang!" timpal Ayah Farel berusaha untuk menenangkan istrinya.


Dan benar saja, Guntara nampak keluar dari dalam mobilnya. Ia pun membuka pintu untuk Alina. "Bagaimana, apa Alina sudah bisa jalan sendiri?" tanya Guntara dengan baik nada santun dan lembut.


"Insya Allah, bisa Kak!" Alina berusaha untuk turun dari dalam mobil dalam keadaan masih lemas dan terhuyung.


Alina hampir tumbang, namun Guntara dengan sigapnya mendekap tubuhnya. "Biar kakak yang papah, kau masih terlihat lemas!" Guntara mengangkat tubuh Alina ala bridal. Membuat Alina merasa tersanjung untuk yang kesekian kalinya atas perlakuan manis Guntara terhadapnya.


"Kak Gun!" ucap Alina pelan, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Guntara dengan perasaan yang campur aduk. Debaran-debaran aneh tiba-tiba menggelitik di ulu hatinya. Entah apa gerangan makna lesu, Alina pun sulit mengartikan perasaannya sendiri. Sebisa mungkin ia menepisnya, ketika menatap manik mata Guntara, Alina tiba-tiba terbayang-bayang dengan sosok Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori, sosok pemuda sholih yang pertama kali mampu menyentuh hatinya semenjak 6 bulan terakhir ini.


"Kak An, aku hampir melupakannya!" batin Alina antara ada dan tiada.


"Sakiitttttt!" pekik Alina dengan memukul-mukul kepalanya. Membuat Guntara yang semula terpana akan pesona Alina pun di buat kalang kabut oleh sikap Alina yang kembali histeris.


"Alina, tenangkan diri mu!" ucap Guntara dengan penuh kelembutan.


Sementara, Ibu Chyntia segera menarik tangan suaminya untuk keluar rumah ketika mendengar pekikan yang mirip suara anaknya.


"Itu Alina, anak kita Yah!" pekik ibu Chyntia tak kalah histerisnya.


"Iya Bu, hati-hati! jangan tergopoh-gopoh." Ayah Farel berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Alina kau tidak apa-apa, Nak?" tanya ibu Chyntia, ketika melihat putrinya berada dalam dekapan orang asing.

__ADS_1


Alina tidak segera merespon, ia masih meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


"Assalamu'alaikum," ucap Guntara terdengar santun. Ia tetap berusaha ramah, meskipun dalam keadaan mengendong tubuh Alina yang sedang ngamuk-ngamuk.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi!" Ayah Farel dan Ibu Chyntia menjawab salam tersebut dengan seribu tanda tanya.


"Anda siapa anak muda? kenapa anak kami ada bersama mu!" tanya Ayah Farel mencoba untuk tenang, meski terbesit pikiran buruk terhadap Guntara.


Ibu Chyntia ingin sekali mengoceh, namun ia tahan. Apalagi dari seberang jalan ada Reno yang hendak memasuki pekarangan rumahnya.


Reno langsung memberi salam pada Ayah dan ibu Alina, kemudian ia pun langsung memperkenalkan Guntara pada kedua orang tua Alina.


"Om, Tante. Ini Guntara, teman Reno. Apa boleh kami masuk?" tanya Reno. Ia tak tega melihat Guntara yang sejak tadi belum dipersilahkan masuk oleh orang tua Alina, apalagi dalam keadaan membopong tubuh Alina dengan BB 47kg, tentunya terasa pegal di pundak.


"Oh, iya maaf. Mari silahkan masuk anak muda!" Ayah Farel baru menyadari akan keteledorannya. Sebab, terlalu mencemaskan keadaan Alina, tanpa memikirkan keberadaan Guntara yang setengah mati membopong tubuh anak mereka.


Guntara pun meletakkan tubuh Alina di sofa dengan sangat hati-hati, agar tidak menyakiti wanita yang di cintainya.


"Bagaimana ceritanya, anak kami bisa seperti ini? seharian ibu tidak melihat batang hidungnya, pulang-pulang dalam keadaan begini?" Ibu Chyntia meneteskan air matanya ketika melihat anaknya meringis kesakitan.


Ayah Farel berusaha untuk menenangkan istrinya dan minta penjelasan dari Guntara dan Reno mengenai kondisi Alina yang tiba-tiba sakit seperti ini.


Reno dan Guntara pun menjelaskan penyebab penyakit yang diderita Alina, hingga mereka berobat ke tempat orang pintar yang bernama Mbah Rohimah. Akan tetapi, mereka tidak memberitahukan jika pelakunya adalah Bagaskara Ardhana Putra, keponakan mereka sendiri, yakni kakak sepupu Alina. Mereka tidak ingin orang tua Alina shock mendengarnya.


"Jadi, anak kami terkena guna-guna? siapa pelaku bajing*n itu?" Ayah Farel pun mengepalkan tinjunya di udara.


Sementara, Reno dan Guntara hanya bisa lirik pandang. Mereka belum bisa memberitahukan siapa pelakunya.


Ibu Chyntia menangis tersedu-sedu dengan nasib yang menimpa Putrinya. "Nak, betapa malangnya nasibmu, siapa yang tega melakukan ini padamu!" Ibu Chyntia mengelus-elus pucuk kepala Alina dengan penuh kasih. Isak tangisnya sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya begitu sangat menyayat hati.

__ADS_1


"Ibu, maafkan Alina telah membuat ibu sedih!" ucap Alina yang sudah mulai tenang, entah kekuatan apa yang merasukinya, ia pun kembali terlihat segar bugar seperti orang yang tidak sakit, begitulah cara syaitan untuk memperdaya hidup Alina yang kini selalu di hantui hal-hal yang mistis.


"Alina, engkau sudah pulih, Nak!" ucap Ibu Chyntia dengan wajah berbinar.


__ADS_2