
Alina enggan menatap wajah Bagaskara yang hampir nekad ingin merampas ciumannya dengan paksa. Namun, aksi tersebut gagal setelah keberanian Alina untuk menghukum Bagaskara dengan caranya sendiri.
Bagaskara menghisap darah bekas gigitan Alina di lidahnya. "Darah bekas gigitan mu manis sekali Alina. Aku jadi ketagihan ingin menyesapnya! apa pun yang berasal dari diri mu, semuanya akan terasa sangat manis!" ucap Bagaskara yang mulai bertingkah seperti psikopat gila.
"Naudzubillahimindzalik, aku perhatikan Mas Bagaskara seperti psikopat gila atau vampire deh, suka menghisap darah. Sepertinya Mas Bagas wajib di bawah ke rumah sakit jiwa!" bathin Alina yang bergidik ngeri melihat ke anehan Bagaskara.
"Lama-lama, aku menjadi takut berhadapan dengan Mas Bagas, apalagi melihat keanehan yang ada dalam dirinya, tadi pun matanya berwarna merah menyala seperti sedang dirasuki oleh makhluk halus!" bathin Alina dengan menekan rasa takutnya.
"Aku juga tidak suka dengan cara Mas Bagas memperlakukan kak Desi semaunya. Semula aku cemburu jika Mas Bagas dekat dengan wanita lain. Namun, setelah menyaksikan sendiri kekejaman Mas Bagas terhadap kaum wanita. Aku menjadi ilfeel padanya. Aku harus menjaga jarak dengan Mas Bagas!" bathin Alina dengan merencanakan niat yang terpendam di hatinya.
"Alina, Mas sangat mencintai mu! jangan pernah berpikir untuk menjauh dari Mas!" ucap Bagaskara setengah memelas.
Alina tidak memberikan jawaban. Ia lebih tertarik untuk menggali terus informasi tentang kedekatan Bagaskara dan Desi.
"Mas, kenapa Mas dzalim terhadap kak Desi? mengapa Mas tidak jujur dari sejak mula, jika sudah ada wanita lain di hati Mas, kenapa Mas terus mengikat ku seperti ini? hati-hati Mas, karma itu berlaku! jangan suka mempermainkan hati dan perasaan wanita. Entah sudah berapa banyak wanita yang mungkin telah Mas kencani, selain Alina, kak Desi juga yang lainnya." Alina nampak tertunduk lesu. Ingin rasanya saat ini juga ia menjauhi dan meninggalkan Abang sepupunya yang tidak beradab itu.
"Karena aku tidak mencintai Desi, ia yang selalu berusaha mengejar Mas dan menganggap Mas sebagai pacarnya. Mas sih biasa saja!" kilah Bagaskara dengan menutupi kebobrokannya.
Alina tidak serta merta percaya dengan ucapan Bagaskara, apalagi ia menyaksikan langsung pertengkaran Bagaskara dan Desi di Garden Cleopatra tadi. Sangat mustahil Desi bersikap demikian jika tidak ada apa-apa antara Abang sepupunya dengan wanita malang itu.
"Semakin hari Mas Bagas semakin aneh dan menjijikkan, akan tetapi kenapa setiap kali aku ingin lepas darinya perasaan ku tiba-tiba membuncah padanya? biduk hawa nafsu ku seolah-olah di tuntun untuk menuntaskan hasrat ku padanya. Akan tetapi, ada sesuatu kekuatan yang seolah terus menjaga ku agar terus bisa menguasai diriku sendiri dari jerat nafsu yang semu. Aku yakin kekuatan yang berasal dari keimanan kepada sang pemilik kehidupan yang mampu menjaga ku dari segala bentuk kejahatan yang hendak mendera ku!" bathin Alina dengan terus merenungi kejadian demi kejadian mistis yang kerap kali menderanya akhir-akhir ini.
Setelah aksi Bagaskara menghisap habis darah di lidahnya bekas gigitan Alina, ia pun mengembangkan senyumnya. "Alina, bekas gigitan mu benar-benar terasa manis dan nikmat!" ucap Bagaskara yang mulai bertingkah seperti psikopat gila.
Alina menjaga jarak dari Bagaskara, ia khawatir Abang sepupunya itu akan melakukan hal yang nekat lagi terhadapnya.
__ADS_1
"Mas, kau sepertinya sedang tidak enak badan? tingkah mu semakin aneh, jangan coba-coba untuk menyentuh ku! atau aku akan berteriak dan membenci Mas untuk selamanya!" ancam Alina dengan tubuh yang gemetaran.
