
Alina masih tetap memejamkan matanya, setelah berperang melawan rasa sakit secara mistis yang menghujam jantung hatinya.
Fajar terlihat kebingungan, ia yang masih awwam sama sekali tidak memahami tentang penyakit Alina secara non medis.
Anak-anak yang belajar mengaji pun mengerubungi Alina yang pingsan tak sadarkan diri. Mereka semua merasa kaget dan khawatir dengan keadaan Alina yang tiba-tiba mengelukan rasa sakit dan tak sadarkan diri.
Abi Sofyan yang mengetahui keanehan dalam diri Alina pun bergegas membacakan air ruqyah di satu cup air mineral yang ada di Mesjid itu, ia pun membacakan ayat-ayat ruqyah khusus menangkal gangguan yang terjadi pada diri Alina.
''Minumkan ini kepada nak Alina!'' titah Abi Sofyan dengan penuh keyakinan pada Fajar anaknya, ia berharap atas pertolongan dan izin Allah, Alina dapat sadarkan diri.
Fajarpun memberikan sedikit demi sedikit air tersebut ke mulut Alina yang masih dalam keadaan terpejam.
''Apa yang terjadi dengan Alina, Bi?'' tanya Nur Syifa yang baru saja keluar dari dalam toilet setelah membuang hajatnya.
''Ia tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri, tolong usapkan air ruqyah tersebut diwajah Alina. Jangan sampai adik mu Fajar yang menyentuhnya kecuali dalam keadaan darurat, sebab mereka bukan mahram!'' titah Abi Sofyan pada Nur Syifa yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
''Baik, Bi!''
Nur Syifa pun segera mengusap air ruqyah tersebut pada wajah Alina. Sehingga secara perlahan Alina mulai siuman, akan tetapi kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
''Mas Bagasss,'' racau Alina sambil memegang kepalanya yang masih sakit.
Alina tiba-tiba memanggil nama Bagaskara Ardhana Putra dalam keadaan setengah sadarnya.
''Bagaskara Ardhana Putra, dia siapa?'' batin Fajar bertanya-tanya dalam hatinya.
Begitupun dengan Abi Sofyan, Nur Syifa juga para santri lainnya mereka tampak kaget dengan apa yang terjadi dengan Alina yang tiba meracau memanggil nama seseorang yang nampak asing terdengar di telinga mereka.
__ADS_1
Perlahan Alina mengerjapkan netranya, Alina melihat sekelilingnya, ''Apa yang terjadi pada ku?'' Alina nampak masih terlihat pusing akibat serangan mendadak yang ditujukan Bagaskara padanya.
''Kamu tiba-tiba histeris dan tak sadarkan diri,'' terang Fajar yang tak tega melihat wajah Alina yang terlihat pucat pasi.
''Iya Nak, sepertinya telah terjadi sesuatu hal yang mistis pada mu. Nanti setelah kembali dari mengajar anak-anak mengaji mampir dulu ke rumah Abi,'' titah Abi Sofyan dengan nada lembut namun menyiratkan seribu misteri yang belum terpecahkan.
Alina mengangguk lemah sambil mengumpulkan kesadarannya yang belum sempurna.
''Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alina? aku harus mengecek kebenarannya. Kenapa ia tiba-tiba histeris dan langsung tak sadarkan diri?'' batin Fajar bertanya-tanya.
''Sehubungan salah satu ustadzah kita sedang mengalami sakit untuk proses belajar mengajar malam ini kita akhiri dulu, dan insya Allah kita lanjutkan besok malam,'' instruksi Abi Sofyan kepada para santrinya.
Para santri pun satu persatu beranjak pergi meninggalkan masjid Baiturrahman tempat mereka menimbah ilmu.
Sementara, Alina yang masih dalam keadaan lemah terpaksa harus berboncengan dengan Fajar menggunakan sepeda motor. Alina berada di tengah-tengah dan di belakangnya ada Nur Syifa yang menahannya.
Hanya memakan waktu 5 menit saja, mereka sudah sampai di kediaman keluarga Fajar. Tak lupa mereka mengucapkan salam kepada penghuni rumah.
Ummi Zainab pun segera membuka pintu depan, ia nampak kaget ketika melihat putra dan putrinya berboncengan dengan Alina bertiga.
''Brukkkk!' Alina kembali tumbang ketika hendak melangkahkan kakinya ke dalam rumah keluarga Fajar.
