Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 93. Tidak Ada Akar Rotan Pun Jadi


__ADS_3

"Iya, Ummi. Muzzaki sudah mengantarkan Alina sampai tujuan. Muzzaki akan kembali menemui Ummi dan Annisa," terang Ansori yang merasa tak nyaman dengan sikap umminya yang sangat kentara tidak merestui hubungannya dengan Alina.


"Aku turun dulu, Kak!" timpal Alina dengan menenteng nasi kotak yang telah diberikan oleh Muzzaki Ansori padanya.


"Tunggu dulu! biar kakak antarkan sampai halte Bis," cegah Ansori.


Namun, Alina tetap melangkahkan kakinya untuk pergi. "Tidak perlu repot-repot, Kak. Aku bukan dia!" tegas Alina yang merasa tersisihkan, oleh sebab Ummi Ansori begitu kentara tidak menyukainya. Selain itu, Ummi Ansori begitu kekeuh untuk menjodohkan Ansori dan Annisa. Calon menantu pilihannya.


"Alina, hati-hati! jika sudah sampai di rumah kabari kakak!" ucap Ansori penuh harap.


Alina pun menoleh. "InsyaAllah, Kak!" ucap Alina dengan mempercepat jalannya.


Ansori menatap kepergian Alina yang semakin menjauh dari pandangannya. Setelah gadis anggun itu tak terlihat lagi, barulah Ansori melajukan motornya kembali ke kampus xx menemui Umminya dan juga Annisa.


Alina terus melangkahkan kakinya menuju halte Bis. Ia pun menyebrangi jalan raya dan memilih duduk di bangku yang memang sudah disediakan khusus untuk para penumpang yang hendak menunggu Bis jurusan tempat tinggal mereka.


"Gerah juga." Alina pun membuka air mineral yang masih tersimpan rapi di tas punggungnya. Ia pun meneguk air tersebut untuk menghilangkan rasa dahaganya.


Alina tidak menyadari jika dari seberang jalan ada seorang pemuda yang menatapnya penuh arti. Pemuda tersebut nampak menikmati secangkir kopi di warkop yang tak jauh dari halte Bis.


"Alina, diakah itu? aku sudah lama tidak bertemu dengannya, ia terlihat modis dan cantik sekali!" bathin seorang pemuda yang tak lain adalah Guntara Arjuna Winata. Pemuda yang tempo hari pernah membantu Alina berobat di gubuk milik Mbah Rohimah bersama Reno kala itu. Namun, setelah itu ia tidak pernah lagi berjumpa dengan Alina.


Guntara pun segera beranjak menemui Alina yang sedang duduk bersila di halte. Ia nampak terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari sosok Alina Cahya Kirani.


Gadis itu benar-benar penuh dengan misteri. Aura wajahnya tampak memancarkan cahaya seperti rembulan yang bersinar terang di malam hari." Guntara nampak terpikat oleh pesona Alina.


"Sumpah demi apa pun aku harus bisa merebut hati Alina. Dia harus menjadi milikku!" batin Guntara yang entah kenapa tiba-tiba langsung terpikat dengan Alina. Perasaannya seolah-olah di aduk-aduk untuk bisa meraih gadis ayu tersebut.


Guntara mendaratkan bokongnya di samping Alina, "Ice cream untukmu cantik!" sapa Guntara dengan bermodalkan satu cup ice cream dengan campuran coklat vanila, yang membuat netra Alina membola sempurna.

__ADS_1


"Kak Gun, kakak disini?" tanya Alina dengan menengok kekiri dan kekanan, dirinya sangat terkejut dengan kehadiran Guntara yang tiba-tiba ada di sampingnya.


"Iya, ini ice cream untuk mu!" ucap Guntara setengah merayu.


"Boleh, terima kasih!" Alina pun mengambil alih ice cream tersebut dan segera menyesapnya. Ia merasa sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh Guntara.


Tidak butuh waktu lama, ice cream tersebut pun tandas di makan oleh Alina. Setidaknya hati Alina terasa lebih tenang, setelah sebelumnya ia mendengar kenyataan pahit jika Muzzaki Ansori telah dijodohkan dengan sosok wanita sholiha sekelas Annisa Nur Fadillah. Ice cream membuat hatinya terasa lebih dingin


Guntara merasa senang, sebab Alina mau menghargai pemberiannya meskipun hanya berupa ice cream.


