Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 94. Menjaganya


__ADS_3

"Alina, kau tidak apa-apa?" tanya Guntara dengan meletakkan punggung tangannya di kening Alina.


"Jangan sentuh aku!" tegas Alina dengan menepis tangan Guntara yang menempel di dahinya.


Alina pun terkekeh melihat raut wajah khawatir Guntara terhadapnya. Bola mata Alina tiba-tiba berubah merah menyala seperti orang yang sedang meredam emosi.


"Astaghfirullah, aku berlindung kepada Allah dari kejahatan dan godaan syaitan yang terkutuk!" ucap Guntara dengan berusaha menahan rasa takutnya. Ia khawatir Alina mengamuk di mall karena kerasukan.


"Jangan takut, aku tidak akan memakan orang!" Alina terlihat gemulai.


Tetiba saja, rona wajah Alina kembali bercahaya. Membuat Guntara mengucek matanya berulang kali untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi.


"Ya Allah, benarkah apa yang kulihat? ia cantik sekali!" perasaan Guntara tiba-tiba berbunga-bunga. Kupu-kupu di hatinya terasa warna-warni bertebaran mengerubungi relung jiwanya.


Akan tetapi Alina tidak peduli dengan sikap Guntara yang menganggap dirinya aneh.


Alina mengambil mikrofon dan menyanyikan syair lagu yang begitu menyayat hati, membuat Guntara ikut merasakan kepedihan yang sedang dirasakan oleh Alina.


Tiga waktu berlalu


Rentang hatiku menyayat


Wajah kasih yang dulu


Hadir dalam tidur


Malamku penuh mimpi


Pertemuan tak terjamah


Sinar di ujung sana


Menerangimu

__ADS_1


Pernah kau berkata


Bila ku merindu


Bicara saja bintang kan mendengar


Maka kau kan merasakannya


Aku tahu diri


Semua takkan mungkin


Biarkan saja semua jadi kenangan yg mungkin


Takkan terlupa sampai kau menua


Biar saja


Hujan di ujung bulan


Betapa pun mencinta


Ini takkan mungkin


Alina meneteskan air mata kesedihannya mengingat percintaannya dengan Ansori yang tak kesampaian. Alina benar-benar merasakan sakit dan luka yang teramat dalam. Entah kenapa dirinya begitu mudah baper, padahal belum ada kepastian jika Ansori memilih dirinya atau Annisa Nur Fadilah sebagai pendamping hidupnya.


Akan tetapi, rasa sakit karena gangguan jin dan sihir masih melekat dalam diri Alina dan belum sembuh secara sempurna. Sehingga rasa sakit tersebut semakin mengerogoti tubuh Alina dan membuat dirinya lemah dan mati perlahan. Ia merasa dunianya seolah runtuh serta kehilangan arah dan masa depan.


"Kak An, kenapa engkau hadir dalam kehidupanku? namun akhirnya kau guris hatiku dalam luka yang tak berdarah? andai diriku tak pernah mengenalmu tentunya tak pernah kurasakan keperihan dan kepahitan ini!" batin Alina dengan deraian air mata yang mulai menganak sungai.


"Alina, kau menangis?" Guntara berusaha untuk menenangkan Alina. Ia pun refleks mengusap air mata Alina menggunakan sapu tangannya.


Sementara, Alina nampak diam mematung. Ia tidak meneruskan lagi alunan nada yang telah dinyanyikan olehnya barusan. Ia tak sanggup menahan segala kepedihan hati dan jiwanya.

__ADS_1


Alina diam membisu, seperti patung yang tak bernyawa. Terlalu berat beban yang ia rasakan saat ini.


"Ya Allah, begitu besarkah dosaku? hingga aku harus mengalami kekecewaan dan patah hati berkali-kali? sungguh aku benar-benar telah memilih dirinya untuk hidupku, akan tetapi kenapa Engkau mengujiku dengan rasa yang akhirnya tak bisa ku genggam? Jika memang tak kau izinkan dirinya bersamaku. Mengapa diriku harus bertemu dengannya?" lirih Alina didalam hatinya.


Alina seolah tak menyadari akan kehadiran Guntara di sisinya, dalam hati dan pikirannya saat ini hanyalah kenangan terindah yang pernah ia lewati bersama Muzakki Ansori. Meskipun hanya lewat jarak jauh dan sering kali berkomunikasi lewat sambungan telepon semua itu sangat bermakna untuk Alina Cahya Kirani.


