Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 127. Teriris Sembilu


__ADS_3

''Ciyeee, yang sedang terpana!'' goda Nur Syifa, ketika melihat rona wajah Alina sedikit merona setelah kepergian Fajar.


''Terpana apanya, Nur? aku tidak mungkin menyukai Fajar,'' ceplos Alina sambil menahan degup jantungnya yang berdebar kencang.


''Tidak apa-apa kok Lin, pelan-pelan saja! siapa tahu kita bisa jadi ipar.'' Nur Syifa terkekeh sambil menggoda Alina.


''Semoga itu tidak terjadi Nur, Fajar masih sangat muda. Masih banyak hal yang harus ia pelajari. Aku memiliki kreteria pemuda idaman tersendiri. Aku mendamba laki-laki yang lebih dewasa usianya dariku 25 or 27 tahun misalnya. Aku juga menyukai sosok pria yang religus dan memiliki bulu-bulu halus di wajahnya. Sekelas pangeran Turki gitu yang besar tinggi,'' ceplos Alina sambil menyelipkan canda tawa


''Berarti adik ku Fajar bukan tipe mu dong, secara tubuhnya tidak kekar. Ia Indonesia tulen, terus ia pun tidak mempunyai bulu-bulu halus menghiasi wajahnya. Akan tetapi Fajar mirip lho dengan ustadz Hadi Hidayat, semoga saja nanti ia benar-benar bisa meniru sosok beliau,'' ujar Nur Syifa mendo'akan yang terbaik untuk adiknya.


''Aamiin,'' ujar Alina tidak ingin banyak komentar mengenai Fajar.


''Menyimpan namanya di hati, itu lebih baik daripada harus berkata jujur tentang perasaanku. Aku tak ingin ada yang tahu akan perasaan ini. Aku tidak mungkin menjadikan seorang bronis menjadi calon imamku, apa kata dunia?'' Alina membatin dalam hati.


''Kok melamun? sudah, tidak usah dipikirkan! aku hanya bercanda, dan tidak usah pula diambil hati. Jika kau memang tidak menyukai adikku, aku tidak akan memaksa. Kita akan tetap berteman, ayo kita mencicipi sarapan dari ummiku,'' ujar Nur Syifa sambil menarik lengan Alina dan duduk lesehan di lantai sambil menikmati hidangan yang telah diantarkan oleh Fajar untuk mereka.


Alina pun menikmati sarapan tersebut dengan lahapnya, ''Opor ayam buatan ummi Zainab enak sekali, aku jadi teringat dengan ibuku yang ada di kampung,'' ujar Alina dengan merindukan sosok ibunya.


''Kau tidak menghubungi ibumu, Alina?'' tanya Nur Syifa di sela-sela menyuapi makanan kemulutnya.


''InsyaAllah, sebelum mengasuh anak PAUD nanti aku akan hubungi ayah dan ibu di kampung,'' ujar Alina dengan meneteskan air matanya.

__ADS_1


''Kamu jangan bersedih ya? aku di sini akan selalu ada untukmu, aku dan keluargaku sudah menganggapmu seperti saudara sendiri, jadi jangan pernah merasa kesepian.'' Nur Syifa tampak menenangkan Alina, mereka pun mengakhiri sarapannya.


Keduanya berbagi tugas untuk membersihkan dapur dan ruangan sebelum menerima kedatangan anak-anak PAUD pada pukul 07.00 pagi.


Tidak butuh waktu lama mereka pun menyelesaikan tugasnya masing-masing, Alina membersihkan tubuhnya sebelum menjalani aktivitas hari ini. Sedangkan, Nur Syifa pulang ke rumah sebentar untuk mengambil pakaiannya, sebab semalaman ia menemani Alina tidur di rumah penitipan itu, ia tidak membawa pakaian khusus semalam untuk bersalin hari ini.


''Kak Syifa, bagaimana keadaan Alina? apa semalam ia baik-baik saja?'' tanya Fajar ketika mendapati Nur Syifa baru memijakkan kaki masuk ke dalam rumah.


''Bukankah pagi tadi kau baru bertemu dengannya? kenapa masih bertanya lagi? hubungi langsung orangnya, kamu sudah menyimpan nomor ponsel Alina bukan?'' ujar Nur Syifa, ia hanya ingin Fajar mandiri dan tidak bergantung padanya dalam merebut hati Alina.