"Hufff!" Alina menghirup nafasnya pelan, tidak bisa dipungkiri hatinya terasa sangat perih mengingat seseorang yang ia harapkan untuk menjadi imamnya kini terasa gantung di atas awan.


Harapan Alina seolah-olah amblas. Rasanya, ia tidak punya semangat lagi untuk menjalani kehidupan. Ia terlihat patah arang apalagi saat mengetahui ummi Ansori begitu kentara tidak menyukainya.


"Kau kenapa? wajah mu terlihat tak bersemangat, ada yang menyakitimu?" tanya Guntara yang seolah-olah merasakan kepedihan di hati Alina.


"Gadis ini benar-benar aneh, apa yang terjadi dengan dirinya sebenarnya?" Guntara bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Aku mau jalan-jalan ke puncak mall xx!" ucap Alina dengan menenteng nasi kotak pemberian Ansori yang belum sempat ia cicipi.


Alina hendak berjalan menuju puncak mall xx yang memiliki jarak 15 meter dari halte Bis. Ia belum berniat untuk pulang. Suasana hatinya masih semerawut, ia malas untuk kembali kerumah. Apalagi mengingat rumahnya bersebelahan dengan rumah mantan kekasih bejatnya Bagaskara Ardhana Putra. Membuat Alina semangkin malas untuk pulang.


"Aku ikut!" pinta Guntara.


"Boleh, tak ada akar rotan pun jadi!" ucap Alina keceplosan.


"Maksudnya?" Guntara balik bertanya.


"Oops, maaf kak. Tidak ada, hanya perumpamaan saja, Kak. Ayo jika ingin ikut!" Alina mengalihkan mode bicaranya. Padahal sejatinya, Alina hanya menutupi kekecewaannya terhadap Muzzaki Ansori.

__ADS_1


Guntara pun berjalan beriringan dengan Alina menuju puncak mall. Keduanya terlihat serasi.


Guntara memiliki bentuk tubuh elatis dan tinggi semampai seperti artis bollywood, sedangkan Alina memiliki tubuh gempal dan mungil. Tingginya pun hanya sebatas dada bidang Guntara. Sehingga tampaklah Guntara seperti bodyguard untuk Alina.


"Tak bisa menghabiskan waktu bersama kak An, bersama kak Guntara pun jadi. Kak Gun tak kalah kerennya. Aku sudah berusaha menjaga hatiku untuk kak An, akan tetapi apa? malah rasa sakit yang kurasakan!" gumam Alina di dalam hatinya.


Keduanya pun berjalan menuju pintu masuk mall yang terlihat besar dan luas, "Pak, aku titip barang ku disini!" ucap Tiara pada security yang menjaga di pintu masuk.


"Iya Nona." Security tersebut segera menyimpan titipan nasi kotak di rak khusus penyimpanan barang.


"Aneh, kenapa tidak di makan sekalian? gimana jika nasinya di kerubungi semut?" pikir security tersebut sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah absurd Alina.


Sementara, Alina yang sedang bad mood seolah tak peduli dengan sekitarnya. Ia ingin menumpahkan kegalauannya dengan memasuki ruangan khusus aneka game yang ada di mall lantai atas. Alina segera menaiki tangga lift dengan gerakan cepat.


"Hati-hati Alina nanti terjatuh, ini sangat berbahaya. Sepertinya dirimu sedang mengalami kegalauan, aku khawatir dengan keadaan mu!" Guntara pun segera mempercepat langkahnya menuju tangga lift menyusul Alina yang terlihat tidak baik-baik saja.


Alina seolah tak peduli dengan ocehan Guntara, dirinya yang masih dalam pengaruh energi negatif pun segera memasuki salah satu arena khusus paduan suara.


Alina duduk santai di dalam arena musik yang hanya bisa muat untuk dua orang dalam satu arena.


Alina menekan tombol yang terpampang di layar khusus dengan memilih lagu apa yang ia inginkan.


Guntara pun mengikuti Alina masuk ke dalam arena paduan suara tersebut.


"Kau juga ingin bernyanyi bersama ku? ayo kita duel!" ucap Alina yang memang tidak bisa mengontrol emosi jiwanya saat ini.


"Sepertinya, ini bukan Alina yang ku kenal santun dan lembut. Sepertinya ia sedang di kuasai makhluk yang masih bersarang di tubuhnya. Aku harus bisa mengimbanginya!" gumam Guntara di dalam hatinya.


"Ayo nikmati, waktu indah bersama ku. Kita bernyanyi bersama," ucap Alina yang mulai terganggu dan goncang jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2