
Ustadz Habib pun mengakhiri bacaan ruqyahnya. Alina nampak terlihat tenang setelah mendengar lantunan ayat-ayat ruqyah yang di bacakan oleh ustadz Habib padanya.
Alina nampak terpesona dengan ketampanan ustadz Habib yang memang sering terkena tetesan air wudhu itu.
"Ya Allah, berapa beruntungnya jika hamba memiliki sosok imam yang sebaik dan sesempurna ustadz Habib!" batin Alina yang mulai terobsesi memiliki calon suami yang sholih,
Apalagi setelah mendengar lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang di bacakan oleh ustadz Habib benar-benar menyentuh hati dan pikirannya.
Namun, ustadz Habib menundukkan pandangannya dari wanita yang bukan mahramnya.
"Untuk terapi kesembuhan bisa juga dilakukan ruqyah mandiri. Pendengarkan murottal Al Qur'an di setiap harinya. Bisa juga drirutinkan dzikir pagi dan petang!" terang ustadz Habib.
"Kemudian, hindari berduaan dengan yang bukan mahram. Kalau bisa hindari yang namanya pacaran. Dekatkan diri pada Allah, mohon ampun padanya atas segala dosa yang pernah kita perbuat! akan lebih baik segera carikan pendamping hidup yang sholih agar diri lebih terjaga dari segala bentuk kemaksiatan." Nasehat ustadz Habib, agar Alina bisa terjaga dari segala bentuk kemudharatan yang hendak menimpanya.
"Kalau calon pendamping aku seperti ustadz Habib, aku nggak bakal menolak!" batin Alina dengan mengagumi ustadz Habib secara diam-diam.
Alina terlihat sangat bersemangat mendengarkan nasehat yang disampaikan oleh ustadz Habib. Begitupun dengan ibunya, kakaknya Andara dan Dimas kakak iparnya. Mereka juga mendengar dengan seksama setiap untaian kata yang disampaikan oleh ustadz Habib.
"Untuk membentengi diri dari gangguan makhluk tak kasat mata, laksanakanlah shalat lima waktu dan jangan sampai lalai mengerjakannya. Untuk ibadah tambahan biasakan untuk rutin membaca kitab suci Al-Qur'an setelah menunaikan ibadah shalat. Tambahkan pula ibadah shalat sunnah tahajjud, Dhuha dan sedekah. Bisa juga ditambahkan puasa sunnah Senin Kamis, lama-kelamaan pun makhluk dari sejenis jin atau setan yang bersarang di dalam tubuh kita tidak akan betah bersarang lama jika kita terus membentingi diri kita dengan ayat-ayat Allah." Ustadz habib pun terus menyampaikan nasehatnya terhadap Alina, agar Alina memiliki semangat dan motivasi dalam beribadah dan tidak terpuruk dengan keadaannya.
"Beberapa pekan kedepan, jika gangguan dalam dirimu semakin bertambah setelah ini kita akan melanjutkan ruqyah part 2. Jika memang Alina sudah siap untuk diruqyah lagi. Kemudian, bisa dibantu dengan pengobatan At thibbun Nabawi yakni obat-obat herbal alami yang telah dianjurkan nabi besar kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Salah satunya berobat dengan madu dan juga habbatussauda atau minyak zaitun, itu adalah salah satu jurus sehat ala Rasulullah!" terang ustadz Habib.
__ADS_1
"Sesungguhnya dalam habbatussauda atau jintan hitam terdapat penyembuh bagi segala penyakit kecuali kematian, begitu yang disabdakan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Jadi, insya Allah habbatussauda juga bisa mengatasi gangguan jin dan sihir jika dikonsumsi rutin setiap hari. Begitupun dengan madu dan minyak zaitun sangat baik untuk kesehatan tubuh kita."
Ustadz habib pun menyarankan hal-hal yang baik untuk pengobatan Alina, "Di manakah saya bisa mendapatkan obat tersebut ustadz?" tanya Alina.
Ustadz Habib pun memberikan sebotol madu untuk Alina, "Terimalah madu ini untuk dirimu konsumsi setiap harinya. Dan ini juga ada DVD khusus ruqyah. Rutinkan mendengar ayat-ayat ruqyah ini!" ucap Ustadz Habib dengan menyerahkan kaset DVD tersebut pada Alina.
