
Alina terus saja meluapkan segala isi hatinya lewat goresan penanya, pikirannya terlihat kacau dan semrawut. Kekuatan energi negatif terus menyerangnya, hingga membuatnya tiba-tiba di dera emosi yang luar biasa.
Alina tiba-tiba tidak bisa mengontrol dirinya, setelah selesai berkomunikasi dengan Ansori justru pikirannya merasa terganggu. Perasaannya seolah ditarik ulur, terkadang rasa cintanya berlebihan terkadang juga tumbuh rasa benci. Membuat Alina frustasi dengan dirinya sendiri.
"Ya Allah hamba sudah bingung dengan perasaan ini mengapa semuanya menjadi begini!" ucap Alina setengah histeris. Ia pun memukul-mukul kepalanya yang sakit dengan kedua tangannya. Alina tiba-tiba mengamuk di kamarnya seperti orang yang sedang kesurupan.
"Tidakkkk, aku tidak ingin terus menderita seperti ini! aku ingin lepas dari jerat ini! aku benci padanya benci ... benci ... benci!" teriak AIina yang mulai tidak bisa mengontrol dirinya.
"Mas Bagas kau kejammm! kau menghancurkan masa depan hidupku!" teriak Alina dengan melemparkan barang-barang yang ada di kasurnya. Alina pun tiba-tiba membongkar lemarinya dan membuang semua baju-bajunya yang telah tersusun rapi di dalam lemari. Hingga hanya dengan seperkian detik kamar yang didiami Alina saat ini sudah berantakan seperti kapal pecah.
"Adek, apa yang terjadi dengan mu?" seru Andara yang baru datang dari kota P bersama suaminya Dimas Sidqi Amrulloh.
Ketika suasana rumah tampak sepi dan seolah-olah tidak berpenghuni, Andara Albiya Finazani dan suaminya Dimas langsung masuk ke dalam rumah karena tidak ada yang menjawab salamnya.
Namun, indera pendengaran mereka tiba-tiba menangkap suara rintihan pilu dan akhirnya lama-kelamaan terdengar suara mengamuk-mengamuk dari arah kamar Alina adiknya membuat Andara mempercepat langkahnya untuk menemui adik semata wayangnya. Ia pun menerobos masuk ke kamar Alina yang sedang meluapkan emosinya dengan memporak-porandakan kamar miliknya sendiri.
Alina terus saja mengamuk dan menangis sejadi-jadinya, kedatangan kakaknya seolah-olah tidak dihiraukannya. Ia benar-benar sudah seperti orang yang kesetanan.
"Ya Allah, Dek. Kenapa kamarnya berantakan seperti ini!" ucap Andara histeris. Pasalnya Andara tidak ingin melihat sesuatu yang tampak acak-acakan di matanya selama kehamilan anak pertamanya. Namun melihat adiknya yang sedang mengamuk Andara pun berusaha untuk sabar melihat pemandangan yang semrawut di hadapannya.
__ADS_1
"Kakak!" Alina memeluk erat tubuh Andara.
"Kau kenapa, Dek?" Andara mengelus lembut pucuk kepala Alina.
"Alina tidak kuat lagi kak menanggung semua rasa sakit ini!" ucap Alina meratapi kedukaannya.
"Ya Allah, Dek. Sepertinya kau memang harus segera di ruqyah, gangguan di tubuhmu semakin menjadi-jadi!" ucap Andara yang tidak sampai hati melihat adiknya yang terus meringis kesakitan lahir batinnya.
Dimas yang mendengar raungan Alina pun ikut masuk ke dalam kamar adik iparnya tersebut. Sebab ia khawatir akan terjadi apa-apa dengan istrinya yang sedang hamil muda ketika menghadapi adik ipar yang sedang mengamuk.
"Dek, ada apa dengan Alina?" tanya Dimas pada istrinya.
"Alina terkena gangguan, Kak!" ucap Andara dengan penuh kecemasan.
"Pergi kau dari kamarku! aku tidak sudi melihat wajahmu!" pekik Alina yang tiba-tiba histeris. Ia merasa benci melihat wajah Dimas yang kini ada di hadapannya.
"Kakak pinjam sarung tanganmu, Dek!" ucap Dimas dengan dengan memakai sarung tangan milik Andara istrinya. Dimas pun mulai membacakan surah Al-Fatihah, Al-baqarah, Al-falaq, Al ikhlas dan An-nas.
