
Detik demi detik jarum jam terus berputar, hari demi hari pun berlalu. Minggu pun kini telah berganti bulan. Kini tepat 6 bulan sudah, janji di mana Alina ingin bertemu dengan Ansori di acara wisuda pria yang sangat dikaguminya itu. Meskipun baru sekali bersua setelah pertemuan beberapa bulan yang lalu. Namun, rasa cinta di hatinya terus bertumbuh terhadap pemuda tersebut. Perasaan yang tidak ia ketahui dari mana awalnya bermula.
Alina kini terlihat sangat anggun dengan balutan hijab dan pakaian muslim ala Zaskia Adya Mecca yang dikenakannya. Ia masih mengenakan hijab modis yang mengikuti trendy-nya jika hendak keluar rumah.
Namun, di rumah atau di pengajian dia berusaha untuk tampil syar'i dengan atasan muslim dan rok sederhana untuk membaluti tubuhnya.
Alina nampak bersemangat, sebab hari ini adalah hari pertemuannya dengan Muzakki Ansori yang telah dijanjikan olehnya akan menghadiri acara wisuda di kampus pemuda yang sangat dikaguminya itu.
"Semoga saja kak An masih mengenaliku setelah perjumpaan diangkot tempo hari!" batin Alina dengan melihat pantulan wajahnya di cermin.
Alina terlihat sangat cantik dan modis sekali dengan penampilannya hari ini. Ia tampil natural namun tidak mengurangi kecantikan dan pesonanya.
"Ayah, ibu. Alina berangkat dulu!" ucap Alina dengan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Anak kita, yah. Sepertinya dia sudah sembuh dari sakitnya, terbukti dia nampak ceria." ibu Chintya nampak senang melihat perubahan positif pada diri anaknya.
"Memangnya pengobatan ruqyahnya sudah tuntas ya, Bu?" tanya ayah Farel.
"Alhamdulillah, sudah terlihat lebih baik setelah dua kali ruqyah pada ustadz Habib. Namun, makhluk yang berada di dalam tubuh Alina belum mengakui siapa dirinya yang telah mengirim sihir dan guna-guna pada anak kita! padahal ibu ingin sekali mengetahui siapa dalang dibalik penyakit yang sering datang tiba-tiba menyerang putri bungsu kita!" Pungkas ibu Chintya dengan mode serius.
"Semoga saja suatu saat nanti semuanya terbongkar, saya tidak ridho laki-laki tersebut terus menghantui anak kita Alina." Ayah Farel terlihat geram, ia tidak tahu jika semua itu adalah ulah keponakan istrinya Bagaskara Ardhana Putra.
"Aamiin, ibu yakin sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Ibu yakin sepintar-pintarnya pemuda tersebut menyembunyikan keburukannya pasti akan terbongkar juga!" ucap ibu Chintya. Ia nampak penasaran, siapa sebenarnya laki-laki yang telah mengguna-gunai anaknya. Entah apa yang akan terjadi jika ibu Chintya mengetahui akan kebejatan keponakannya Bagaskara yang telah tega menyakiti Alina bidadari hati mereka.
Alina menyetop sebuah bis kota, ia pun segera menaiki bis tersebut menuju kota S.
Tiga puluh menit perjalanan, Alina pun telah sampai di kota S. Alina pun segera mencari Abang tukang becak untuk menuju kampus di mana Muzzaki Ansori selama ini menempuh jenjang pendidikan perguruan tingginya.
Alina telat 10 menit, ia tidak bisa masuk ke dalam gedung di mana acara kini sudah dimulai. Tiket masuk yang ia pegang pun, tidak bisa ia gunakan. Akhirnya, ia hanya bisa melihat acara wisuda itu lewat layar yang telah dipasang di luar ruangan bergabung bersama pengunjung lainnya.
"OMG! Telat lagi, terpaksa lihat layar lebar saja!" ucap Alina setengah menggerutu. Dia pun memilih, duduk di kursi bagian tengah.
"Ini semua gara-gara Abang tukang becak itu, bergeraknya sangat lamban. Tapi, aku juga tidak bisa menyalahkannya. Jika berpacu dengan waktu, aku sangat takut jika harus kebut-kebutan! resiko punya penyakit akut, jadi bawaannya takut terus menerus. Gagal ketemu langsung dengan kak An!" gerutu Alina lagi.
Alina pun menatap satu persatu peserta wisuda yang bergiliran naik di atas panggung ketika mendapat giliran panggilan namanya disebut.
"Lama sekali, kak Ansorinya yang mana?" Alina bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia memperhatikan satu persatu mahasiswa lewat layar lebar tersebut. Pada saat urutan ke- 66, mampu membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat ketika pembawa acara menyebutkan nama Ansori lulus dengan predikat baik.
__ADS_1
"Kak An, di-dia ... dia sangat luar biasa!" batin Alina gugup. Ia benar-benar tidak bisa mengkondisikan perasaan yang saat ini, yang ia rasakan ia benar-benar mengagumi sosok laki-laki tersebut.
