Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 90. Di antara Kita Ada Dia


__ADS_3

Melihat ummi Ansori yang tidak begitu menyukainya, Alina pun sadar diri. Ia nampak tertunduk malu, meskipun ia nampak cemburu dengan Annisa yang sepertinya sangat menyukai Ansori.


Alina pun memperkenalkan dirinya pada Annisa, "Aku Alina Cahya Kirani, Kak!" ucap Alina dengan dengan berusaha menerbitkan senyumannya meskipun pada kenyataannya hatinya merasa tak nyaman. Sebab, Ummi Ansori begitu kentara menatapnya dengan rasa tidak suka.


"Saya Annisa Nur Fadilah!" Annisa pun merangkul tubuh Alina layaknya saudara sesama muslim yang memang harus dihargai dan disayanginya. Anisa pun tidak lupa menempelkan pipi kiri dan pipi kanannya pada Alina yang ia anggap sebagai seorang adik. Sebab Alina terlihat lebih muda darinya, jadi sepatutnya dia menyayanginya.


Annisa sama sekali tidak tahu jika Alina gadis yang berusia 17 tahun itu adalah teman istimewa untuk Ansori yang akan dijodohkan padanya. Ia berpikir jika Ansori dan Alina hanya sekedar teman biasa atau adik kakak. karena yang Annisa paham pahami tidak ada istilah pacaran dalam konsep ajaran Islam. Jadi, wajar saja dirinya berpikir positif jika Alina dan Ansori hanyalah sebatas sahabat yang hanya ikut mensukseskan acara wisuda Ansori di kampusnya.


"Kak Anisa lembut sekali, wajar saja jika umminya sepertinya ingin menjodohkan kak Ansor dengan kak Annisa!" batin Alina yang sadar diri akan di mana kedudukannya saat ini.


"Alina merasa jika dirinya hanyalah lumpur Hitam yang tercebur basah di dalam comberan. Sangat kotor sekali, penuh syarat kekurangan." Alina menilai dirinya sendiri yang tidak pantas untuk berdampingan dengan Ansori.


Melihat binar mata kesedihan, di wajah Alina. Ansori pun izin pada umminya, agar diberikan waktu sejenak bersama Alina. Dia ingin menghabiskan, kebersamaannya dengan wanita yang sangat dicintai olehnya itu.


"Ummi, maaf. Muzzaki hendak mengajak Alina keliling kampus dulu, ia baru pertama kali kemari!" ucap Ansori yang berharap agar Annisa tidak berharap padanya dan memahami jika dirinya sudah memiliki Alina di hatinya.


"Bagaimana dengan Anisa, Nak. Kalian jalanlah bertiga saja, ummi hendak berkumpul dengan teman-teman ummi yang lainnya dulu!" ucap ummi Ansori beralasan.


Ansori dan Alina saling memandangi satu sama lain, "Nggak apa-apa kak, ajak saja kak Annisa bersama kita!" ujar Alina yang merasa tidak nyaman dengan Annisa dan ummi Ansori.

__ADS_1


"Ta-Tapi, bagaimana dengan mu Alina? Kakak mengundang mu kemari karena ingin mengukir kebersamaan dengan mu." Ansori merasa tidak enak hati dengan Alina sebab kehadiran Annisa di sisi mereka.


"Di antara kita ada dia! mau tidak mau, suka tidak suka aku harus menerimanya dengan ikhlas hati. Aku sadar mungkin aku yang hadir diantara kalian." Alina bergumam di dalam hatinya.


"Ayo, kita kesana!" Ansori mengajak Alina dan juga Annisa untuk keliling-keliling kampus xx, tempat di mana Ansori mengenyam pendidikan.


Kedua wanita berbeda generasi itu pun berjalan beriringan mengikuti langkah Ansori, Alina berada di tengah-tengah sedangkan Ansori berada di sebelah kanannya dan Annisa berada di sebelah kirinya.


"Mari kita berfoto bersama ditugu sana, untuk dijadikan kenang-kenangan!" tunjuk Ansori yang masih mengenakan seragam wisudanya.


Ansori tersenyum penuh arti pada Alina, ia sama sekali tidak melihat pada Annisa yang sejati mencuri pandang padanya secara diam-diam.