Alina pun menerima pemberian dari ustadz Habib tersebut, "Kalau ustadznya cakep begini ruqyah puluhan kali juga aku mau!" batin Alina dengan pikiran menerawang ke mana-mana. Wajah Ustadz Habib yang terlihat tampan dan bersinar mampu mengalihkan dunia Alina yang semula rapuh kini lebih bersemangat lagi.
Dalam pikiran Alina, suatu saat nanti ia ingin memiliki calon imam yang baik seperti ustadz Habib. Seketika dirinya melupakan perasaan cintanya yang berlebihan terhadap Muzakki Ansori yang sebelumnya begitu sangat mengguncang di hatinya.
Setelah melalui serangkaian ruqyah, Alina terlihat lebih tenang dan damai. Perasaannya pun lebih terarah.
Andara yang melihat adiknya terlihat begitu mengagumi ustadz Habib pun sengaja mempertanyakan tentang istri ustadz Habib, agar adiknya tidak berharap terlalu tinggi terhadap sosok laki-laki Sholeh yang telah meruqyahnya tersebut.
"Alhamdulillah baik, beliau tadi sedang keluar bersama anak-anak!" ucap ustadz Habib dengan seutas senyuman ceria yang kini menghiasi wajahnya setelah Andara tiba-tiba menanyakan kabar anak dan istrinya.
Mendengar itu semua, Alina sedikit menyebikkan bibirnya. "Kak Andara tidak seru, ah. Menghilangkan mood aja!" batin Alina merasa tercubit. Namun, Alina bisa mengontrol dirinya baginya itu kan hanya sebatas rasa kagum tidak lebih.
"Alhamdulillah, proses ruqyahnya untuk tahap pertama sudah selesai. Sepertinya kami hendak undur diri dulu, ustadz!" Dimas mewakili semuanya untuk segera pamit.
"Iya ustadz, terima kasih untuk semuanya!" ibu Chintya ikut pamit undur diri.
__ADS_1
Mereka semuanya pun ikut berpamitan dengan ustadz Habib, Dimas hendak membayar uang terapi ruqyah untuk ustadz Habib. Namun, ustadz Habib menolaknya. Akan tetapi Dimas tidak kehabisan akal, dia pun memberikan uang dengan niat untuk shodaqoh pada pondok pesantren yang didirikan oleh ustadz Habib.
"Baiklah jika memang begitu, uang ini saya terima untuk kepentingan anak-anak pondok!" ucap ustadz Habib penuh ketulusan.
Setelah serah terima selesai, Alina dan keluarganya berpamitan meninggalkan kediaman ustadz Habib. Ustadz Habib pun melepaskan kepergian Alina dan keluarga dengan perasaan yang tenang dan bahagia sebab telah membantu sesama muslim yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan.
***
"Bagaimana perasaanmu, Dek?" tanya Andara ketika Alina terlihat ceria setelah selesai diruqyah.
"Alhamdulillah lebih baik, Kak." Wajah Alina terlihat cantik dan bercahaya.
"Alhamdulillah, jika anak ibu sudah lebih baik. Ibu berharap, Alina bisa segera sembuh dan mendapat jodoh yang baik, jodoh yang sholeh seperti ustadz Habib atau setara kakak ipar mu Dimas!" do'a ibu Chintya diaamiinkan pula oleh Andara dan Dimas.
Sedangkan Alina nampak terlihat tenang, ia tidak seperti sebelumnya yang terlihat murung dan kacau balau. Alina nampak menikmati perjalanannya setelah selesai diruqyah.
"Ibu, sepertinya setelah ini Alina ingin mencari kajian rutin seperti apa yang dilakukan oleh kak Andara. Alina ingin belajar memahami ilmu yang berkaitan dengan syari'at Islam. Jika Alina ingin jodoh Alina baik, setidaknya Alina juga harus memperbaiki diri!" ucap Alina dengan membayangkan sosok pemuda yang sholeh yang akan menjadi imamnya nanti.
"Ibu dukung niat baikmu, Nak! jika memang itu yang terbaik untukmu dan bisa menenangkan hati dan pikiran mu juga menambah wawasanmu!" ucap ibu Chintya dengan mengelus pucuk kepala putrinya.
Alina nampak ceria dan bersemangat, ia merasa senang ibunya mendukung niat baiknya.
__ADS_1
"Terima kasih ibu," ucap Alina dengan menerbit senyuman termanisnya.