"Jangan takut, Alina! Mas masih waras, Mas tidak akan menyakiti mu. Kemarilah!" ucap Bagaskara dengan menarik tubuh Alina untuk duduk di dekatnya. Alina yang terlihat ketakutan terpaksa menuruti keinginan Bagaskara.
Dan benar saja, Bagaskara sudah sedikit tenang setelah Alina menuruti keinginannya. Bagaskara pun membaringkan tubuhnya di pangkuan Alina, ia pun memejamkan matanya. Bagaskara pun terlelap di tengah-tengah derasnya hujan yang sejak tadi terus membasahi bumi, tempat di mana kini sepasang anak manusia itu sedang berpijak.
"Mas Bagas, ia terlelap!" bathin Alina dengan mencoba menyentuh wajah Bagaskara yang sudah satu tahun terakhir ini menjadi pacarnya.
"Mas, kenapa dirimu masih saja mempertahankan hubungan kita? sungguh, aku benar-benar ingin lepas dari jerat mu. Aku tak ingin terus menderita seperti ini!" ucap Alina pelan. Air matanya pun kembali menetes tanpa bisa untuk dicegah.
"Sudah jelas-jelas dirimu mendua, kenapa aku masih tetap bertahan dengan mu? apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku? sudah berulang kali aku ingin mengakhiri hubungan ini. Namun, untuk kesekian kali pula aku masih terperangkap dengan jeratmu!" Alina mengusap air matanya. Ia yang tidak menyadari jika dirinya terkena ajian pelet cinta Bagaskara, seolah seperti manusia bodoh yang bertekuk lutut pada pria yang memiliki kepribadian ganda itu. Yang terkadang lembut, terkadang baik. Tak jarang berubah menjadi manusia kejam yang tak berperasaan.
Predikat Ustadz yang di sandang oleh Bagaskara yang kerap kali mengajari para santri mengaji setiap hari, itu benar-benar hanya menjadi kedok semata.
Alina menyeka bulir air matanya ketika ponselnya bergetar berkali-kali, ditengah derasnya rintik hujan.
📲 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi, maa syaa Allah kak Gun. Kami sekarang di Mushola Darul Iman yang tak jauh dari Garden Cleopatra.
📲"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa boleh hubungi aku. Semoga Abang sepupu mu yang kejam itu tidak menjahatimu!
📲 "iya sedang terlelap Kak. Mungkin kecapean."
📲 "Syukurlah kalau begitu, sampai berjumpa lagi! Assalamualaikum." by : Guntara
Guntara pun mengakhiri percakapannya. Ia yang jatuh hati pada pandangan pertama terhadap sosok Alina Kirani kini pun begitu mendamba bisa bersua lagi dengan Alina.
__ADS_1
"Gadis itu benar-benar menarik sekali!" bathin Guntara dengan senyum-senyum memandangi ponselnya yang baru saja ia kirimkan pesan special untuk Alina yang kini telah mencuri segenap hati dan jiwanya.
***
Di kediaman Alina.
"Adik mu mana, Nak? Ibu khawatir ia kehujanan. Semoga Mas Bagas mu amanah, dan tidak membiarkan adikmu kedinginan!" ucap ibu Chintya penuh kecemasan.
"InsyaAllah, Alina bisa menjaga diri ibu!"ucap Andara dengan memenangkan ibunya.
"Adikmu paling takut mendengar suara petir, Nak. Biasanya ia akan meringkuk di kamarnya. Atau jika tidak, ia akan memeluk ibu." Ibu Chintya tetap dengan wajah cemasnya.
"Ibu tenang ya? biar Andara hubungi Alina!" ucap Andara dengan menekan tombol hijau di ponselnya.
"Assalamu'alaikum, kamu dimana, Dek? Di sini hujan lebat."
"Wa'alaikumsalam, Kak. Alina masih berteduh di pondokan dengan Mas Bagas!" ucap Alina dengan setengah berteriak. Sebab, suara rintik hujan terdengar begitu deras di bandingkan volume suaranya.
"Ya, sudah kakak dan ibu menunggu kepulangan mu, jaga diri baik-baik!" ucap Andara dari seberang telfon.
Perbincangan dua adik kakak itu pun berakhir dengan singkatnya.
Alina yang masih terjaga ditengah derasnya hujan pun kembali mendapat pesan dari seorang pemuda yang mampu membuat detak jantungnya bergetar hebat ketika mendengar nama tersebut.
Sebuah nama yang mampu membuatnya merasa nyaman di setiap harinya, yang senantiasa memotivasi dirinya dengan kebaikan-kebaikan.
__ADS_1
"Kak Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori? Ia mengirimkan pesan untuk ku!" ucap Alina histeris.