
Bagaskara membalikkan tubuhnya dengan posisi dirinya berada di atas tubuh Maharani dan Maharani berada di bawah kungkungannya.
"Maharani, kau sangat cantik sekali!" Bagaskara menelusuri wajah Maharani dengan deru nafas yang memburu.
Maharani yang juga terhipnotis akan pesona Bagaskara pun membiarkan Bagaskara beraktivitas di atas bibirnya.
"Kak!" ucap Maharani pelan. Ia pun ikut dalam permainan Bagaskara, ia yang semula hanya ingin mengerjai Bagaskara pun ikut terhanyut dalam permainan laki-laki dewasa tersebut. Keduanya pun saling bertukar saliva dan semakin memperdalam ciumannya, hingga nafsu keduanya pun semakin tak terkontrol.
Bagaskara pun beralih menelusuri leher jenjang Maharani dengan nafsu syaitan yang menguasai hati dan jiwa keduanya.
"Maharani, kau benar-benar telah menggoda ku!" Bagaskara semakin menggila, ia yang belum pernah menyentuh benda kenyal milik seorang wanita pun kini memberanikan diri untuk meremas dua bukit kembar itu.
"Arghhhh, jangan Kak! Ini berbahaya," racau Maharani. Mulutnya menolak, namun tubuhnya terus merespon. Hingga keduanya pun semakin menggila, meskipun masih berbalut pakaian tetap saja rasanya seperti tersengat aliran listrik yang dengan perlahan menjalar di sekujur tubuh keduanya.
Semakin Maharani mendesah, semakin Bagaskara menggila. Lupalah keduanya jika memiliki ikatan status antara guru dan murid, di dalam rumah lingkup belajar mengaji di setiap harinya.
Keduanya semakin terhanyut dalam lingkaran syaitan, ilmu sihir yang mereka pelajari justru menyeret mereka kedalam lembah hitam yang paling dalam, meruntuhkan tembok keimanan yang sekian lama tertanam kokoh di hati.
Iblis, syaitan dan bala tentaranya seakan bersuka-cita menyaksikan dua anak manusia yang belum halal untuk saling menyentuh tersebut dan kinipun untuk kesekian kalinya mereka melanggar perintah Tuhannya.
"Maharani, owh ... kau sangat memabukkan sekali!" ucap Bagaskara yang masih dalam pengaruh ajian pengasihan Maharani.
"OMG, jangan sampai kak Bagas menyentuh mahkota berharga ku!" bathin Maharani dengan berusaha melepaskan diri dari kungkungan Bagaskara.
"Jangan menolak ku sayang! kau yang telah mengundang ku kemari, hanya dirimu yang mampu menggoda ku seperti ini!" Bagaskara hendak menyusuri mahkota terlarang milik Maharani, namun pergerakan tangannya tertahan oleh lengkingan suara yang memekak telinga.
__ADS_1
"Astaghfirullah, naudzu billahi mindzalik! Kak Bagas, Maharani! kalian?" pekik Queensha Putri Fayanna dengan bermodalkan lampu center ponselnya untuk menyorot ke dua anak manusia yang sedang bergulat tersebut. Ia yang tidak sengaja mendengar ******* dari samping kamarnya pun nekat keluar melihat situasi di sekeliling kamarnya. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah Maharani. Dan jendela kamarnya pun berdekatan dengan kamar Maharani.
"Kak Putri!" Maharani nampak kaget, ia pun mendorong tubuh Bagaskara agar menjauh dari dirinya. Maharani merapikan pakaian dan kancing bajunya akibat ulah Bagaskara yang penuh nafsu terhadapnya.
Bagaskara yang semula dalam pengaruh ajian pelet Maharani pun memegang kepalanya yang sakit.
"Apa yang terjadi? Di mana aku?" tanya Bagaskara yang sempat di dera nafsu syahwat yang teramat sangat pada Maharani.
"Kalian berdua berbuat mesum di sini!" tegas Queensha Putri dengan di penuhi rasa amarah. Ia merasa jijik melihat tingkah laku kedua anak manusia yang ada di hadapannya.
"Apaaa? mesum? kau jangan mengada-ada Queensha Putri Fayanna!" kilah Bagaskara membela dirinya.
"Ini buktinya!" timpal Putri dengan memberikan bukti video mesum kedua anak manusia itu.
Bagaskara mengingat kembali awal mulanya ia menemui Maharani. Hingga terjadi hasrat terlarang di antara keduanya.
"Maaf, aku harus pergi! dan untuk kau Putri jangan mencoba untuk menyebarkan video mesum ku dengan Maharani, teman mu sendiri yang akan malu dan kau akan di cap sebagai teman yang tak setia kawan. Menyebar aib teman sendiri!" timpal Bagaskara dengan nyelonong pergi dari hadapan Putri dan Maharani.
Ibarat habis manis sepah di buang, Bagaskara mencampakkan Maharani setelah pun menghisap manisnya madu cinta.