Kejadian hari ini seolah-olah menamparnya, mengingatkannya bahwa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Muzzaki Ansori.


"Alina, apa yang sebenarnya terjadi padanya? kenapa iya menangis? syai'r lagu yang ia bawakan olehnya begitu melo dan menyayat hati. Siapakah gerangan yang telah membuatnya patah hati?" Guntara bertanya-tanya di dalam hatinya.


Alunan musik terus berputar di dalam arena paduan suara tersebut, seolah menemani keheningan yang tercipta antara Guntara dan Alina.


Perlahan Guntara menyandarkan kepala Alina di bahunya, gadis itu terus menangis menumpahkan air mata kesedihannya. Tak ia sadari jika kini, dirinya telah menjadikan Guntara sebagai alas untuk tempatnya bersandar.


Guntara membiarkan Alina terus meluahkan air mata kesedihannya, tanpa berani mengeluarkan untaian kata-kata satu patahpun sampai gadis manis tersebut pun tertidur lelap di pundaknya.


"Ya Allah, kasihan sekali dirimu Alina. Ingin rasanya aku jadikan diriku tempat bersandarmu mengadu segala keluh kesahmu. Jika kau berkenan menerima diriku dan rasaku, sungguh ku ingin menjadikan dirimu bidadari hatiku. Demi jiwaku dan nafasku yang ada dalam genggaman-Nya, sungguh ku ingin menjagamu dalam hidup dan matiku Alina Cahya Kirani!" batin Guntara dengan menatap lekat wajah Alina yang tertidur nyenyak seperti putri tidur.


"Iya sangat cantik dan ayu sekali, akan tetapi sungguh aku tak menyangka ujian yang menimpamu begitu bertubi-tubi setelah jarangnya kita bersua. Mungkinkah dirimu berkenan menerima ku dalam hidupmu, menjagamu dari tipuan dunia yang begitu fana ini. Sungguh, diriku tak rela melihat dirimu terus tersakiti!"


Guntara mengepalkan tinjunya, ketika mengingat begitu kejinya Bagaskara Ardhana Putra memberlakukan Alina lewat buhul-buhul gaibnya. Dan sekarang dirinya harus menyaksikan Alina harus patah hati yang kedua kalinya, entah dengan siapa pelakunya Guntara sendiri belum memahaminya. Sebab, dari sejak tadi Alina enggan bicara masalah pribadinya. Membuat Guntara semakin bertanya-tanya.


Ingin rasanya Guntara membelai wajah Alina, akan tetapi dirinya tidak punya nyali untuk menyentuh gadis yang tak berdosa itu. Melihat Alina begitu damai dalam tidurnya, sudah cukup membuat Guntara merasa senang.


"Ya Allah, aku akan menjaganya semampu dan sebisaku. Walau ku tak tahu, sampai kapan aku mampu bertahan dengannya mengingat kemelut hidup yang sedang dihadapi olehnya. Tapi, aku akan berusaha meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya dengan tulus!" Guntara terus bermonolog di dalam hatinya.


Satu jam sudah mereka berada di dalam arena paduan suara tersebut sehingga tampaklah seorang karyawati yang ada di mall itu mengetuk-ngetuk pintu arena tersebut. Karena sejak tadi Guntara dan Alina tidak juga keluar dari dalam arena, sehingga 1000 pertanyaan terbesit dari hati dan pikiran karyawati yang ditugaskan untuk menjaga arena tersebut.


"Apa ada orang di dalam? apa yang kalian lakukan disana?" seru karyawati tersebut di antara dentuman musik yang belum dimatikan oleh Alina setelah dirinya melakukan paduan suara. Sehingga menyebabkan dirinya tertidur lelap di pundak Guntara.


Merasa jika ada yang menggoyang-goyangkan arena tempatnya berada membuat Guntara mengecilkan volume suara musik yang sebelumnya begitu sangat mengganggu gendang telinga.


Guntara membuka pintu arena tersebut, sehingga tampaklah karyawati yang menjaga di sekitar arena itu mendongkakkan wajahnya ketika melihat Alina tertidur lelap.

__ADS_1


"Jangan bilang jika kalian---?" ucapan karyawati itu pun terjeda karena Guntara segera melakukan pembelaan.


"Maaf, ia adikku. Dirinya ketiduran, dan aku tidak tega untuk membangunkannya. Aku hanya menjaganya!" kilah Guntara Arjuna Winata yang tak ingin terkena masalah antara dirinya dan Alina.


__ADS_2