Sejatinya, Annisa hanyalah wanita biasa yang berusaha untuk terus istiqomah dalam hijrahnya. Ia berusaha menahan segala keperihan di hatinya ketika melihat pemuda yang memang dikagumi olehnya, dari sejak mula ia membaca biodata Ansori dan juga melihat foto Ansori yang dikirimkan oleh orang tua Ansori padanya. Selain itu juga Annisa memiliki ketertarikan untuk menerima perjodohan dengan Ansori. Namun melihat kenyataan pahit yang kini ada di hadapannya, membuat dirinya merasa rapuh.


"Di antara kita ada dia! ku kira kalian hanya teman biasa, akan tetapi kenyataannya aku melihat rasa cinta dimata kalian. Maafkan aku yang hadir di antara kalian, tapi aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi rasa ku. Aku terlanjur jatuh hati pada mu Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori. Aku yakin jika dirimu adalah jodoh yang telah ditetapkan oleh Allah Subhana wa ta'ala pada ku. Kau akan datang padaku dan menjadi bagian dari hidup ku!" batin Annisa dengan berusaha menguasai perasaannya agar tidak kentara jika dirinya cemburu pada kedekatan Ansori dan Alina.


"Kak Annisa, ayo!" Alina menarik tangan Annisa agar segera berfoto bersama. Ketiganya pun mengabadikan momen kebersamaan mereka. Alina dan Annisa terlihat sangat akrab sekali membuat Ansori menjadi dilema.


"Ya Allah, sungguh hamba bingung mengartikan semua ini. Kenapa Annisa hadir dalam kehidupan ku, ketika diriku meyakinkan jika Alina adalah wanita yang kucintai? benarkah cinta yang ada di dalam hati ku ini?" Ansori terus berperang melawan perasaannya.

__ADS_1


"Annisa adalah wanita shalihah yang memang tidak di ragukan lagi kesholihannya. Sedangkan Alina, ia baru berproses menuju jalan hijrahnya? manakah sebenarnya yang terbaik untuk ku? Aku tidak ingin mengecewakan Alina. Namun, aku tidak ingin mengecewakan Annisa juga orang tua ku yang telah menjodohkan aku dengannya?" Ansori terus menimbang-nimbang perasaannya. Hingga tatapannya tak sengaja bertemu pandang dengan Annisa.


"Astaghfirullah! apa yang ku pikirkan?" Ansori pun menundukkan pandangannya.


Degup jantung Annisa pun semakin berdegup kencang, ketika dirinya menyadari jika barusan dirinya dan Ansori tidak sengaja bertemu pandang tanpa sepengetahuan Alina.


Sesi foto-foto pun selesai, ketiganya pun nampak terlihat canggung dan berperang dengan pikirannya masing-masing.


"Alina, tolong bantu kakak! tolong tarik resleting baju wisuda kakak dari arah belakang! Kakak hendak ke toilet, kalian berdua disini dulu. Habis dari sini kita mengambil nasi kotak untuk makan siang kita yang memang sudah di siapkan oleh tim panitia!" terang Ansori dengan meninggalkan Alina dan Annisa yang sama-sama merasa tidak nyaman.


Annisa merasa terabaikan ketika melihat Ansori meminta tolong Alina untuk membuka resleting baju wisudanya dari arah belakang sebab Ansori kesulitan untuk membukanya.


"Dia mengganggap diri ku apa? kenapa harus sesakit ini?" batin Annisa yang ingin sekali meneteskan air mata kesedihannya namun berusaha untuk ia tahan agar tidak jatuh.


"Kak Annisa, sebenarnya ada hubungan apa antara kak Ansori dan kak Annisa?" tanya Alina penasaran. Ia tidak ingin menjadi benalu di antara hubungan Annisa dan Ansori.


"Annisa adalah calon menantu Ummi?" ucap Ummi Ansori tiba-tiba.


Annisa yang belum sempat berkata apa-apa pun terhadap Alina sangat kaget dengan kehadiran Ummi Ansori tiba-tiba diantara mereka.

__ADS_1


"Ummi!" ucap Annisa yang merasa tidak enak hati dengan Alina.


__ADS_2