''Alinaaa!'' pekik Ummi Zainab, Nur Syifa dan juga Fajar yang sedang memarkirkan motornya di pintu gerbang rumah mereka.
Fajar berlari secepatnya menghampiri Alina yang sedang pingsan tak sadarkan diri, ia begitu sangat kekhawatir melihat gadis pujaannya kembali ambruk di lantai.
''Biar Fajar yang mengangkat Alina Umm, kak Syifa?''
__ADS_1
Fajar meminta izin kepada Umminya dan juga kakaknya, sebelum dirinya mengangkat tubuh Alina masuk ke dalam rumahnya.
Fajar menggendong tubuh Alina ala bridal, dirinya benar-benar tidak rela melihat Alina yang sudah dua kali mengalami tak sadarkan diri malam ini.
Fajar meletakkan tubuh Alina di kursi sofa, raut wajahnya menyorotkan kesedihan yang teramat dalam. Ini pertama kalinya Fajar alami dalam hidupnya, baru dengan Alina dirinya merasakan bahwa seorang wanita begitu berharga dalam hidupnya setelah bidadari tak bersayapnya.
''Alina, bangun! maafkan aku yang lalai dalam memperhatikan mu, kamu harus kuat dan bertahan ya? ada aku disini untukmu, lukamu deritaku!'' ucap Fajar dengan meneteskan air mata kesedihannya ketika melihat Alina terbaring lemah.
Ummi Zainab dan Nur Syifa yang sedang berkutat di dapur menyediakan keperluan khusus untuk Alina pun tidak mendengar gumaman sang Fajar yang begitu khawatir tentang keadaan Alina. Pengungkapan Fajar yang spontan itu terdengar jelas di telinga Alina yang masih terpejam, antara ada dan tiada Alina merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, kedua kelopak matanya entah kenapa sangat sulit untuk terbuka.
''Ya Allah, apa yang terjadi pada ku sebenarnya? kenapa aku kembali merasakan serangan mendadak seolah-olah kekuatan mistis kembali menyerang ku? mungkinkah Mas Bagas kembali memantra-mantraiku, ia benar-benar keterlaluan,'' batin Alina yang masih belum bisa bangkit dari pembaringannya.
Tubuh Alina terasa lemah dan tak berdaya, ia benar-benar kehilangan tenaga. Kepalanya pun terasa berat dan pusing. Ia sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak ada kekuatan untuk dirinya berucap kata, dirinya merasa ada yang menguasai dirinya sehingga terlihat beku.
''Alina, bangun! Aku di sini untuk mu. Kau harus tahu bahwa sejak pertama melihat mu aku sudah jatuh hati pada mu. Aku rela meninggalkan dunia gemerlap ku demi dirimu. Jika kau sakit dan terluka sungguh aku pun merasakan itu semua. Ku mohon buka mata mu!'' ucap Fajar sambil menggenggam dan mengecup lembut jemari tangan Alina.
Fajar benar-benar tidak bisa melihat Alina dalam keadaan tersiksa oleh penyakit yang diderita oleh gadis yang sangat dicintai olehnya.
''Fajar, ia mengecup jemari tangan ku? benarkah apa yang ku dengar jika ia menaruh simpati pada ku? oh Tuhan jangan sampai itu terjadi, sungguh aku hanya menganggapnya seorang adik. Aku tidak ingin menyeretnya dalam masalah ku, tidak akan ada laki-laki yang mampu mendekati dan bertahan dengan ku dengan segala keanehan dan rasa sakit yang telah lama ku derita. Setara ustadz pun tidak mampu bertahan dengan ku, apalagi ia yang baru saja hendak belajar. Aku khawatir Mas Bagas akan mengganggunya jika ia nekad bertahan dengan ku, jika keadaan ku sudah lebih baik aku harus menjelaskan pada Fajar dan juga keluarganya jika aku mengalami gangguan mistis karena sihir dan guna-guna, semoga saja mereka dapat memahami keadaan ku.''
Dalam keadaan terpejam Alina masih bisa merasakan dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
''Alina, aku mengkhawatirkan mu. Aku akan menjaga mu di setiap waktu ku,'' ucap Fajar dengan terus menggenggam erat jemari tangan Alina.
''Nak Fajar, apa yang kau lakukan pada Alina?'' pekik Ummi Zainab yang baru saja datang dari arah dapur menyediakan kebutuhan khusus Alina yang belum sadarkan diri.
Ummi Zainab nampak histeris melihat putranya menggenggam erat jemari tangan Alina seperti seorang kekasih.
__ADS_1