''Iya, Fajar tahu kak. Tapi, Fajar ingin mengetahui langsung dari lisan kakak. Tolong bantu Fajar untuk mendekati Alina.'' Fajar setengah memelas.


''Jika masalah hati kakak tidak bisa memaksakan, kau harus berjuang sendiri untuk mendapatkan Alina. Kau harus berjuang lebih keras lagi, Alina tidak mudah untuk dilumpuhkan. Jadi, selamat berjuang adikku!'' ujar Nur Syifa dengan menjauh pergi dari hadapan Fajar dan segera menemui kedua orang tuanya.


''Anak ummi dan Abi, kerja yang semangat ya? salam untuk mbak Diah dan juga Alina. Jika ada apa-apa dengan Alina, jangan lupa beritahukan ummi dan Abi!'' ujar ummi Zainab sambil mengusap pucuk kepala putri angkatnya.


''Iya ummah,'' ujar Nur Syifa tunduk patuh pada kedua orang tua yang telah membesarkannya. Ia pun kembali ke penitipan PAUD tempat di mana ia akan bekerja.


Di sana Alina telah menyelesaikan ritual mandinya, ia pun mengenakan jubah syar'i marun berpadu dengan jilbabnya. Alina terlihat anggun dan religius. Gadis itu sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan anak-anak asuh yang akan mereka jaga hari ini.


Alina menelpon ibunya di kampung, sebelum memulai pekerjaan hari ini. ''Assalamu'alaikum, Nak. Ibu sangat merindukanmu, apa kabarmu di sana? bagaimana pekerjaannya? apakah berjalan dengan lancar?'' serentetan pertanyaan yang di rudungkan oleh ibu Chintya pada anak bungsunya.

__ADS_1


''Wa'alaikumsalam warahmatullah, ibu. Alina pun merindukan ibu dan ayah, Alina baik-baik saja, pekerjaan pun berjalan dengan lancar. Alina bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak PAUD di sini, mereka semuanya lucu dan menggemaskan ibu. Sebentar lagi Alinaakan segera menyambut kedatangan tangan-tangan mungil itu, do'akan Alina agar betah mengasuh di sini, ibu!'' ujar Alina penuh harap.


''Ibu akan selalu mendo'akanmu nak, di manapun dirimu berada?'' ujar ibu Chintya penuh dengan ketulusan.


''Terima kasih ibu, Alina yakin do'a seorang ibu akan menembus langit,'' ujar Alina penuh dengan keyakinan, ridho orang tua ridhonya Allah juga, begitu keyakinan dari hati Alina.


''Ayah kemana, Bu?'' tanya Alina sebab dari tadi dia tidak mendengar suara ayahnya.


''Ayah sudah sejak tadi pergi ke perkebunan, meninjau pekerjaan para pekerjanya,'' ujar ibu Chintya dari seberang telepon.


''Oh, baiklah bu. Alina tutup dulu teleponnya ya bu? sepertinya di luar sudah ada orang tua yang mengantarkan anaknya kemari,'' ujar Alina dengan mengakhiri percakapannya.


''Baiklah nak, jaga dirimu baik-baik di rantau orang. Jika ada apa-apa hubungi ayah dan ibu di sini, insya Allah ... jika ada waktu luang kami akan mengunjungimu di sana. Untuksaat ini masih ada kesibukan yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditinggalkan, ibu akan selalu do'akan yang terbaik untukmu nak!'' ibu Chintya mengulangi kalimatnya.


''Baiklah, ibu. Alina akan selalu merindukan ibu dan ayah,'' ujar Alina dengan menahan air matanya agar tidak jatuh.


''Iya Nak,'' ibu Chintya nampak sedih ketika percakapan itu terakhiri.


Alina pun segera berlari keluar rumah, membuka pagar paud penitipan untuk menyambut kedatangan para anak asuhnya.


''Kauuu,'' seru Alina ketika mendapati wajah seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan menggendong anak bayi yang baru berumur 2 bulan.

__ADS_1


Laki-laki itu pun terkejut mendapati wajah Alina, gadis yang dirindukannya selama 5 tahun terakhir ini hadir di hadapannya dengan sejuta pesona yang sangat memikat.


''Abi, apakah sudah selesai menitipkan bayi kita? ummi sudah terlambat 5 menit,'' ujar istri laki-laki itu dari dalam mobil. Membuat hati Alina semakin teriris sembilu melihat kenyataan yang ada di hadapannya.


__ADS_2