Maharani terlihat ketakutan dan malu pada Putri, ia menundukkan pandangannya lantaran tidak sanggup menatap wajah Queensha Putri Fayanna dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Maharani, kakak tidak menyangka jika dirimu yang masih sangat belia berani-beraninya bercumbu rayu dengan laki-laki dewasa. Aku pun tak menyangka kak Bagas yang terlihat religius di mata masyarakat memiliki kebejatan yang sangat luar biasa. Ternyata ia hanya berkedok Ustadz untuk menutupi kebobrokannya. Aku merasa jijik melihatnya, lebih baik mengagumi orang yang terlihat awwam di mata masyarakat, namun memiliki akhlak yang mulia dan beradab dari pada mengagumi orang yang baik, namun di balik kesholihannya bersembunyikan kebohongan dan kemunafikan!" timpal Queensha Putri dengan rasa kecewanya.
"Untung saja aku tidak tergoda oleh rayuannya!" bathin Queensha Putri yang memang sempat di goda oleh Bagaskara untuk menjadi pacarnya.
__ADS_1
"Maharani, kenapa kau begitu mudah terpedaya olehnya? kau merusak masa depan mu sendiri. Kau akan merasa menyesal di kemudian hari nanti jika terus berbuat maksiat seperti ini. Ia kalau kak Bagas itu jodoh mu, jika tidak dirimu lah yang akan merugi. Dosa bertambah, harga diri mu pun terkoyak!" tegas Queensha Putri tanpa filter.
"Kau lihat kak Bagas berlalu pergi dari hadapan mu, tanpa memperdulikan mu. Apa kau masih tetap ingin bertahan dengannya? Di mana akal sehat mu, Maharani?" ucap Queensha Putri berapi-api.
"Asal kau tahu, kak Bagas pun sempat menggoda ku lewat chatting-nya dan mengajak kakak ketemuan di satu tempat, akan tetapi sayangnya kakak sama sekali tidak meresponnya. Jangan-jangan semua teman-teman kita digoda olehnya," timpal Putri lagi.
"Kau benar kak Putri, aku memang manusia bodoh yang mudah tergoda akal bulus Bagaskara Ardhana Putra. Kalian harus berhati-hati dengannya, kak Bagas memiliki ilmu sihir untuk menundukkan wanita, akulah korban pertamanya. Aku dan kak Bagas sudah berapa kali melakukan hal yang kotor ini, ketika itu aku sudah selesai mengaji, ia menghembuskan mantra pemikatnya pada ku. Hingga terbesit keinginan ku untuk bermesraan dengannya dan malam ini itu terjadi lagi." Maharani nampak menyesali perbuatan kotornya, namun dirinya sudah terlanjur jatuh hati dengan Bagaskara Ardhana Putra.
"Kak Putri, aku mohon kakak bisa menjaga rahasia ini! tolong jangan sebarkan video mesum yang terjadi antara diriku dan dirinya. Kak Putri benar, teman-teman kita Dela, Chika dan juga kak Alina Cahya Kirani saudara sepupu kak Bagas pun dalam pengaruh ajian pelet Bagaskara Ardhana Putra. Namun, kak Bagas selalu gagal menodai kak Alina. Kak Alina adalah perempuan yang baik dan suci, ia selalu berada dalam lindungan Allah Subhana wa ta'ala. Tidak mudah untuk meruntuhkan benteng pertahanannya. Jadi, Rani harap kak Putri tidak menyebarkan berita ini, demi menjaga nama baik kita semua!" Maharani merangkul tubuh Putri dengan deraian air mata yang membanjiri pipi mulusnya.
Queensha Putri pun balik merangkul erat tubuh Maharani, ia pun turut merasakan kepedihan yang di alami oleh sahabat kecilnya itu.
"Jadi, kak Bagas memiliki ilmu sihir? itu berarti ia bersekutu dengan syaitan!" ucap Putri dengan rasa tak percaya.
Maharani menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia pun merasa tertohok mendengar ucapan Queensha Putri, sebab ia pun tak ubahnya seperti Bagaskara, dirinya pun memiliki ilmu sihir seperti Bagaskara. Bedanya, ia hanya menggunakan ilmunya untuk balas dendam kepada Bagaskara yang telah menginjak-injak harga dirinya.
"Baiklah, kakak akan menjaga rahasia ini! kau jaga diri mu baik-baik, terkadang rasa cinta memang membutakan mata hati dan jiwa!" timpal Putri yang ikut meneteskan air matanya, sebagai seorang wanita ia merasakan harga dirinya ikut terhempas melihat temannya di perlakukan tidak senonoh oleh laki-laki bejat seperti Bagaskara Ardhana Putra.
"Terima kasih, Kak! jika tidak ada kakak aku hampir saja terhanyut oleh pesona Bagaskara dan mungkin saja mahkota ku akan terenggut!" ucap Maharani yang mulai mengumpulkan kesadarannya sebab gelora asmaranya pada sosok Bagaskara yang telah memikat hatinya.
***
"Maharani, kau berbicara dengan siapa, Nak?" ucap ibunya Maharani ketika mendengar kegaduhan di dekat kamar anaknya.
"Kau masuklah ke dalam! Tante Inggrid, ibu mu memanggil mu," timpal Putri dengan melerai pelukannya.
__ADS_1
"Baiklah, Kak!" Maharani pun memanjat jendela kamarnya, ia pun berpura-pura merapikan kamarnya. Agar ibunya tidak curiga padanya. Sedangkan Queensha Putri Fayanna bergegas masuk ke dalam rumahnya, sebab waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.