"Mungkinkah aku bisa bersanding dengannya?" Alina kembali bertanya-tanya dalam hatinya.
Dua jam kemudian serangkaian acara pun selesai, perasaan Alina semakin tak karuan. Ketika mendapat pesan dari Ansori yang menanyakan di mana keberadaannya.
📲 "Alina, kamu di mana? kakak sekarang sudah keluar dari dalam gedung!"
📲 "Alina di luar, Kak. Tadi Alina telat datang, jadi hanya bisa melihat kakak lewat layar lebar."
📲 "Baiklah, kakak akan segera menemuimu!"
📲 "Iya, Kak. Alina tunggu!"
Alina pun menunggu Ansori untuk menemuinya di luar gedung, "Assalamu'alaikum, kamu Alina bukan?" tanya Ansori, ketika melihat gadis manis yang mengenakan hijab modis ala Zaskia Adya Mecca.
"Sangat cantik dan menarik!" batin Ansori lagi.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," jawab Alina dengan perasaan gugupnya. hatinya seakan bersya'ir ria.
Rindunya hatiku, padamu kasih
Oh, seluruh tubuhku bagai tak bernyawa.
Cinta suci oh suci kita bina bersama.
Jadilah raja di hatiku kasihku oh sayangku ...
Bisikan hati Alina yang terlahir tulus dari kedalaman hatinya terhadap sosok Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.
Keduanya pun, saling memandangi satu sama lain. Ansori pun tak sanggup menatap wajah yang terkasih yang hampir berapa bulan terakhir ini sangat dirindukan olehnya. Setelah pertemuan pertama beberapa bulan yang lalu.
Sucinya cintamu meluluhkan hatiku
Sucinya cintamu meluluhkan hatiku
Oh seluruh tubuhku bagai tak berdaya
__ADS_1
Cinta Suci Oh suci kita bina bersama
Rindunya hatiku sudah tak tahan
Aku datang melamarmu
Kan ku jadikan permaisuri
Oh kasihku oh sayangku
Bersemilah di hatiku oh kasihku oh sayangku
( Tere Liye )
Bisikan hati Ansori, yang begitu mengharapkan jika Alina akan menjadi permaisuri dalam hidupnya. Namun, kebahagiaan yang terpancar dari binar mata mereka kini pun terlihat redup setelah mendengar suara lembut menyapa Muzakki Ansori dari arah belakang mereka.
"Assalamu'alaikum, Muzzaki Ansori? apa kabar?" wanita berpakaian syar'i itu pun menelungkupkan tangannya di dadanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, anda siapa?" tanya Muzakki yang tidak kenal dengan wanita yang terlihat religius tersebut.
"Dia Annisa Nur Fadilah, anak teman Ummi!" ucap Ummi Ansori datang tiba-tiba di hadapan mereka dengan raut wajah yang terlihat santai. Ia memang sengaja membawa Annisa, calon menantu pilihannya yang akan dijodohkan dengan Muzakki Ansori anaknya.
"Ja-jadi, wanita sholehah ini yang sengaja dijodohkan oleh ummi padaku?" batin Ansori dengan melirik sekilas ke arah Alina yang dari sejak tadi terdiam melihat interaksinya pada umumnya juga pada Anisa.
Ansori merasa tidak nyaman, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa umminya mengundang Annisa untuk hadir di acara wisudanya.
"Kenapa terlihat bingung, Nak? Annisa baru hari kemarin pulang dari ibu kota, ia sengaja ingin menghadiri acara wisudamu!" terang ummi Ansori lagi.
"Siapakah wanita sholehah ini?" batin Alina dengan menatap sekilas ke arah Annisa yang begitu terlihat anggun dengan dengan jubah dan hijab syar'i yang dikenakannya.
"Ia terlihat sangat religius sekali!" batin Alina yang merasa mulai tak nyaman. Ia merasa menjadi benalu atau momok yang menakutkan di hadapan orang tua Ansori dan juga Annisa.
Namun, ia bahagia sebab telah menepati janjinya menghadiri acara wisuda Muzzaki Ansori. Meskipun ia merasa ada hal yang mengganjal antara Ansori, Annisa dan juga Ummi Ansori.
"Oh ya Alina, kenalkan ini ummiku!" ucap Ansori dengan memperkenalkan umminya pada Alina.
"Alina Cahya Kirani, Ummi!" Alina menjulurkan tangannya dan mencium punggung tangan ummi Ansori.
__ADS_1
"Jadi, dia wanita pilihan putraku!" batin ummi Ansori yang terlihat tak setuju ketika melihat Alina yang masih terlihat modis. Jauh dari menantu idamannya.
"Dia tak sebanding dengan Annisa yang begitu terlihat sangat anggun dan religius. Aku tidak akan membiarkan putraku, terus bersama gadis itu!" batin ummi Ansori yang terlihat tidak bersahabat pada Alina.