Dimas meletakkan tangannya di atas pucuk kepala Alina dengan beralasan sarung tangan. Sebab dirinya tidak ingin bersentuhan langsung dengan adik iparnya tersebut. Dimas terus melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan niat meruqyah adik iparnya tersebut.
__ADS_1
"Hahaha, dasar ustadz munafik! Kau menyukaiku kan dari sejak mula kita berjumpa! kau sangat tampan sekali, sayangnya aku tidak tertarik denganmu!" cerocos Alina dengan gelak tawanya ketika diperdengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an di telinganya oleh kakak iparnya Dimas Sidqi Amrulloh.
Alina yang tidak sadar akan dirinya pun berbicara sembarangan dari lisannya. Namun, tidak menyurutkan Dimas untuk terus melantunkan ayat-ayat ruqyah tersebut ditelinga Alina kendatipun wajah Dimas sudah merah padam akibat omongan Alina yang ngelantur. Meskipun sebenarnya dari sejak awal berjumpa Dimas memang menyukai Alina, namun ia menyadari bahwa dirinya telah meminang Andara untuk menjadi istrinya jadi sebisa mungkin ia memendam perasaannya terhadap adik iparnya itu. Baginya itu adalah ujian hati yang harus di lewatinya menjelang pernikahannya.
Alina terus mengerang kesakitan akibat kepanasan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Dimas kakak iparnya.
"Sakittttt!" ucap Alina histeris. Ia pun pingsan tak sadarkan diri, sebab dirinya belum siap untuk di ruqyah sehingga kekuatan energi negatif di dalam tubuhnya saling berperang melawan energi positif yang dilantunkan oleh Dimas Sidqi Amrulloh kakak iparnya.
"Hentikan Kak! Alina pingsan, sepertinya ia kepanasan. Kekuatan energi negatif tersebut begitu kuat menyerangnya!" timpal Andara yang tak sampai hati melihat kesakitan yang dirasakan oleh adiknya.
Dimas pun mengusap-ngusap kepala Alina dengan telapak tangannya yang tertutup sarung tangan sambil membacakan ayat-ayat ruqyah penenang agar Alina tidak terus merintih kesakitan.
"Sepertinya Alina memang sudah terkena gangguan yang sangat berat. Ia harus di ruqyah oleh orang yang memang ahli di dalam bidangnya. Setidaknya lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang kakak bacakan ini bisa menjadi penenang untuknya guna melawan kekuatan energi negatif yang ada dalam dirinya. Insya Allah sebentar lagi Alina akan sadar, kau jangan khawatir!" ujar Dimas dengan menenangkan istrinya Andara yang terlihat ketakutan dan kepanikan ketika melihat Alina tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri setelah mengamuk-ngamuk dan berteriak histeris.
"Bukan masalah itunya, Kak. Aku hanya kepikiran dengan apa yang diucapkan Alina jika kakak dari sejak mula menyukainya!" Andara memalingkan wajahnya dari suaminya, pasalnya ia cemburu dengan ucapan Alina yang sangat mencubit hatinya tersebut.
"Dek, jangan didengarkan ucapan dari orang yang memang sedang dalam pengaruh kekuatan jin dan sihir. Biasanya orang-orang yang terkena gangguan sering berbicara sembarangan. Tubuh dan pikirannya dikuasai oleh makhluk gaib sehingga dirinya pun tidak menyadari dengan apa yang diucapkannya. Memangnya, kakak menunjukkan jika kakak menyukai Alina, tidak kan?" Dimas pun merengkuh tubuh Andara istrinya dengan penuh kasih.
"Alina, sungguh aku tidak menyangka kau akan mengucapkan kata-kata yang tabu itu. Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak gila untuk merebut hatimu. Karena aku sudah sangat bersyukur memiliki istri solehah seperti kakakmu, jadi tidak ada alasanku untuk mendua hati!" batin Dimas dengan terus mengusap punggung istrinya dengan penuh cinta. Dia tidak ingin menyakiti hati istrinya yang tengah mengandung buah hati pertama mereka.
__ADS_1
Alina mengerjapkan matanya, ia nampak kaget ketika melihat kakaknya Andara ada di dalam kamarnya bersama kakak iparnya. Ia benar-benar tidak menyadari jika dirinya tadi sedang kesurupan.
"Kak Andara, kak Dimas. Kalian di sini?" ucap Alina sambil memegang kepalanya yang masih sakit.